Puisi-Puisi Fatah Anshori

820 820 Fatah Anshori

Di Pegunungan Dawson
—untuk pesta ulang tahun
yang terlupakan.

Pada 16 april tak ada
Perayaan atau pesta kecil
Dan air matamu mengalir
Di Pegunungan Dawson
Kita hanya dua kubur batu
Yang sama-sama piatu
Juga tak ada seiris senyum
Pada muka jendala yang
Kita biarkan terbuka;
Menghadap musim kelima
Yang hanya terisi
Kabut dan berita pagebluk
Pohon-pohon memerah
Sungai dan jalan setapak
Retak-retak. Dan waktu
Yang menggantung di
Balik punggung adalah
Kepompong tua berdebu.
Aromanya mengiris
Chanel-chanel alternatif
Bahasa yang menunggangi
Makna atau sebaliknya,
Kata-kata dan kelamin
Diikat dalam sekat
-sekat budaya manusia.
Lalu pada suatu pagi di
Batang ruang, pedoman
Lahir sebagai jalan lain
Melihat muslihat sahwat
Di laku tubuh utuh
Tapi kepala adalah
Muasal buaya juga rawa
-rawa lalu di sebaliknya

Kelak kita temukan cahaya,
—-suatu taman bunga yang
mengantar kita pada
niscaya.

Lamongan 2020

 

Phunicia

Ba’al bertumbuh pada kaki dan tangan orang-orang phunicia. Sementara pada lembar-lembar papirus mereka titipkan masa depan penuh kecukupan. Dengan kapal kepala naga mereka arungi ruang-ruang baru pada layar dan dayung. Ombak dan arus yang deras kerap membawa cemas di dada mereka yang ciut, penuh maut. Namun sejauh hidup mengasah desah rasa bersalah. Mereka memilih pasrah pada apa yang telah diasah.

Pada kargo-kargo tua yang berdiam di pelabuhan mereka sematkan igauan tuhan. Juga tangis nenek moyang terselip pada bar-bar kumuh, amis darah, aroma amonia, juga tawa seorang nelayan tua usai mengingat cerita masa muda. Tapi harga barang di sini belum bisa ditentukan dalam angka, dan orang-orang menukar permata dengan seekor ikan, perempuan muda dengan sesuap nasi, segelas air dengan seekor kuda. Karena angka-angka masih pulas dalam tidurnya.

Lalu pada sebuah hutan, kayu-kayu cedar menjelma kapal dan berlayar dalam angan yang menggenang di tangan-tangan mereka. Sementara Kartago, melahirkan pedagang dan kerumunan 24 jam, orang-orang dari seberang datang dan pergi seperti tulah orang-orang lama. Di Byblos, mereka bersandar di pelabuhan besar,Peluh juga keluh kesah mengering di sweater para pejalan yang tak mengenal kata berhenti.

Adalah Hutan Pohon Aras, tempat mereka
memangkas kayu, untuk membuat perahu
dan kendaraan yang mengarungi waktu,
yang menembus dunia di dalam kaca
jauh di dalam diri kita
adalah mozaik
            —penuh warna.

Lamongan 2020

 

Di Charlotte Street
—setelah membaca Samsa

I.
Bayang-bayang suara kereta
mengambang dalam angan:
jam kerja,
Air liur atasan,
Tagihan bulanan,
Percakapan keluarga di
Ruang tengah,
Bersilangan dalam kepala
seekor serangga,

Tapi apakah batu telah menjadi
punggungmu? Kaki dan tangan
yang mulai bercabang.

Panggilan dari balik pintu
Bahasa yang asing di telinga
[06.45]

di Charlotte Street
Pedagang keliling, sales barang
rumah tangga tak berdaya dengan
tubuh kaki dan tangan yang
kelam

II.
Keluarga Samsa bermasalah dengan
pintu dan suara, bahasa berlendir di
tubuh anaknya

Tapi kegaduhan di ruang tamu
di tengah-tengah menu sarapan pagi
ia tak menemukan dirinya sendiri

Ada yang pergi
dan kembali dalam
buram wajah pagi

Jendela terbuka
di Charlotte Street
ada jerit dan suara pluit
kereta yang
meninggalkannya
dalam kubangan
ketakutan ia anak
kecil yang
hampir tenggelam

Jam kerja terbang
serupa gagak hitam
meninggalkan
pucuk-pucuk tiang
dan kabel listrik di
jalan Charlotte Street

