Sejarah Lain Villa Isola

702 336 Zulkifli Songyanan

Siapa yang tidak kenal Villa Isola?

Villa anggun dengan arsitektur art deco ini merupakan salah satu cagar budaya yang sangat fenomenal di Kota Bandung. Sejarah mencatat, villa yang dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker ini pertama kali dibangun pada Oktober 1932 dan selesai pada Maret 1933.

Melihat rentang waktu pembangunan yang tergolong singkat itu —juga membayangkan kondisi dunia yang saat itu tengah dilanda krisis global— pembangunan Villa Isola dapat disimpulkan sebagai sebuah mega-proyek yang spektakuler dan prestisius.

Sosok penting dibalik pembangunan Villa Isola tak lain adalah Dominique Willem Barrety (1890-1934). Pria flamboyan berdarah Jawa-Italia ini dikenal sebagai pengusaha surat kabar yang sukses. Karir Barrety dimulai sebagai korektor dan wartawan pada Bataviaasch Nieuwsblad. Setelah itu, ia pun menjadi redaktur Java-bode dan akhirnya —dengan uang pinjaman—mendirikan kantor berita ANETA (Algeemen Nieuws en Telegraaf Agentschap) pada 1917 di Batavia.

Pada 1933 Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda ingin menjajah wilayah lain di Asia. Atas dasar itu, Jepang membangun komunikasi dengan Barrety yang dikenal memiliki informasi dan akses luas terhadap pemerintah Hindia-Belanda. Atas kerja spionase tersebut, Barrety mendapat imbalan sekitar ƒ 500.000 (Rp 250 M). Konon, dana besar itulah yang kemudian digunakan Barrety untuk membangun Villa Isola.

Sampai saat ini umumnya orang-orang percaya bahwa Barrety membangun Villa Isola untuk tempat tinggalnya semata. Cuaca dan suasana sejuk wilayah Bandung Utara memang sangat mendukung pernyataan tersebut. Namun, secara pribadi persepsi saya terkait pandangan umum itu berubah setelah membaca catatan Winarsih Arifin dalam buku Rantau dan Renungan (Pustaka Jaya, 2000).

Rantau dan Renungan

Dalam buku yang menghimpun catatan orang-orang Indonesia di Perancis itu, Winarsih menyebutkan bahwa Villa Isola dibangun Barrety sebagai bukti cintanya kepada seorang penari bernama Ratna. Berikut petikan catatan Winarsih Arifin tersebut.

Ratna mengambil tempat khusus di hatiku. Ia dahulu penari. Kalau tidak salah ada darah Manadonya. Kemudian diperistri oleh Barrety, seorang berkebangsaan Belanda, yang turut mendirikan kantor berita Aneta. Kaya-raya. Untuk Ratna-lah ia bangun Villa Isola sebagai persembahan cintanya. Aku tidak tahu benar duduk perkaranya, tapi pada suatu ketika Ratna ikut dengan rombongan penari Ramgopal yang termasyhur dan akhirnya tiba di Paris. Ia kawin dengan Henri Cartier-Bresson yang mulai sebagai pelukis, lalu giat dalam perfilman dan akhirnya menjadi termasyhur sebagai fotografer dengan nama dunia. (Hal. 74-75)

Catatan singkat tersebut mengingatkan saya pada Taj Mahal yang dikenal sebagai monumen cinta Kaisar Mughal Shah terhadap istrinya, Mumtaz Mahal. Memang agak berlebihan menyimpulkan Villa Isola sebagai Taj Mahal-nya Indonesia. Namun, sebagai sebuah bahan cerita atau mitos lain di balik sejarah Villa Isola, pendapat Winarsih Arifin itu saya kira sangat menarik untuk disampaikan kepada masyarakat luas.

Besar harapan, pendapat tersebut mampu memantik timbulnya penelitian khusus mengenai asal-usul Villa Isola serta kehidupan pribadi Willem Barrety. Informasi mengenai hubungan Barrety dan Ratna memang sulit didapat. Barrety sendiri diketahui menikah sebanyak enam kali dan dikaruniai 3 orang anak. Ratna bisa sajamerupakan salah seorang di antara keenam istri Barrety tersebut.

Di akhir hayatnya, Barrety menjalin hubungan asmara dengan salah seorang putri Gubernur Jendral Hindia Belanda Cornelis De Jonge. Sang gubernur yang tidak merestui hubungan anaknya itu konon memerintahkan orang untuk menembak pesawat yang ditumpangi Barrety saat melintasi perbatasan Irak-Suriah. Sang Don Juan pun meninggal pada 20 Desember 1934, selang setahun setengah setelah Villa Isola selesai dibangun.

Membaca kehidupan pribadi Dominique Willem Barrety secara singkat, lantas mengaitkannya dengan sejarah Villa Isola, sulit kiranya untuk tidak menyimpulkan bahwa misteri paling menarik di antara keduanya berkisar di wilayah asmara…[]

Sumber foto: Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.