Puisi-Puisi Reky Arfal

756 647 Reky Arfal

Baserah

jejak-jejak pada liat tanah itu
adalah keriangan yang menggeliat ke udara
ketika hujan tinggal rinai, dan jalanan mulai ramai

di simpang tugu proklamasi
perempuan menjinjing payung
menuju pasar usang

lelaki memenuhi lepau-lepau
memasuki kedai-kedai cukur rambut
sambil mengepulkan asap niko

menggaruk-garuk rambut kepalanya
yang rontok dan dipenuhi ketombe

Pekanbaru, 2018

 

Pulau Busuk

pulau busuk tak punya masa lalu, atau
selaiknya tak punya. telah dihapus semua
oleh angin pulau. nyiur menuguri tanjung
menegur yang galau, limbung menghidu ini kampung

sejatinya, ini kampung adalah potret masa silam
terbingkai dalam perasaan yang lara
dalam kepala nini-nini yang trauma
ditinggalkan, penuh lamunan,
hanya sadar apabila diarak tuak
nini-nini yang berkata
bunga di taman selalu merah
disepah wangi darah

seratus sekian tahun yang lalu:
kuantan masih memantulkan
pasangan bercinta di kompang
dan ini tempat belum bernama

Pekanbaru, 2018

 

Mengobat Kampung

lihat batang air itu, ada banyak bercak puisi
mengalir seperti busa bekas basuhan cucian
perempuan-perempuan tak beralas kaki
menumpang mandi, dan bayangkan
sepotong es meluputkan berahi

bayangkan hari pelan berjalan
ke ulak, melawan arus yang kencang
ke ulak, mencari cara pulang
menjinjing angkung, melalui hutan sawit
menakik getah karet, menyeret realitas yang lemas
mengembalikan yang hilang, yang semestinya hilang

konon, ketika datang malam
datang pula orang-orang itu
menziarahi dusun-dusun
melengkapi pencahayaan kampung
ketika mata merabai kompang yang lempung
disesaki pengunjung

orang-orang dusun yang resah lantas berlindung di balik
kitab-kitab, kopiah, kisah-kisah
mencanangkan hari buruk, yang telanjur teruk

sebuah hikayat lama kembali tersiar
selalu terdengar kecipak air pada jam-jam tertentu
itu mimpi, mungkin seseorang ingin mengunjungi

lalu pada jam-jam lain, pada pertukaran cahaya
surau-surau tua mengaji, dan kambing-kambing
mendengkurkan vibra

pada jam-jam tertentu, selalu ada kejutan yang lekas jadi biasa

Pekanbaru, 2018

 

Belajar Mengenang

kami lahir dengan napas yang panjang
kaki yang lentur, tubuh yang tipis
dengan sedikit bau amis

kami lahir dan besar oleh riak udara
kecut yang menajamkan hidung kami
mata kami terbuat dari kelereng
yang dijual orang-orang di tanah seberang
dengan sedikit sentuhan, mungkin

kami akan jadi kalian
yang kerap bersunyi-sunyi dari keramaian
seperti genangan kecil di kubang jalan

Pekanbaru, 2018

 

Setelah Kulupakan Namamu

lampu sudah dimatikan. pintu telah tertutup rapat

dalam 21 langkah lagi akan kutinggalkan semua
kutinggalkan dapur yang berantakan dan dipenuhi
sisa genangan banjir semalam. kutinggalkan surau tua
yang cukup lapang untuk mengaji diri sendiri

tapi hendak ke mana ini langkah bernaung
sedang pada tapaknya masih jelas sisa kabung
masih pada kehampaan ia bergaung
dan kerelaan tak sempat ditabung

sehingga kepadamu jua aku kembali
kepadamu jua langkahku menepi
dan wajahku, juga langit malam ini
saling memunggungi

Pekanbaru, 2017

Reky Arfal

Reky Arfal

Lahir dan menetap di Pekanbaru. Menulis puisi dan cerpen. Beberapa puisinya pernah dimuat di Riau Pos, Indopos, dan Media Indonesia.

All stories by:Reky Arfal
Leave a Reply

Reky Arfal

Reky Arfal

Lahir dan menetap di Pekanbaru. Menulis puisi dan cerpen. Beberapa puisinya pernah dimuat di Riau Pos, Indopos, dan Media Indonesia.

All stories by:Reky Arfal
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.
error: