Pushkin: Ingatan dan Kebanggaan Rusia

820 820 Zulkifli Songyanan

“Mereka yang mendahului Pushkin seolah-olah hanya muncul untuk melapangkan jalan baginya. Sedangkan yang datang selepasnya, hingga saat ini, selalu mengukur diri dengan ketokohannya.”

Hari pertama di Moscow, Minggu (8/12/2019), Dima Yanov mengajak saya dan Raymond Sihombing keliling kota. Bertemu pukul 14.30 di Arbat Lama, salah satu jalur pedestrian populer di kawasan pusat, kami pergi ke Nikolaskaya, jalur pedestrian lain di sekitar Kremlin.

Dima orang Rusia tulen dan Raymond sudah satu dasawarsa tinggal di Moscow. Saya berjalan paling belakang sebab barang sebentar mudah terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan besar, aneka lampu hias, patung demi patung, hingga plakat wajah para tokoh, terutama penulis, terpacak di sejumlah gedung.

“Pushkin pernah tinggal di rumah ini bersama istrinya yang jelita, Natalia Goncharova,” terang Dima, seorang poliglot yang mempelajari bahasa Indonesia secara otodidak.

Dima menyampaikan keterangan itu di Arbat Lama, di seberang patung Pushkin dan Natalia. Penjelasannya soal sang penyair kian melimpah saat kami tiba di bilangan Tvesrkaya, 2,6 kilometer kemudian.

“Ini patung Alexander Pushkin paling terkenal,” sambung Dima, menunjuk patung tinggi besar yang menghadap jalan raya.

Saya berdiri di hadapan monumen itu: sedikit memajukan kaki kiri, menyilangkan tangan kanan ke dada sedangkan tangan kiri dilipat ke pinggang belakang; berpose mengikuti gaya Alexander Sergeyevich Pushkin. Saya minta Raymond memfoto namun hasilnya tak secuil pun mirip sang pujangga. Dengan taburan bunga di sekitarnya, patung itu sungguh penuh pesona.

Kelak, dari keterangan Dr. Victor Pogadaev, Ahli Sejarah & Kebudayaan Asia Tenggara, saya tahu area yang dinamakan Taman Pushkin itu kerap jadi tempat kumpul orang-orang saat menggelar aksi-massa, serta jadi panggung terbuka pembacaan puisi ketika peringatan hari lahir sang penyair dirayakan sebagai Hari Bahasa Rusia.

“Bahasa Rusia adalah bahasa Pushkin. Dia bukan hanya penulis, tapi juga simbol kebebasan. Jika patung lain dibangun menggunakan uang negara, patung ini adalah hasil urunan masyarakat,” kata Victor.

Pushkin, lahir di Moscow pada 6 Juni 1799, menulis semua genre sastra, terutama puisi, prosa, dan naskah drama. Karya lengkapnya berjumlah 10 jilid, termasuk surat-suratnya dalam bahasa Perancis. Lazimnya bangsawan Tsar, Pushkin memang mempelajari bahasa Perancis. Hanya, dan ini yang istimewa, ia juga menyerap banyak pelajaran dari Arina Rodionovna, pengasuh masa kecilnya.

“Arina menceritakan dongeng-dongeng Rusia kepada Pushkin lewat bahasa kaum jelata,” sambung Victor. Kelak, kemampuan menulis karya sastra dalam bahasa yang dipahami orang banyak itu—keberhasilan mendemokratisasi karya sastra—membuat nama Pushkin besar bukan kepalang.

Dalam artikelnya di Majalah Dewan Sastra (terbitan Malaysia) edisi Mei 1998, Profesor Vilen Vladimirovich Sikorksy, Ketua Pusat Nusantara, menyebut Alexander Pushkin sebagai ujung pangkal sastra dan budaya modern Rusia.

Rekan sekaligus penerjemah Utuy Tatang Sontani itu beralasan, sekalipun nama-nama seperti Leo Tolstoy, Fyodor Dosteyevsky, dan Anton Chekov mungkin terdengar lebih mendunia, tapi Pushkin adalah sastrawan paling besar yang pernah lahir di negerinya.

“Mereka yang mendahului Pushkin seolah-olah hanya muncul untuk melapangkan jalan baginya. Sedangkan yang datang selepasnya, hingga saat ini, selalu mengukur diri dengan ketokohannya.”

