Ragusa Es Italia, Kedai Es Krim Legendaris di Jakarta

702 336 Zulfa Nasrulloh

Siang itu sepulang dari pentas Petualangan Ken Arok di Museum Nasional Jakarta, Minggu (31/5/2015), saya dan rombongan Mainteater Bandung mencari kedai es krim paling legendaris di Jakarta. Ide ini lahir dari si Ken Arok, Mohamad Aditya dan disepakati oleh Sahlan Bahuy selaku ketua rombongan. Adit benar-benar ingin menikmati es krim tersebut, membuat kami merasa heran, seberapa enak es krim itu dibanding es krim yang lain.

Pertanyaan itu nyaris saja tidak terjawab, saat Google Map tak mampu membawa kami ke tempat yang dituju. Mungkin karena smartphone yang digunakan Adit saat itu sering gangguan dan sopir kami bersikeras meyakinkan kalau Jalan Veteran berada di Lapang Banteng. Padahal teman kami yang lain, Wildan dengan smartphone-nya menunjukan kalau kita salah belok. Kita terdampar di jalan Pos dan orang-orang di sana tak ada yang tau tentang es krim tersebut.

Kami pun menanyakan jalan Veteran I pada seorang tukang asongan, jalan dimana kedai es krim Rogusa itu berada. Lalu tukang asongan itu menunjukan jalannya dan meminta kami memutar arah. Kami pun kembali melewati Gereja Katedral dan Mesjid Istiqlal. Boby Getih berkata pada Adit, “Sampai bolak-balik mengelilingi Istiqlal begini, ini asli harus beli es krim?” Adit pun tertawa dan menjawab, “Anggap saja tawaf Bob.” Boby kesal dan menamai Adit sebagai Adit Es Krim. Barangkali karena udara Jakarta siang itu teramat panas, dan kami sudah ingin pulang.

Sampai di jalan Veteran I, kami tak bisa masuk, karena rupanya jalan tersebut satu arah dan kami berada di arah yang berlawanan. Kami pun berkeliling lagi dan masuk lewat jalan Veteran II, lalu bertemulah kami dengan jalan Veteran I. Kami susuri setiap toko di jalan itu, dan di kejauhan nampak sebuah kedai kecil dengan pedagang sate, otak-otak, dan kue cubit di emperannya. Kedai itu nampak ramai sekali, kekecewaan kami sedari tadi berubah menjadi rasa penasaran, dan Adit tentu dengan sumringahnya berseru seperti tokoh Dora The Explorer, “Kita telah sampai!”

Saya dan Boby getih di depan kedai Ragusa Es Italia.

Saya dan Boby getih di depan kedai Ragusa Es Italia.

Kedai itu tampak kecil dari depan namun memanjang ke belakang. Tulisan Ragusa Es Italia pun terpampang di depannya. Sepanjang tembok di dalamnya terpampang banyak bingkai-bingkai foto berisi foto-foto sejarah kedai es krim, pendiri, dan beberapa sertifikat penghargaan. Saya tercengang saat melihat bingkai berisi penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kedai es krim tertua yang masih buka.

Adit langsung mengkoordinir pesanan teman-teman dan memesan. Harga es krim pun bervariasi, mulai dari Rp14.000 – Rp35.000. Toko yang buka setiap hari mulai 09.30 – 23.00 ini memiliki es krim andalan, yakni es krim spagheti. Selain bentuknya yang unik menyerupai mie, es krim itu pun cukup terjangkau, hanya Rp30.000 saja.

Ragusa Es Italia adalah kedai es krim yang berdiri sejak tahun 1932 ketika Jakarta masih dikenal dengan nama Batavia. Es krim di sini menggunakan bahan dasar susu sapi segar sehingga menghasilkan es krim dengan tekstur yang lembut dan tidak menggunakan bahan pengawet.

Potret keluarga Ragusa yang dipampang di dinding kedai.

Potret keluarga Ragusa yang dipampang di dinding kedai.

Ragusa didirikan oleh dua orang berkebangsaan Italia, Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Berawal dari ingin belajar menjahit di daerah Jakarta Pusat, mereka pun pergi ke Bandung dan bertemu dengan wanita Eropa yang memiliki peternakan sapi. Susu sapi pemberian wanita itu dimanfaatkan Luigie dan Vincenzo sebagai bahan untuk membuat es krim Italia yang ternyata banyak disukai.

Toko es krim Ragusa pertama terletak di Jalan Pos (sekarang Jalan Naripan), Bandung. Lalu usahanya berkembang, sejak tahun 1932, Luigie dan Vincenzo mulai menjual es krim mereka di Pasar Gambir. Hingga akhirnya membuka kafe di Citadelweg (sekarang Jalan Veteran I no. 10), Jakarta Pusat pada tahun 1947. Pada tahun 1970-an, Ragusa bersaudara dan Liliana pindah ke Grottaglie, Taranto, Italia dan menyerahkan pada saudaranya, Buntoro Kurniawan (Yo Boen Kong) dan istrinya Sias Mawarni (Lie Pit Yin).

Teman-teman yang datang ke Jakarta harus mampir ke kedai yang tak pernah sepi pengunjung ini. Seperti kami yang tidak menyesal, meski telah nyasar-nyasar mencari toko, sebelum menemukan toko es krim paling tua Jakarta ini. Es Krim Ragusa pun sanggup menyegarkan perjalanan kami di ibu kota yang siang hari itu sedang panas-panasnya.[]

Zulfa Nasrulloh

Zulfa Nasrulloh

Reporter dan kurator zine buruan.co. Getol menulis esai, naskah drama, dan cerpen. Masih lajang.

All stories by:Zulfa Nasrulloh
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.