MENU
ss

3 Nopember 2017 Buku

Sebelum Sendirian Membaca Sebelum Sendiri

Burung itu terbang rendah sendirian di pinggir tebing. Ia sebenarnya hanya lengkungan hitam, persis burung-burung di kertas gambar masa kecil kita, sebagai teman dari dua gunung dan matahari yang sedang tersenyum. Ia tertelan di antara gradasi lembut warna biru.

Burung itu mengapung di sampul buku bertuliskan Sebelum Sendiri. Buku mungil dengan tujuh puluh halaman. Tidak ada perayaan di buku ini, mungkin penulis sengaja membiarkan puisi-puisinya tumbuh menjadi remaja-remaja introver yang tidak suka keramaian, dan mereka tumbuh tanpa mengetahui wajah ibunya.

Puisi pertama berjudul Sebelum Sendiri. Ia berceloteh panjang sebanyak sembilan belas fragmen, tanpa peduli kita memahami ceracaunya atau tidak. Beberapa kali ia terbata-bata merampungkan kalimat, bait bukanlah cara untuk menuntaskan kalimat. Maka dari itu kita harus memerhatikannya dengan teliti dan perlahan.

Saat kau membacanya, barangkali ia sadar kita ada di hadapannya. Ia menyebut dirinya sebagai aku, seolah menolak kita menjelma aku dalam puisi. Sebab ia bukan Kangen-nya Rendra, si puisi pendek itu, atau Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana-nya Sapardi, di puisi-puisi itu kita dengan mudah menjadi aku sedangkan kau bisa jadi siapapun yang kita kasihi. Mari baca penggalan Sebelum Sendiri fragmen satu,

kata-kata dalam sajak ialah belantara.
pohon di mana-mana berbunga dan tidak
pernah ada yang berbuah.
 
seorang petualang ─barangkali kau
barangkali aku hilang

kau cuma bisa mereka-reka
letak angkasa dan tujuan.
juga
 
dari laut mana kau datang
berlayar

Siapa aku dan kau pada penggalan puisi di atas? Dari sinilah saya menyarankan untuk menjauhi aku, sebab sebagai pembaca, akan sulit menikmati puisi ini sebagai aku. Anggaplah fragmen satu ini sebagai kredo dalam puisi Sebelum Sendiri, aku dalam puisi hanyalah sesosok narator yang berperan sebagai subjek dalam kalimat.

Sebelum Sendiri mengaburkan semua deiksis, terutama yang bersifat persona, anonimitas ini menjaga sekaligus membebaskan interpretasi sebuah puisi. Hal ini dapat dibaca dalam fragmen lima,

banyak sekali orang di jalanan. tidak
ada manusia. di puisi cuma ada kau & mereka
yang tidak memiliki nama

Dalam beberapa fragmen seolah aku sebagai subjek berbicara secara langsung kepada kita sebagai pembaca. Ia meminta kita mengerut kening karena ceracaunya, semisal dalam fragmen tiga,

tanpa jarak puisi adalah api─
kata-kata kayu bakar semata. tapi
kau tidak perlu menyentuhnya. tapi
aku ingin mengajak kau membaca
dan berbahagia dan terbuka
dan terluka. tapi

Sebelum Sendiri lebih mirip seorang remaja peragu, satu-satunya orang yang menghancurkan pendapatnya adalah ia sendiri. Semisal ironi dalam fragmen tiga belas,

aku juga mencintai diriku─
tetapi siapa aku?
Begitupun dalam fragmen empat,

bulan itu mengapung di atap kota─
berapa banyak kesedihan siap mengajak
bercakap? aku ingin jadi banyak
tapi aku tidak pernah cukup.

Lalu bagaimana cara memahami remaja peragu ini? Seperti yang dijelaskan olehnya sendiri pada  fragmen empat, tidak ada lagi hal sederhana di bumi, kecuali mengerti: segala sesuatu terlalu rumit dipahami.

Berbeda dengan saudaranya yang bertubuh gemuk sebanyak lebih dari dua puluh halaman, Berbincang dengan Langit bertubuh lebih ramping, yaitu hanya dengan delapan halaman. Deiksis aku dan kau masih hadir, dengan bentuk yang mirip saudaranya yaitu berbincang dengan kau yang sedang membaca dirinya. Satu hal yang kita temukan dalam puisi ini, aku adalah seorang pria. Mari lihat fragmen lima,

jika kautemukan seorang pria
di jalan─menatap langit─bicara
kepada diri sendiri sambil menyebut
namamu, dia bukan aku. kau tidak
pernah ada di kota ini.
 
aku tidak pernah menulis sajak ini.
kata-kata ini tidak ada. kau bicara
kepada diri sendiri.
 
jika kautemukan orang keluar
dari minimarket, membawa tas
belanja, jangan lupa berbisik: aku
tahu kau tidak akan pernah mati.

Puisi ketiga yaitu Seorang Perempuan Mendaki Bukit jauh lebih kurus daripada dua puisi sebelumnya, hanya dengan tiga halaman dan berisi tiga fragmen. Puisi ini seolah merupakan puisi yang tidak tertarik kepada dirinya sendiri, hal ini dapat dilihat karena tidak ditemukan lagi aku seperti dua saudaranya, hanya ada kau dan dia. Dan tentu saja dia adalah seorang perempuan yang sedang mendaki bukit.

Puisi Seorang Perempuan Mendaki Bukit, adalah remaja yang gemar menyindir, meskipun terkesan sembunyi-sembunyi, entah karena malu atau tidak sanggup, apakah kau menyadarinya? Mari baca penggalan fragmen satu berikut,

dia ingin jadi hanya dan cukup. setiap
yang dia cari, setiap yang kaucuri. bicara
adalah puasa diam adalah melahap
lapar lebih besar.

Begitu juga dalam fragmen dua,
tempat tidurnya meluap jadi samudra.
dia bangun menemukan tubuhnya dermaga
terakhir yang belum dirubuhkan orang asing.
separuh mimpinya telah berubah jadi daging─
seperti sisa-sisa makanan yang kausingkirkan
dari sela gigi.

Empat saudara lainnya adalah empat remaja tanggung yang memiliki hobi sama, mendengarkan musik folk dan berkhayal. Mereka adalah Satu Haluan, Negeri Sedarah, Lengkara, dan Alkisah. Grup musik yang mereka dengarkan adalah Theory of Discoustic. Mereka mencoba berdiri sendiri dengan cara menceritakan sesuatu yang utuh, meskipun kita belum mendengar lagu yang mereka dengarkan. Namun tidak ada salahnya untuk membandingkan puisi dengan lagunya, sila baca puisi-puisi ini sambil mendengar lagu dengan judul yang sama.

Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku berjudul Sebelum Sendiri ini, merupakan keresahan-keresahan yang dapat juga kita resapi. Terlepas siapa aku, kau, dia, dan mereka. Dengan anonimitas dan konteks situasi yang kabur, kita dipaksa memahaminya dengan tekun. Namun kita harus selalu berhati-hati, puisi-puisi ini menyadari dirinya sebagai puisi dan mereka mengintip kita dari celah kata-kata saat kita membacanya. Tanpa kita sadari, terutama dalam puisi Sebelum Sendiri, ia mendikte kita bagaimana cara membaca puisi.

Puisi-puisi ini mengajak kita untuk membacanya sendirian, saya kutip puisi berjudul Sebelum Sendiri fragmen enam,

orang butuh, kata orang, lebih
sering sendiri untuk jujur.

Dan ketika kita menutup buku itu, hanya ada gradasi lembut warna biru. Burung itu tetap terbang rendah sendirian di pinggir tebing. Ia sebenarnya hanya lengkungan hitam, persis burung-burung di kertas gambar masa kecil kita, sebagai teman dari dua gunung dan matahari yang sedang tersenyum.[]

Detail Buku
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Penerbit JBS
ISBN: 978-602-61256-0-6
Cetakan: I, Maret 2017
Harga: 45.000,-

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>