Ingatan dan kebanggaan orang Rusia terhadap sosok Pushkin memang mudah ditemukan di mana-mana. Nama Pushkin melekat pada sebuah stasiun metro jalur ungu, juga pada sebentang jalan di sekitar stasiun itu. Ada juga Restoran Pushkin, yang pada malam hari tampak anggun dengan hiasan lampu dari ujung ke ujung; Hotel Pushkin; Teater Pushkin; serta Gereja Pushkin—istilah tidak resmi untuk menyebut Tserkov Bolshoye Vozneseniye, Gereja Kenaikan Agung. Di tempat ibadah jamaah Kristen Ortodoks itu, yang posisinya menghadap rumah besar peninggalan Maxim Gorky, Pushkin melangsungkan pernikahannya pada 1831.

“Saat upacara pernikahan digelar, konon lilin altarnya jatuh, dan seekor kucing hitam melintas. Pertanda buruk,” kata Dima, yang bertahun-tahun bekerja sebagai pemandu. Pernikahan Pushkin dengan Natalia, putri keluarga bangsawan Moscow era Nicholas I (1825-1855), berlangsung 6 tahun saja, hingga Pushkin menemui ajalnya 10 Februari 1837.

“Dia meninggal pada usia 36 tahun setelah duel pistol dengan d’Anthès, orang Perancis, yang diduga main serong dengan istrinya,” sambung Dima. Jauh sebelum bertemu d’Anthès, Pushkin memang dikenal tangkas dalam adu pistol—sebuah ikhtiar mempertaruhkan kehormatan atau memperebutkan wanita.

Museum Pushkin
Di Rusia, museum tentang Pushkin ada lima—tak termasuk museum seni rupa Eropa terbesar di Moscow: Pushkin State Museum of Fine Arts di bilangan Volkhonka.

Meski sudah bertemu Pushkin sejak hari pertama, saya baru mengunjungi Museum Sastra Pushkin, museum paling komprehensif tentang riwayat hidup dan karyanya, 1,5 bulan kemudian, tepatnya pada Selasa (21/1/2020).

Museum yang didirikan pemerintah Uni Soviet pada 1961 itu menempati sebuah rumah gedong bergaya klasisisme di kawasan Prechistenka, tepat di seberang gedung Kedutaan Luksemburg.

Sesaat setelah memasuki museum, sementara loket dan resepsionis ada di sisi kanan, pandangan langsung tertuju pada patung dada selebar kurang lebih 2 meter di seberang pintu. Itulah patung lain Pushkin dengan pose memegang pena bulu dan sebuah buku.

“Kita harus menitipkan dulu jaket di lantai bawah, barulah keliling museum,” kata Victor.

Di sebelah kiri ruang penitipan jaket terdapat toko cendera mata yang menjual buku-buku, pin, poster, baju, kalender, serta pernak-pernik lain terkait Pushkin dan kesusastraan Rusia. Kami menapaki tangga dan memasuki sesi pertama koleksi museum: sejarah keluarga Pushkin.

Pak Victor menerangkan, salah seorang leluhur Pushkin dari garis ibu, Ghanibal, berasal dari Ethiopia. Sebab itulah Pushkin yang rambutnya ikal dan kulitnya kecokelatan terkenal di bumi Afrika.“Saat bangsa Rusia berperang melawan Swedia pada era Peter I, Ghanibal adalah panglima angkatan lautnya,” sambung Victor, menunjuk lukisan perang.

Keterangan tersebut membuat saya mengerti, mengapa setelah sesi silsilah keluarga, pengunjung dihadapkan pada lukisan Peter Agung dan Ratu Ekaterina, juga sejarah berdirinya kota Petrograd alias St. Petersburg di tepi Sungai Neva.

“Peter I ingin mendapatkan akses ke Laut Baltik. Setelah mengalahkan Swedia, dibangunlah kota St. Petersburg, kota pelabuhan pertama di Rusia.”

Boleh dibilang, pengalaman berkunjung ke museum Pushkin adalah pengalaman mempelajari timeline sejarah dan perkembangan kebudayaan Rusia lewat biografi seorang sastrawan.

Pada sesi masa kecil Pushkin, misal, selain menemukan lukisan potretnya, pengunjung juga bakal melihat boneka kayu pangeran berkuda, sejumlah buku anak-anak, sepasang sepatu jerami yang dipakai kaum tani (ingat, Pushkin adalah orang ningrat), piano, serta sebatang lilin tegak di atas meja.

Victor menjelaskan, semua benda itu belum tentu milik ahli waris; benda-benda tersebut disumbangkan para kolektor untuk memberi gambaran tentang suasana zaman sepanjang kehidupan Pushkin.

“Saat Pushkin lahir, setiap bayi yang lahir langsung dicatat pihak gereja,” sambung Victor, menunjuk catatan resmi kelahiran sang penyair yang tersimpan dalam lemari kaca.

