MENU

6 Mei 2017 Buku

Sedikit tentang Kartu Pos dari Banda Neira

KPDBN

Sebelum saya membaca buku kumpulan puisi Kartu Pos dari Banda Neira karya Zulkifli Songyanan, saya pikir buku ini merupakan kumpulan puisi-puisi yang bercerita tentang Banda Neira. Tapi ternyata saya salah duga. Kartu Pos dari Banda Neira merupakan salah satu judul puisi serta salah satu bagian yang ada di dalam buku ini. Buku puisi ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Masalah Personal, La Poésia Séntiméntalé, dan Kartu Pos dari Banda Neira. Judul-judul bagian dalam buku ini diambil dari puisi yang ada di dalam bagian tersebut.

Puisi-puisi di bagian pertama buku ini cenderung banyak memiliki asosiasi dengan benda-benda sekitar, seperti akuarium, tungku, kayu bakar, burung, dan lain-lain yang kalau ditilik lebih dalam lagi lebih akrab dengan suasana sepi dan asing. Puisi-puisi di bagian ini berisi tentang pertanyaan akan hidup dan kegelisahan-kegelisahan. Seperti yang terlihat di puisi “Akuarium (2)”:

—Narcissus

Apakah takdir
bagi seorang lelaki yang—
sejak melihat tujuh ikan koki
berenang ke sana ke sini—
kerap dihinggapi
perasaan asing
akan nasib
dan parasnya sendiri.

Ada kegamangan dan keraguan tentang takdir yang digambarkan oleh puisi tersebut. Bisa jadi, lelaki yang dimaksud di dalam puisi tersebut adalah Narcissus, atau malah penyair sendiri. Akan tetapi kondisi yang dirasakan sang lelaki tersebut juga dapat dirasakan oleh setiap orang yang merenungi nasibnya, merujuk kepada hidup ikan koki di dalam akuarium.

Apakah ikan-ikan koki tersebut merasa merdeka padahal mereka hidup di dalam akuarium. Tapi ikan koki toh tidak akan berontak dan memilih tempatnya tinggal, bukan? Dalam puisi “Akuarium (1)”, Songyanan sering menggunakan gaya bahasa personifikasi ketika bercerita tentang ikan-ikan di dalam akuarium dan yang menjadi pertanyaan apakah kehidupan ikan koki di dalam akuarium sama seperti kehidupan manusia?

Dan di puisi “Akuarium (2)” yang menjadi pertanyaan adalah apakah kehidupan manusia tak ubahnya kehidupan mas koki di dalam akuarium? Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup seringkali didapatkan dengan merefleksikan kehidupan manusia dengan benda-benda sekitar yang sering dijumpai sehari-hari.

Puisi di atas tidak mementingkan rima, diksinya pun jelas dan lugas—bukan dari kata-kata yang susah dimengerti oleh orang awam sehingga harus dicari artinya di KBBI—, tapi tidak berarti kehilangan makna. Puisi itu seperti gumaman yang kita ucapkan ke diri kita sendiri ketika termenung seusai merenung. Pemaknaan itu juga didapat dari tipografi puisinya. Enjambemen puisi tersebut membuat maknanya padat. Tidak perlu jeda untuk mendapatkan makna di dalam puisi tersebut karena justru dalam satu pembacaan singkat, kita dapat merasakan kegelisahan yang ada di puisi tersebut yang mungkin juga seringkali kita rasakan sebagai manusia.

Pada bagian kedua, seperti judulnya, puisi-puisinya lebih bersifat sentimental. Kata ‘cinta’ seringkali diucapkan di banyak puisi dalam bagian ini, baik itu dalam judul atau dalam tubuh puisinya sendiri. Ketika kata cinta tak muncul dalam puisi, tetap terasa nuansanya. Nuansa penuh kasih, kadang juga patah hati. Bahkan ada puisi yang terasa seperti gombalan, kita simak saja puisinya yang berjudul “Sekadar Sajak”:

Di tepi telaga yang luas dan tenang itu
Kupandangi lagi wajahmu
Betapa lebat sepasang alis matamu
Betapa hebat engkau menggetarkan hatiku. 

Matamu, bola dunia yang sesungguhnya itu
Ternyata menyimpan kenangan dan keluasan
Sebuah telaga. Sungguh segar udara yang kuhirup
Di sela embusan napasmu. Aku pun percaya
bibirmu yang sehat serta pipimu yang padat
tak kalah mempesona tinimbang tanah coklat
menumbuhkan aneka bunga 

menyusuri seluruh rahasia dan keindahan di wajahmu
hatiku sampan kecil yang sengsara
            terguncang seketika, mabuk
dalam pusaran senyumanmu yang bersahaja. 

Di dekatmu, derita hidup itu tak ada.
Bahkan saat kupandangi lagi matamu yang teduh
Aku benar-benar lupa bahwa aku sekadar
Menulis sajak, di tepi sebuah telaga.

