MENU
tamasya

26 Oktober 2017 Buku

Rindu dan Kampung Halaman

Sebuah Pengantar Diskusi Buku Tamasya Cikaracak karya Toni Lesmana

/1/
Rindu adalah akibat dari hilangnya intensitas yang bersumber pada ingatan, pada kenangan. Rindu hadir bertamu ketika intensitas kita terhadap sesuatu, berada pada tingkat paling lemah. Persoalan rindu bukan hanya soal jarak atau ruang yang tiba-tiba terasa kosong. Lebih dari itu, rindu semacam alarm. Peringatan, agar kita meninjau kembali sesuatu yang telah kehilangan intensitasnya.

Melahirkan puisi salah satu upaya untuk kembali menghadirkan intentitas itu.

Oleh karena itu, penyair, sedikit makhluk yang bisa memanifestasikan rindu pada sebuah bentuk. Puisi. Dan saya pikir, Toni Lesmana berhasil menjadikan puisi dalam kumpulan puisi Tamasya Cikaracak mewakili ekspresi tersebut secara jernih dan mewakili.

Kekasih, ingatkah kau, aku meminangmu
di puncak punggung perahu terbalik itu
di puncak gelak tawa, dan kau menjawabnya
dengan pelukan yang membuatku mabuk
semalam suntuk.
(Pinangan Tangkuban Parahu, hal. 40)

Ini bukan hanya soal kenangan, tapi juga, mungkin secara tak sadar, sebagai upaya untuk kembali pada intensitas kebahagiaan itu (lagi).

Tamasya Cikaracak terdiri dari 60 sajak. 23 sajak pada bagian pertama diberi subjudul Tamasya, sedangkan 37 pada bagian kedua dengan subjudul Cikaracak.

Pada bagian pertama, Tamasya, menjadikan latar tempat sajak-sajaknya sebagai perekam peristiwa, jembatan ingatan, atau ekspresi mendalam terhadap sebuah tempat. Dari 23 sajak, hanya 2 sajak yang tidak menggunakan nama tempat sebagai judul yaitu Tamasya (sajak pertama) dan Kampung Halaman (sajak terakhir). Hal ini juga, saya kira, untuk menunjukan bahwa sejauh-jauhnya ia mengembara ke tempat-tempat jauh, tamasya, toh akan kembali ke kampung halaman juga, ke dalam diri sendiri.

Pada akhirnya selalu kutulis nama sendiri
dari sisa-sisa huruf yang bergelimpangan
menggelepar dalam tubuh pengembaraan.
(Kampung Halaman, hal. 47)

Sementara pada bagian kedua, Cikaracak, beragam persoalan ditampilkan dalam sajak-sajaknya. Apa yang disebut di awal sebagai intensitas, menemukan bentuknya. Rindu diturunkan dalam berbagai varian; kegelisahan, cinta, eksistensi diri. Pada Cikaracak, rindu menemukan penawarnya.

Jika kata-kata
suatu hari,
pergi.

Aku tahu,
kau,
akan datang.
(Amanat, hal. 94)

/2/
Tamasya Cikaracak merupakan cara Toni Lesmana mengobati kerinduan. Dalam berbagai hal, terutama terhadap kampung halaman. Pertanyaannya kemudian, apakah penawar itu, juga obat yang sama ampuhnya terhadap saya, Anda-pembaca? Sebab Tamasya Cikaracak adalah sebuah buku dan kini bukan lagi milik Toni Lesmana seorang. Tamasya Cikaracak sekarang dan hari depan milik pembaca di seluruh dunia. Saya telah memiliki dan membacanya. Saya telah menemukan jawabannya sendiri. Anda?[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>