Pada 1817-1920, Pushkin belajar di Lisei, sekolah khusus kaum bangsawan di St. Petersburg. Dalam sebuah ruangan besar yang menyerupai aula, salah satu jejak kehidupan Pushkin saat tinggal di sana tampak pada enam manekin berpakaian dansa. Ya, seperti halnya bahasa Perancis, dansa adalah keterampilan lain yang mesti dikuasai bangsawan Tsar.

Di ruangan itu pula pengunjung bisa menyaksikan naskah-naskah Pushkin periode awal, karya-karya yang berpengaruh terhadap karirnya sebagai sastrawan (antara lain karya-karya penulis Inggris William Shakespeare dan Lord Byron), serta potret para pesohor seperti Ivan Krylov (penulis fabel) dan Mikhail Lomonosov (penyair cum pemikir).

“Mereka adalah teman-teman Pushkin, atau orang-orang yang pernah berjumpa dengannya,” terang Victor.

Saat melihat naskah-naskah Pushkin yang penuh coretan di sana-sini, keterangan Pak Victor membuat saya tiba-tiba teringat Sabda Armandio Alif. “Di samping menulis, Pushkin melengkapi karyanya dengan membuat gambar, sketsa, tokoh-tokoh rekaannya.”

Pada sesi terakhir, selain karya-karya lengkap Pushkin dalam berbagai edisi, ditampilkan juga potret dan karya seniman lain, terutama perupa dan komposer, yang bicara tentang—atau terinspirasi dari—Pushkin. Di ruang itu ada juga sketsa jenazah Pushkin, topeng wajah yang dibuat sebelum Pushkin dimasukkan ke liang kubur, serta beberapa helai rambut ikalnya. Benda terakhir mengingatkan saya pada Museum Topkapi di Turki yang menyimpan janggut dan rambut Nabi.

Sulit mencari padanan Pushkin di Indonesia, sekalipun dalam soal “mendemokratisasi karya sastra”—artinya membuat sastra terlepas dari bahasa tingkat tinggi—bangsa ini berutang pada Chairil Anwar. Selama kurang lebih 1,5 jam keliling museum, saya berkali-kali berpapasan dengan sejumlah rombongan anak sekolah mulai dari tingkat playgroup hingga SMA. Ekspresi mereka tampak riang lazimnya anak sekolah tingkat dasar berkunjung ke kebun binatang.

Di samping peringatan Hari Bahasa Rusia, kunjungan rutin anak-anak sekolah ke museum Pushkin membuat sosok bengal ini terus dibicarakan dari zaman ke zaman. Dalam My Half Century, Selected Prose (2012), Anna Akhmatova bahkan membuat satu bab khusus tentang Pushkin, terdiri atas beberapa tulisan berupa esai dan ulasan.

“Semua orang Rusia tahu siapa Pushkin,” kata Julia Matrosova, gadis yang saya kenal saat kami bertemu di Kremlin, Rabu (11/12/2019).

(Ungkapan Julia terasa bergema ketika pada suatu malam di bilangan Novokuznetskaya—tak jauh dari KBRI—saat mengamati patung Gabdulla Tukay, penyair Tartar, seorang gelandangan mabuk meracau dan menyebut-nyebut nama Pushkin. Setelah menyodorkan aplikasi penerjemah ke depan mulutnya, barulah saya tahu gelandangan itu mengatakan Tuqay adalah penerjemah karya-karya Pushkin ke bahasa Tartar. Menakjubkan, memang, mendapati orang mabuk menyebut-nyebut penyair sebelum menawarkan whisky).

Kepada Julia, saya katakan bahwa pekerjaan saya di Indonesia tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Pushkin, yakni menulis syair. Setelah berkunjung ke Museum Pushkin, barulah saya sadar bahwa ucapan saya sebetulnya memalukan, berlebihan, dan tentu saja tak masuk akal.

Namun dengan cara itulah hubungan saya dengan Julia Matrosova, Vitaly Zabili, Anna Buzyarova, serta beberapa nama lainnya berlangsung akrab. Pushkin menjadi semacam kata kunci jika kamu ingin berteman dengan orang Rusia.

“Dalam waktu yang lama aku akan dicintai rakyat, karena membangkitkan kebaikan dalam diri mereka, dan dengan puisiku, pada abad yang kejam, aku menjunjung tinggi kebebasan, serta memohon ampun kepada orang-orang yang tersungkur.”

Itulah ungkapan Pushkin yang terpahat pada alas patungnya yang besar di bilangan Tsverkaya; patung yang saya usap berkali-kali dengan harapan membawa tuah sehingga saya bisa kembali mengunjunginya pada suatu hari nanti.

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.