Puisi-Puisi Yusril Ihza F. A.

820 820 Yusril Ihza F. A.

Soneta Musim Ketujuh

kutulis namamu pada musim ketujuh sebelum sauh jauh berlabuh:
pagiku hilang, sunyiku berkumandang. hujan jatuh menekuni
lonceng kapalku. bungaku sayup tertiup syair cintamu.
semesta bersimfoni, larut dalam pesta musim semi.

pada ketelanjangan wangi tubuhmu yang pekat, dari rekah senyummu yang hangat.
salwa dalam sangkar tubuhku terbujur kaku ingin kecupan dan cecapan ranum
bibirmu. rindukan lembut lekat farji suci padmamu – menjelma telaga sorga,
mengalir senyap menuju ranu para dewa.

pada malam kepergian, tak ada senyuman yang kau lepas atau sekadar pelukan
yang dapat membakar malam di tepi jurang menerjang, seperti awal tualang
menuju kepulangan ke tanah pangkuanmu.

keledai yang membawa lembaran kitab masa silam dan sejarah yang sembunyi,
menyelinap hati-hati di balik keriput nadimu – mengaburkan dan menerbangkan
kisah-kasih pejalan kaki – yang kini, hanya kering air mata di bibir tuamu.

 

Malam ke Tiga Puluh Delapan

sehelai daun puisi bersila di seberang
kalut kekosongan

dan seorang wanita menemukan
nonsens di tengah kecemasan.

tanpa aba-aba, dengan tiba-tiba,

ia ambil,

ia baca sebait puisi penuh curiga;

“tiga ekor gagak dan lubang kebisuan.
tidak ada cicak di dinding kerisauan.”

namun,

di tengah hening sanggama mengiba,

ia bergumam,

“manusia tidur, ketika mati mereka
terbangun”

 

Solia
/1/

di suatu kolam,
seekor angsa bernyanyi,
langit cerah.

/2/
selendang merah,
gadis mengikat rambutnya;
ia kekasihku.

/3/
si putih merekah,
bau wangi semerbak;
kau datang.

 

Arcapada

pukul dua belas dini hari, langit
sangsi menyeringai.

gelap kabut merayap menyambut
tenda-tenda menyala.

hujan abu menjelma duri-duri mawar
melekat di rongga dada.

berita duka bagi penjelajah mampir
menyulut api ketakutan.

tetapi,

ketakutan hanya bisa dilawan
dengan kenekadan

dan orang-orang terus berjalan
mengenggam sejumput cahaya

sebagai senjata marabahaya.

mereka acungkan cahaya ke langit
seperti sekelompok kunang-kunang

berbaris di pucuk ilalang.

pun kami,

menguntit dari belakang sambil
menyanyikan lagu-lagu perjuangan

agar tak terlihat lemah,
agar bersemangat senantiasa.

epitaf duduk berjajar menatap
nanar kebisingan.

sejarah kelam mengukir kenangan
tokoh pergerakan.

berjuntai rindu tersulur di antara
nyiur angin

di setiap kelokan tajam arcapada.

dan di belantara lembah inilah

kami menemukan kasih sayang
ibu-bapak kami

yang dulu sempat kami dustakan.

 

Pawitra

awan dan langit masih linglung
tentukan warna.

burung-burung bersenandung
mencipta nada nan sendu,

mataku telungkup disayup angin.

kau tancapkan tiang dengan
bendera mimpi berkibar

menderu ingin terbang
seperti elang.

melangkah kau tak peduli
kuyup basah embun

merembes di jantungmu.

pun kau ingatkanku tentang
tualang,

tentang nadi ibu yang kian
mendekat

juga yang tak pernah kusadari,

dan tentang kepiluan mata kita
di antara kangen

yang tak kunjung merubah
nasib senapan waktu. 

 

Puthuk Siwur

parau kicau gagak membisik
ngilu batinku.

mengubur rindu kalbuku.

cemara dan perdu menjelma
seorang sepuh

dengan kain seputih susu

yang membungkus sekujur
rindu.

lalu,

ia ucapkan tanpa ragu-ragu
kalimat perpisahan

yang enggan kukehendaki
derunya.

“selamat jalan cucuku, 

jadilah pengembara malam
di antara  

lantun dzikir yang merdu”

bibirku tegun, mataku layu,
tubuhku tersungkur

ke jurang tak terukur.

namun di matanya,

aku melihat kebekuan
meleleh.

Yusril Ihza F. A.

Yusril Ihza F. A.

Lahir di Surabaya. Tulisannya tersebar di beberapa media. Buku Drama dan Pertunjukan Teater yang disutradarai berjudul Menunggu Badai Reda ‘9 November 1945’ (Penerbit Interlude, 2018). Buku Dramanya kedua berjudul Lahirnya Kematian (Penerbit Tankali, 2020).

All stories by:Yusril Ihza F. A.
Yusril Ihza F. A.

Yusril Ihza F. A.

Lahir di Surabaya. Tulisannya tersebar di beberapa media. Buku Drama dan Pertunjukan Teater yang disutradarai berjudul Menunggu Badai Reda ‘9 November 1945’ (Penerbit Interlude, 2018). Buku Dramanya kedua berjudul Lahirnya Kematian (Penerbit Tankali, 2020).

All stories by:Yusril Ihza F. A.
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.