Tidak seperti puisi pertama, dalam puisi di atas, terdapat banyak sekali metafora yang digunakan untuk menggambarkan kekasih dari tokoh Aku. Tokoh aku di dalam puisi tersebut pasti benar-benar sedang dimabuk cinta. Tak ada keraguan di sana, semuanya indah dan baik seperti dunia khayalan, makanya saya sebut puisi ini gombal. Seperti puisi yang ditulis kekasih ketika sedang masa-masa awal jatuh cinta. Metafora-metafora yang digunakan dalam puisi tersebut semua lekat dengan alam sehingga kesan yang didapat oleh pembaca kekasih itu begitu mendamaikan karena alam, bagi saya, memiliki efek yang menenangkan dan menyenangkan.

Sepertinya pada puisi tersebut, rima tidak menjadi masalah yang utama. Rima a-a-a-a hanya ada di bait pertama. Puisi di atas juga sedikit bermain dengan tipografi, yaitu di bait ketiga, larik ketiga. Larik tersebut satu-satunya larik yang dibuat menjorok ke dalam. Hal tersebut dilakukan mungkin untuk memberikan efek dramatis. Saya membayangkan, jika puisi ini dibunyikan, pada bagian tersebut tentu harus diberi jeda, dan jeda tersebutlah yang akan memberikan efek dramatis bagi penceritaan tokoh aku yang sedang mabuk cinta.

Pada bagian ketiga buku puisi ini, banyak puisi yang bercerita tentang tempat, terutama dari judul-judulnya, seperti “Kartu Pos dari Banda Neira”, “Kain Tenun dari Toraja”, “Sorban dari Banten”, dan hampir semua judul puisi di bagian ini merujuk ke nama daerah. Menurut Sapardi Djoko Damono, latar merupakan unsur kuat yang turut menentukan nuansa puisi. Nah, puisi-puisi di bagian ketiga ini menggunakan latar tempat untuk memperkuat suasana sehingga pembaca dapat lebih memaknai puisi tersebut.

Menurut saya, pada bagian ini, “Kartu Pos dari Banda Neira” bukanlah puisi paling kuat karena puisinya lebih seperti penceritaan sejarah, sepeti puisinya Zefry Al-Katiri yang berbicara tentang masa kolonial Indonesia. Dalam puisi “Kartu Pos dari Banda Neira” ini, saya tidak menangkap apa-apa selain penceritaan sejarah. Tapi mungkin penadapat saya berbeda dengan pembaca yang lain karena pemaknaan puisi toh tidak lepas dari latar belakang pembacanya, bukan? Mungkin memang saya kurang baca.

Saya justru tertarik dengan puisi “Balada Papanggungan” yang merupakan satu-satunya puisi panjang di dalam buku ini. Akan tetapi, karena terlalu panjang, jadi tidak saya kutip dalam tulisan ini. Sesuai dengan judulnya, “Balada Papanggungan” merupakan puisi naratif, puisi yang berkisah. Papanggungan merupakan sebuah daerah di Bandung, saya sendiri belum pernah ke sana, tapi pernah ke Bandung.

Saya membayangkan suasana pedesaan di Bandung, ditambah penceritaan di dalam puisi yang menambah penghayatan saya atas puisi ini. Dalam bayangan saya, tokoh Aku dalam puisi tersebut berada di sebuah perkebunan—dan mungkin juga peternakan—yang menentramkan. Tapi justru di tempat yang menentramkan tersebut tokoh Aku dalam puisi tersebut tidak tentram karena pertanyaan dalam diri yang menyangkut soal iman, soal kepercayaan yang akhirnya ia jawab pada akhir puisinya.

Saya merasa katarsis ketika sampai di larik terakhir puisi ini ketika membaca “Dan Tuhan kutemui sendirian”. Dalam larik tersebut tergambar nuansa yang sakral sekaligus mesra yang sifatnya transendental. Selain itu, tipografi dalam puisi ini juga berhasil membentuk nuansa puisi, terlebih di larik terakhir yang sudah saya sebut sebelumnya karena jeda antarkata memberikan nuansa genting dan penting ketika dibunyikan dalam kepala.

Jadi, jika dilihat secara keseluruhan, puisi-puisi Songyanan tidak begitu bermain dengan rima dan diksi. Diksi-diksinya terang dan jelas. Pembaca segera mengerti apa yang dibicarakan oleh puisi-puisi Songyanan. Puisi-puisi di dalam buku ini juga tidak terlalu bermain dengan bentuk, memang ada puisi yang sedikit bermain dengan bentuk, tapi menurut saya tidak terlalu berpengaruh dengan makna yang dikandung oleh puisi tersebut. Hanya ada satu puisi cukup panjang yang bermain dengan bentuk dan berhasil, yaitu “Balada Papanggungan”. Asosiasi-asosiasi yang digunakan Songyanan dalam puisi-puisinyalah yang memberikan makna dalam puisi-puisinya.

Puisi-puisi Songyanan merupakan puisi yang longgar, yang tidak terlalu ketat dalam penggunaan kata. Oleh karena itu, puisinya dapat dinikmati oleh pembaca tanpa perlu mengerutkan dahi. []

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>