Puisi Rendy Jean Satria

702 336 buruan

Melankolia-melankolia

Sebelum kesedihan kembali turun
Dalam bentuknya yang paling pucat
Telah kurestui potongan-potongan puisiku
Mengisi ruang paling kosong, menyelinap
Di ruang jagat hatimu. Kata-kataku terbaring
Di dalam matamu, memindahkan kesedihan itu
Menjadi rasa senang paling wajar
Mungkin, di tahun-tahun nanti, kau dan aku
Berlayar dalam perahu yang sama, mendayung
Kehidupan menuju pulau-pulau keheningan
Mendengar sesi jazz pada sore hari atau hanya
Menikmati gigitan-gigitan kecil selepas malam
Atau hanya menikmati sepasang mega-mega

Kau dan aku terbentuk dari kesunyian
Yang sama. Dari jauh, kulihat tubuhmu
Melayang-layang bersama benda-benda
Pemahamanku semakin dibentuk oleh susunan-
Susunan aneh. Namamu semakin berkibar
Dalam larik-larikku, tegak menjadi menara
Rerentuk kegelapan telah lama kulebur
Lalu baunya ditarik arus. Aku mencintaimu
Saat kau terpejam, masih bisa kuingat itu
Dan kuurai lambang-lambang
Sambil menerebos lubuk masa lalumu

Matahari telah lama kututupi dengan angan-angan
Agar aku paham, keindahan kadang tercipta
Dari cahaya redup dan nafas sunyi

2016

Ke Arah Bandung Selatan

Berpuisilah di antara koridor-koridor gelap itu
Tentang tahun-tahun yang terlepas dari wajah
Aslinya. Nikmatilah malam dengan segala baunya
Geserlah sedikit tubuhmu, biar bisa kujelaskan
Tentang cinta dan rindu, tentang beranda atau taman
Yang dilintasi kaki-kaki kesunyian

Berpuisilah di antara masa lalu-masa lalu
Yang hanya bisa dipandang dari jendela kesakitannya
Yang hanya bisa dilupakan dengan kata paling tajam
Nikmati malam yang telah kehilangan nyanyiannya
Sobeklah beberapa lembar catatan harianmu
Dan menulislah untukku saja. Lalu kita sama-sama
Membendung malam dengan seribu ciuman

2016

Sehabis Menemuimu

Lampu-lampu
Dikulum kabut-kabut. Seseorang
Dari kejauhan sedang membakar
Hari-hari airmatanya. Sunga-sungai,
Tiang-tiang listrik, lapak-lapak dagangan
Dan orang-orang yang melintas
Di antara gang kecil itu. Bau tubuhmu
Masih terasa segar di dalam ingatanku
Kupilih tengkuk lehermu sebagai bahan
Bakar doa pertamaku

Sekelebat bayangan kucing digordin jendela
Menjadi latar penghabisan malam ini
Lalu kau terpejam, dari mulutmu keluar
Tentang kesedihan para pengungsi-pengungsi
Di timur tengah. Desahan-desahan lain
Tak bisa kutolak kedatangannya, kebisuan
Dan kepasrahan menjadi puing-puing kata
Langit di luar semakin membungkuk
Dan kusaksikan gerimis juga belum susut
Aku semakin merapatkan tubuhku di sisimu

2016

Biodata penulis
Rendy Jean Satria
, lahir di Cimanggis, Depok, 4 Januari 1989. Masa remajanya dihabiskan di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Falah 2 Nagreg dan belajar ilmu seni di ISBI Bandung. Buku puisi tunggalnya berjudul Dari Kota Lama (2013) terbit di Bandung. Tahun 2012, diundang dalam program Majlis Sastera Asia Tenggara (Mastera) di Banten. Tahun 2013 diundang dalam pertemuan penyair terkini Jawa Barat, di Bandung. Aktifitas terakhir puisi-puisinya dimuat di surat kabar Indopos, Jurnal Sajak, dan Pikiran Rakyat.

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.