Puisi-Puisi Muhamad Kusuma Gotansyah

820 820 Muhamad Kusuma Gotansyah

Takana Juo

Gulai kepala ikan di atas api kedua.
Sementara pada yang memijarkan kalor
lebih kecil dititipkan sewajan kalio daging.
Serabut rambut mungil menyembul di
ujung tutup kepala Ibu. Dan hari ini,
pelanggan datang lebih ramai dari
biasanya.

Awalnya pengebumian Bapak, lalu
pendidikan adik-adikku yang harus
ditunda. Ketika itu Ibu adalah Rohana
Kudus. Sayangnya aku adalah Mangkutak
Alam. Tetapi, seharusnya, dan memang
sepatutnya: tidak pernah Malin Kundang.

Rumah makan kecil dan tuntutan
keuangan. Tetapi Ibu dan aku memang
suka memasak. Ada samudera yang
diciptakan Ibu setiap ia mengaduk gulai.
Ikan-ikan di dalamnya kembali hidup dan
berenang. Dan aku, selalu berdiri di
samping Ibu, bersiap jika kurang air,
kemiri, atau santan.

Modal utama kami selera. Dan itulah yang
diputar untuk membayar gas. Dan
pelanggan datang-pergi dengan
menyimpan kenangan di lidah mereka.
Kadang, dua atau tiga dari mereka
kembali. Untuk membayar rindu, atau
utang.

Keluarga kami tumbuh di dalam hangat
dapur. Ibu merangkap segala peran
penting, dan kadang aku kecewa dengan
diri sendiri.

Sulung dan diutamakan; sudah
seharusnya aku yang lebih sering
memanaskan lauk pagi. Dan aku kadang
masih kecewa dengan diri sendiri.

____Pasti, ada yang salah pada
resep usang itu.

____(mungkin saja)
Bapak
____yang membawanya
________________pergi.

Aku berhenti protes, dan menyadari ini
semua sudah tertulis dengan rapi di buku
resep—yang tidak pernah sekali pun
disentuh Ibu.

____Namun sesekali, setelah pelanggan
terakhir pamit, dan Ibu kelelahan, dan
bahagia, dan mengikhlaskan, aku
diam-diam ke dapur sendirian. Aku nyalakan
kompor. Aku letakkan tanganku pada
baranya, untuk mengetahui apakah aku
masih bisa berdarah.

Jika semuanya sudah jelas, seperti Ibu, aku
ikut mengikhlaskan. Segalanya.

2019

Perpustakaan keliling

Perpustakaan tidak pernah serapi ini, dan sediam ini. Setiap buku
seolah bisa didengar, setiap cerita dan puisinya, yang lengkap dan
yang tidak diselesaikan. Lengangnya membuat suaramu bergema.
Mungkin saja, kalau kita semua kurcaci, kita bisa tinggal di sini;
memindahkan seluruh isi dapur dan kamar tidur, dan memulai hidup
baru di dalam sebuah perpustakaan. Mungkin, kita akan lebih hidup.
Kita sadar rumah kita kecil. Di antara ruang-ruang sempit di sini,
perpustakaan adalah yang paling mungil dan lucu. Tetapi di tujuh
tahun yang sibuk, kita lebih banyak menitipkan barang bekas
____ketimbang buku di sana.

Malam-malam, aku bangun dan melihat kalian yang tidur nyenyak
dengan imut. Aku keluar kamar sambil membawa bantal dan selimut,
dan menginap selamanya di perpustakaan kita, sebagai kurcaci yang
____nyenyak dan imut.

2019

Pohon tengkorak

Tumbuh dari biji-biji yang buruk. Ia hidup
singkat, beberapa tahun lebih cepat dari
yang kita kira, tanpa meninggalkan luka
atau apa pun yang dapat kita ekstrak jadi
obat herbal untuk asam urat atau rematik.
Ia mati dan menjadi kompos, di tanah yang
sama dengan yang menjadi bahan baku Adam.

2019

Jalan-jalan

Orang-orang ramai sekali, hidungmu
mimisan ketika delapan hari tidak keluar
rumah. Kepalamu berputar, melihat
semua wajah dalam sekali pandang.
Orang-orang ramai sekali, kepalamu
membelah diri ramai sekali.

Hari ini kita bertemu dan menyimpulkan
bahwa hidup terlalu singkat untuk
merampungkan cita-cita masa kecil kita.
Kapan-kapan, mungkin kita tidak perlu
merasa semuanya terlalu panjang dan rumit.

2019

Muhamad Kusuma Gotansyah

Muhamad Kusuma Gotansyah

Lebih dikenal dengan panggilan akrabnya yaitu Gotan. Lahir di Tangerang. Menetap dan bersekolah di Kuala Lumpur. Penikmat musik dan berbagai jenis bacaan. Beberapa karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media-media daring seperti Litera dan Nusantaranews. Ia juga memiliki blog yang beralamat di berisiklegal.wordpress.com.

All stories by:Muhamad Kusuma Gotansyah
Leave a Reply

Muhamad Kusuma Gotansyah

Muhamad Kusuma Gotansyah

Lebih dikenal dengan panggilan akrabnya yaitu Gotan. Lahir di Tangerang. Menetap dan bersekolah di Kuala Lumpur. Penikmat musik dan berbagai jenis bacaan. Beberapa karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media-media daring seperti Litera dan Nusantaranews. Ia juga memiliki blog yang beralamat di berisiklegal.wordpress.com.

All stories by:Muhamad Kusuma Gotansyah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.