Saya dan Jon

1024 695 Erwin Setia

Jon, teman sekontrakan saya yang punya kemampuan menghasilkan uang dari segala sesuatu, menasihati saya untuk tidak terlalu serius menjalani hidup. “Buat apa,” katanya sambil menyilangkan kaki di atas sofa dan mengembuskan asap rokok. “Buat apa menyeriusi sesuatu yang tidak pernah berakhir.”

Ia bisa bilang begitu karena ia bukan saya. Lagi pula, ia jenis makhluk yang jarang di dunia ini. Hanya satu dari seribu atau lima ribu orang yang sepertinya. Jadi, saya mengabaikannya dan tetap serius menjalani hidup. Berangkat ke kantor tepat waktu, kerja keras delapan jam sehari, dan minta maaf kepada atasan jika melakukan keteledoran.

Ini hari Senin. Hari yang menentukan hari-hari berikutnya.

Saya menumpangi busway. Terjebak dalam kemacetan. Membaca berita dan status-status teman dunia maya selama di perjalanan. Menyaksikan pemandangan di luar jendela yang padat dan berdebu. Kadang-kadang saya membayangkan suasana di luar jendela busway semacam simulasi padang mahsyar. Orang-orang berkerumun, kepanasan, dan bersiap menghadap tuhan untuk mengetahui timbangan amal mereka (apa bedanya tuhan dengan bos dan timbangan amal dengan performa kerja?).

Sekitar satu jam kemudian, setelah berjalan kaki puluhan meter, saya tiba di ruangan kerja. Saya menyapa rekan-rekan kerja dengan ramah dan penuh sopan santun. Apalagi jika bos saya sedang datang ke ruangan, tingkat keramahtamahan dan kesopansantunan itu harus saya perbesar lagi. Itu semacam aturan tak tertulis yang harus dipatuhi jika saya ingin cepat berkembang atau setidaknya tidak mengalami penurunan pangkat.

Bagaimanapun, kadang mematuhi aturan dunia kerja tak lebih gampang daripada mematuhi aturan agama atau negara.

Pada pukul empat sore—tidak pernah kurang, tapi sering lebih—saya akan pulang. Tubuh lelah. Pikiran penat. Harum parfum takluk oleh keringat dan polusi (bahkan ketika saya semprotkan minyak wangi banyak-banyak, keringat dan polusi masih terlalu kuat untuk dikalahkan).

Saya berjalan menuju halte terdekat. Kadang bersama teman. Lebih sering sendirian. Jika cuaca sedang cerah, segalanya menjadi lebih gampang. Adapun ketika hujan, semua menjadi di luar perhitungan. Kadang saya lupa membawa payung dan mantel dan tak punya cukup waktu untuk terus-menerus berteduh. Sesampai di rumah saya pun basah kuyup seperti kucing yang baru dimandikan.

Di rumah kontrakan, saya akan disambut oleh Jon dan beberapa ekor kucing liar yang tak berpemilik. Sebagaimana saat saya berangkat, Jon masih pula tampak santai dengan rokok dan tampang polosnya. Ia duduk menyilangkan kaki di atas sofa, menonton televisi atau video YouTube, dan kembali mencetuskan nasihatnya pada saya. “Buat apa,” katanya dengan volume suara lebih tinggi dari tadi pagi. “Buat apa menyeriusi sesuatu yang tidak pernah berakhir.”

Saya tidak pernah menanggapinya dan menganggap kata-katanya itu omong kosong belaka. Sama halnya dengan teriakan tukang parkir, omelan ibu-ibu di dalam busway, suara sumbang pengamen pinggir jalan—selalu ada tapi dengan gegas terlupakan. Sebagaimana umumnya omong kosong.

Saya membuka kulkas, menenggak sebotol minuman bersoda yang tampaknya baru dibeli Jon, membawanya, menutup pintu kulkas, dan duduk di sebelah Jon.

“Tadi aku ketemu kawan lama di Indomaret. Bercakap-cakap sebentar. Dia bilang dia sedang mencari burung murai sebagai hadiah untuk pamannya yang pencinta burung. Aku bilang aku punya teman yang menjual berbagai macam jenis murai. Kalau kau belum tahu, nama temanku itu Evan. Evan Susanto. Aku mengenalnya melalui grup Facebook. Singkat cerita, karena tak mau repot, kawan lamaku itu membeli jenis murai yang cukup mahal kepada Evan melalui aku. Lumayanlah, persenannya setara dengan upahmu beberapa hari.”

Saya mendengarkan seluruh kata-katanya. Saya memandangi televisi yang sedang menyiarkan pertandingan sepakbola yang mendadak berhenti karena pendukung salah satu tim melempar botol ke lapangan. Saya menenggak botol di genggaman saya sampai tandas.

Kemarin, Jon menemani salah seorang teman dari temannya berkeliling suatu tempat wisata di Bogor dan ia dibayar untuk itu. Hari-hari sebelumnya ia dibayar karena sebutir telur, sebuah artikel blog, sebuah kaos berlogo tim basket edisi lawas, dan masih banyak lagi.

Besok pagi, tepat pukul tujuh, saya harus berangkat kerja dan kembali memandangi Jon menyilangkan kaki di atas sofa sambil mengisap rokok dan menasihati saya untuk tidak terlalu serius menjalani hidup.

Ah, andai saja saya seorang Jon. []

Tambun Selatan-Bekasi, April 2019

Erwin Setia

Erwin Setia

lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di "Hutan Terlarang" (2018).

All stories by:Erwin Setia
Leave a Reply

Erwin Setia

Erwin Setia

lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di "Hutan Terlarang" (2018).

All stories by:Erwin Setia
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.