Puisi-Puisi Toni Lesmana

820 820 Toni Lesmana

Setiap Kali

Setiap kali kau menulis puisi, aku selalu ingin menjadi
Segelas kopi yang kau cicip habis dengan bibir birahi
Aku selalu ingin jadi kata-kata yang kau pilih dari rimbun
Kebun hati. Hati-hati kau mengikat huruf-huruf seperti
Bambu bagi rakit, sebelum dialun lembut mengangkut
Rindu dari larik ke larik, sesekali bergemuruh merdu
Di ujung-ujung baitnya meledak rahasia  pernyataan cinta

Setiap kali kau selesai menulis puisi, aku ingin menjadi
Tatapan matamu yang terang teduh, menjadi napas lega
Yang kau hembuskan dari lapang dada, atau jadi geliat
Nikmat tegak lengkung punggungmu, dan kuhabiskan
Malam demi malam, bergelantungan di huruf-hurufmu,
Riang melompati lengang antara kata. Membayangkan
Diriku menjelma mataair, arus sekaligus muara bagimu

 

Larissa

Masih kutemukan jejak lilin-lilin usia
Yang ditanam di tubuhmu setelah pintu
Ditutup dan seluruh lampu dipadamkan.
Masih kudengar berat napas mengisap
Gelap penghabisan, sebelum api lahir
Menganyam nyala tahun persembahan.

Masih kuraba hangat keringat pengembaraan
Yang meresap ke tubuhmu setelah kabut
Memudar dan cuaca menanggalkan jubah.
Masih kuingat lentik jari mengupas kulit
Kesunyian terakhir, sebelum bunyi bangkit
Mengalirkan ricik hari kelahiran.

Masih kucium harum rambut perenungan
Yang gugur ke tubuhmu setelah ruang
Menjelma lubuk dan waktu serupa air terjun.
Masih kurasa sejuk senyum membasuh
Purna luka, sebelum puisi berdiri tegak
Menghadiahkan debur laut peleburan.

Masih ada selarik yang minta ditulis di dinding perayaan ini:
Hari kelahiran itu ranjang perkawinan hidup dan mati.

 

Ada

Ada yang tak bisa ditolak kehadirannya, seandainya
Memang dialamatkan untuk kita. Sia-sia saja kita
Menghindar atau mengelak, hanya usaha menunda
Derita bahagia. Ia tetap akan datang dari pintu-pintu
Tak terduga, bahkan tak memerlukan pintu. Tiba-tiba
Sudah berhadap-hadapan. Rengkuh-peluk, erat-tikam
Tak terbendung membuka ruang-ruang rahasia diri

Setiap kata dalam puisi, lahir ditulis dan singgah
dibaca. Adalah wajah-wajah, bergerak dari dalam
Dari luar. Hidup-tumbuh menumpuk rindu-dendam
Tak bisa dihapus. Kita hanya bisa membasuhnya
Terus menerus seperti ketulusan seorang ibu
Hingga luruh seluruh selubung debu dunia
Tinggal berkas paras kalam memancar segar

Barangkali seperti puisi, setiap yang datang
Adalah jalan mencari ciri diri yang tak bisa dicuri
Dengan cara apapun

 

Tak Ada

Tak ada yang menarik hatiku selain puisimu
Siang malam, jiwaku mengecup kuncup-kembang
Setiap kata. Dan kupeluk erat runcing duri-durinya
Kubiarkan tikam mengisap degup di jantungku
Lantas kukenali rahasia keindahan darah dan luka
Lebih merah dan mekar dari mawar. Lezat kurapal
Namamu, serupa nikmat penyataan cinta Bilal
Menyeru kekasih, melampaui pedih perih dunia
Abadi sebagai panggilan sayang yang mengarungi
Lautan waktu, menyebrangi selat-selat peristiwa

Tak ada yang kucintai selain dirimu, setiap nafasmu
Kujadikan biji tasbih. Melingkari leherku hingga tubuh
Tersungkur di tanah penyerahan. Keningku diangkat
Geliat akar, tubuhku direngkuh sulur. Kutemukan diriku
Duduk di bawah rimbun pohon rindu. Seperti seseorang
Yang menahan segala demi datangnya terang kebangkitan
Pernyataan cintamu. Dirimu merengkuh penuh diriku
Menuntun pengembaraan baru. Hidup utuh menabur
Senyummu dari bibirku, tatapmu dari mataku,
Parasmu dari wajahku, pelukmu dari tubuhku

Tak ada aku selain kau
Kalam puisi dalam diri

 

Keinginan Lugu dari Selarik Lagu

Keinginan lugu ini mustahil dulunya, aku tahu puisi
Perasaan semesta yang diperas sebelum deras didaras
Di atas kertas sebagai peta gelisah manusia.  Bagaimana
Memenuhi seluruh puisi, aku serupa percik kesendirian
Titik akhir garis pencarian. Tetapi, kiranya, bukan mimpi lagi
Selepas kupersembahkan murni kesepianku di sepertiga
Malam, dan kusunting sunyimu di bawah semburat pajar,
Di atas tanah yang masih basah embun peleburan.

Lezat hari demi hari dalam serbu haru, menemu senyum
Istri dan anak-anak di ayunan perenungan, mereka abadi
Bermain di denyut nadi puisi. Kurasakan diriku utuh penuh
Menyusupi tawa dan tangis degup kata. Kau bangun-hidup
Lambang kegembiraan. Seandainya masih kutemukan
Ngungun mengalun lembut memukul gemuruh rindu
Masa lalu. Aku tahu kau sedang mengajakku bercakap
Dengan duri diri, melucutinya dengan hati-hati agar gugur
Lebur tanpa terbit sakit, hancur sebagai serbuk pupuk aku

Dan kau diam-diam memekarkan bunga diri lebih indah
Persembahan untukku, mengabulkan keinginan lugu
Yang kucuri dari selarik lagu keluarga cemara.

Toni Lesmana

Toni Lesmana

Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Buku terbarunya kumpulan puisi Peta dalam Rumah dan kumpulan cerpen berjudul Hantu Budayut terbit tahun 2020. Bergiat di Studio Titikdua dan Rumah Koclak. Tinggal di Ciamis.

All stories by:Toni Lesmana
Toni Lesmana

Toni Lesmana

Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Buku terbarunya kumpulan puisi Peta dalam Rumah dan kumpulan cerpen berjudul Hantu Budayut terbit tahun 2020. Bergiat di Studio Titikdua dan Rumah Koclak. Tinggal di Ciamis.

All stories by:Toni Lesmana
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.