III.
Tapi aib adalah aib
bukan gaib yang akan
raib jika ditutup-tutupi.

Dibungkus ruang
di balik pintu,

Rencana hari tua
Seketika percuma
Serupa gugur
Bunga-bunga

Harapan dicincang
dalam angan
ketakutan. Dan mereka
masih berjalan dalam
batas ruang-ruang hijau
berlendir, bahasa
menguap dalam lorong
-lorong telinga
seekor serangga:
—–sejak kau
menjelma kecoa

IV.
Dan omongan tetangga
adalah terror purba sejak
manusia menginjak remaja
Mengenal jam kerja
Dan kata kerja untuk
memenuhi kata benda
Sementara,
Hidup harus berumah
tangga kata orang tua.
Jika kau manusia,
Tabungan masa tua
minta di isi tiap hari
Serangan kerja
diam-diam seperti angan
-angan hidup bahagia
membayang samar di
usia muda.

Pada akhirnya kau harus
pergi untuk tinggal di suatu
pagi dan berjalan serupa tak
ada apa-apa sebelumnya
dan kau hanya manusia
dan kau hanya serangga
hanya manusia yang
menjelma serangga,
hanya
hanya kata hanya

yang tersisih.

Lamongan 2020

 

Hemiparesis

Pada sebagaian wajahmu,
Kelu masa lalu: hanya abu.

Menjelma pekuburan di desa
Orang-orang lama yang
Dilumat luka, tangan dan
Kakinya berbicara tentang
Dosa-dosa yang mekar
Di usia muda

Sejak kapan manusia ingin
Bahagia? Kata-katamu yang
terselip di sebagian
laku tubuhku

Sementara perang lahir dengan
tombak-tombak yang sudah
diasah. Agar darah kembali
tercurah,
Di luar baju zirah
Dan tangsi-tangsi
Tempat mereka memadamkan
Suara tangis yang selalu gerimis

Hemiparesis, mendesis di
Sebagian tubuhku yang
Pengemis di tengah kota dengan
Ribuan orang tanpa mata dan
telinga. Gagak hitam mematuk
lagi luka-lukaku yang
masih basah dan meminum

Genangan air mataku yang
Mengendap di kaleng minummu
Yang kau buang di jalanan. Lalu
Kupungut sebagai wadah recehan
rizeki yang kau lemparkan,

Pada sebagian wajahmu
Aku hanya buram yang kerap
Kau tikam dengan
Tombak-tombak diam
nan legam.

Lamongan 2020

 

Di Linnaeus Botanical Garden
:Carl Linnaeus (1701 – 1778)

Di kebun itu kau takar nyawa yang tumpah dari suatu wabah. Aroma darah pada suatu pagi membanjiri dirimu yang belum pulang. Sebuah hutan ditebang untuk jalan dagang, hewan-hewan dan segala yang berdiam dalam petang turun ke jalan, memasuki perkampungan. Anak-anak ketakutan dan janin-janin tak jadi dilahirkan. Berita kematian menempel pada tubuh-tubuh rapuh yang enggan berlabuh. Tapi di luar itu ada yang sedang menyembuhkan diri, memperbaiki ombak-ombak, sarang burung, mata angin, dan jalur-jalur kecil dibalik gulma. Meski di rumah sakit kau mengeluh mereka enggan sembuh dan beberapa teman bahkan istri atau suamimu mati. Tapi, di luar itu ada yang sedang menyembuhkan diri.

Pada hari-hari itu, kau tahu. Batas kota tak banyak menyimak orang-orang datang, lebih hanya mengenang perjumpaan dan perpisahan, sebagai kejadian. Sementara di Uppsala kau sendirian saja. Bekerja di antara nyawa yang pergi dan kembali. Di antara doa daun-daun gugur, mengeringkan angan dalam angka kehidupan. Tapi di luar semuanya ada yang dicancang lehernya. Digantung pada tiang-tiang kelam di pesarean. Salak anjing membuatmu ingin kencing sebagai mayat kucing yang tubuhnya dibiarkan di pinggir jalan. Lalu kau baca lagi epidemi suatu negeri. Kau temukan seorang anak kecil berdiri sendiri di tengah sepi ketika orang-orang berlari menghindari mati. Bayang-bayang buram seperti layang-layang putus, melayang-layang, melayang. Mengapus rumus periodik di sela-sela hari yang kau hardik demi sebatang badik,

demi mereka yang diculik.

Lamongan 2020

Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Russa, 2020). Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018).

All stories by:Fatah Anshori
Fatah Anshori

Fatah Anshori

Lahir di Lamongan, bukunya yang telah terbit Ilalang di Kemarau Panjang (2015), Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Russa, 2020). Terpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018).

All stories by:Fatah Anshori