Puisi-Puisi Wahyu Gandi G

820 820 Wahyu Gandi G

Belajar dari Langit

Ajal berhembus menembus celah angin meliuk masuk ke tapal batas napas
tulang dari segala darah di telan tanah, jasad menjadi akar penyanggah dendam
sulut api itu melahirkanku tapi ingatkah kita, menjadi manusia—keturunan langit
tidaklah mudah meski kematian berada tepat di ujung telunjukmu

–kami ingin berteman, meski aroma budak menyelinap ke batang bambu, rotan, dan akar
bilah melingkar di pergelangan menjaga agar kami—

keturunannya tak diperbudak hingga kematian lain belajar pada hidup,
sungguh nasib adalah permainan kekuasaan dengan akta kelahiran, kartu keluarga dan ijazah
harapan kami belum sirna kan, pak menteri yang terhormat? meski sebagian telah tertimbun lumpur di ladang, matahari terbangun di atas sawah, kami terpaksa menuai hasil dari benih-benih ingatan yang kelak ditumbuhi kebalikan dari kebaikan

agar masa depan tak gugur, kami bersikeras menemuimu untuk bertanya—
adakah kebahagiaan bagi kami?
ia tak menjawab apapun, tetapi setelahnya kebencian, kebahagiaan, dan murka bercampur
udara dari rimbun ketakutan luruh ke tanah tempat kami berbaur darah,
ia meminjam peristiwa air bah menelan sekaligus menghanyutkan mimpi-mimpi kami.
Itu setelah api berhenti menghitung kami—

 

Post

hidup bermula
dari tenang laut, risau gelombang
dan palung terdalam
nampak ia tenang
di kejauhan meneropong silam
ditumbuhi sesal dari muasal
pikiran yang karam

 

Mimesis kesedihan 

Tak terlihat seperti kesedihan, kau tersipu ragu terhampar landai wajah itu. Tergenang setitik air tanah
meringgis kesepian menanti rintik waktu, aku tersapu kemarau menuju musim yang gagal dibaca suhu
tubuhmu, tapi udara yang kau pendam di paru-paru gelagat tak henti-hentinya menghitung air mata
yang kau redam. Bahasa mengurung aku sebagai pengertian yang tak terbatas, tapi pergantian matahari
dengan bulan membebaskan kemurungan manusia menantang bahasa yang berakrobat dan banyak bicara

Tak terlihat seperti kesedihan, aku berdiri dan tinggal di kaki langit sebagai subjek semesta. Meniru suaka
menjaga ruang-ruang perdamaian sekaligus kepunahan sapiens yang karam dicecap lidah gelombang
kontemporer, tapi kau tanggap menyembunyikan diri, seperti kesedihan yang primitif—atau romantisme
masa lalu yang gagap mengubah tabu mengunduh tubuh serupa partikel tak kasat mata berjalan di udara
berkenalan dengan banyak nama, lalu hinggap
di paru-paru peradaban

 

Disekuilibrium

Di dalam diriku, hutan tumbuh subur dan liar
setelah kau tebang inang kesepianmu. Keramaian mekar
dari tetesan udara di kelopak mata sayu yang dahulu layu dan sungkan

Kulihat seseorang menyentuh daun jatuh di dalam diriku
kutiru seluruh bahasa tubuhnya. Kesedihan jatuh setelah kudengar
ia bercerita tentang perpisahan lembah dan tebing yang enggan menjadi maaf

—diriku barangkali serupa pohon yang ditumbuhi sesal
lebat dan tinggi, tapi tak membumi atau umpama gedung menjulang kotamu
menjadi museum penghancur keseimbangan, ingatan dan masa lalu

Perih berguguran menjadi napas mendekati kehilangan
jatuh perlahan diurai waktu. Kau bercampur amarah dengan aku
berbaur darah, dari kepungan luka yang mereka perah

Jika luka adalah batas kehilangan, bekas perpisahan—apakah duri
yang bersarang di tubuhmu bersedih ketika ia tumbuh
tanpa sadar menusuk kau dari dalam

 

Sine legibus vivere

tepat tengah malam
seorang bapak pulang
melaut

ikan-ikan menuju bulan
kapal berenang
angin retak

udara semakin gelap
maut bersandar menembus
dada laut

seorang bapak
tepat tengah malam
menemui anaknya

pulang dijemput maut
diantar oleh surut
lampu kapal

ia pulang
dalam keadaan
hilang

Wahyu Gandi G

Wahyu Gandi G

Alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar, lahir di Barru 28 April 1996. Bergiat di komunitas Malam Sureq Makassar. Menulis puisi, prosa, dan esai yang tersiar dalam berbagai platform dan domain, luring maupun daring. Buku kumpulan puisinya "Mendengar Bisu di Langit" (IBC 2018). Kini bekerja sebagai penulis lepas dan mengeditori epigram.or.id.

All stories by:Wahyu Gandi G
Leave a Reply

Wahyu Gandi G

Wahyu Gandi G

Alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar, lahir di Barru 28 April 1996. Bergiat di komunitas Malam Sureq Makassar. Menulis puisi, prosa, dan esai yang tersiar dalam berbagai platform dan domain, luring maupun daring. Buku kumpulan puisinya "Mendengar Bisu di Langit" (IBC 2018). Kini bekerja sebagai penulis lepas dan mengeditori epigram.or.id.

All stories by:Wahyu Gandi G
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.