Puisi-Puisi Edwin Anugerah Pradana

820 820 Edwin Anugerah Pradana

Sajak Dua Belas Budak

Rantai panjang mengait nyawa, dua belas budak lekas mati
kebebasan tergembok pasi. Legasi panjang, sebuah kekuasaan

Romawi. Dan dua belas budak
yang terhubung dalam dua belas kalung rantai
di sepasang kaki hampir bercerai

siap menaklukkan Roma. Mengkaji perihal mati.
Sebuah yakin. Denting nyawa —di bingkai pecah ritmisasi.

Dua belas budak yang tersedak
belajar santiaji berperang.

**

Ladang-ladang Sisilia. Tak pernah
memimpikan rimbun hijau, buah elok panen rana.

Budak dan setrika nyawa ad hoc dimulai.

Kebebasan
dua belas budak berangkat
dengan semi yang mengikis nyali.

Spartacus—di sebuah kisah Perang Budak Ketiga.
Abu Kota Roma beterbangan.
Kebebasan tercecer di lantai.

Mereka mati dipeluk rantai.

2020

 

Meriam Enggan Berkidung

Gagalnya Liga London, dan pesona Balkan memang sudah menggema. Ottoman tak bisa selamanya menggendong Rumelia. Tak selamanya Rumelia dapat ditimang. Meriam perang mulai bersyair. Delapan sajak datang, selepas Balkan mengeja kata-kata, di tepi syair Ottoman. Delapan kidung ditulis oleh sebuah meriam.

Hanya Konstantinopel dan beberapa kisah yang mengendap. Tersisa. Seorang meriam yang berkidung, merundung. Serbia, Bulgaria, Yunani dan Montenegro bersatu. Mereka berderet layaknya kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf yang dibaca meriam. Sebuah kidung: buat Ottoman.

Kala itu, kultur memang bukan petikan bunga yang dapat gugur di mana saja. Kultur harus disekar di atas kuburan bunda. Wangi bunga-ucap kidung sang meriam-mulai semerbak ketika Byzantium dan Konstantinopel diasuh oleh Turk. Pada abad XV, bunga perang Ottoman mulai merekah.

Agama bukan kelopak yang bebas diselipkan di telinga. Tak semua yang estetis bisa dilipat. Namun meriam ini-ia bisa berkidung.

/1/
1912, Oktober. Meriam itu menulis syair tentang tibanya Montenegro di Podgorica. Bunga Perang Balkan pertama dipetik. Ottoman terkejut, layu. Tidak ada yang menyangka, lembut-lembut bulu kelinci, menyobek selembar ikrar damai. Lubang itu tak lagi berisi kelinci, dengan wangi bunga gugur di atasnya. Kini, lubang kelinci itu berisi mayat yang membeku.

/2/
Kumanovo, serutan tajam sisa bambu. Dari gelondong utuh Makedonia yang utuh itu, terbelah, menyisakan sebuah serutan di utara. Berturut-turut, Serbia membelah kelopak bunga-bunga Ottoman. Prilleb dan Bitola, di selatan.

/3/
Albania, di Lushja dan Berat. Meriam itu menyaksikan bagaimana Serbia menggerus hegemoni Ottoman, setelah Elbasan yang dipotong rantingnya. Pohon kini serupa abu, kembang layu yang menghitam di daratan Balkan. Kisah meriam yang berkidung tak kunjung selesai, ketika Skutari masih mekar.

/4/
Di ufuk timur, Konstantinopel berdiri tak jauh. Meriam menyaksikan martil yang menghantam dari arah Bulgaria. Detik demi detik di Lozengrad, menit di Luleburgaz.

Bulan demi bulan redup di Saloniki dan Serres. Meriam yang berkidung, menyaksikan lagi: rontoknya kembang di timur Ottoman.

/5/
Sempat, bunga Ottoman merekah. Bulgaria terkapar di Catalca. Hamidye menggelepar di dasar Varna. Dari balik terumbu, meriam yang berkidung kembali menyaksikan rontok kelopak Ottoman di Merhamili.

/6/
Sajian mitologi. Biru perairan Elli, Celah Sarantaporo, di balik Thesally yang diam. Rasi bintang kini tak lagi menyaksikan ikan dan nelayan. Di lautan Pulau Lemnos, rasi bintang perlahan tersedu. Muram Ottoman benar-benar ditaburkan, di kuburan Dardanelles. Yunani tanpa Apollo, namun Ottoman tetap sisa terkulai.

/7/
Meriam yang berkidung menyaksikan sedikit teduh tiba, di balik sisa-sisa perang. London, senjata dikebiri sementara. Beberapa kelopak perang, mulai tanggal. Meriam yang berkidung, mungkin mengira damai tiba di sebuah fajar esok, 30 Mei.

/8/
Akhirnya tangis meriam menderu-deru. Damai berkhianat, ia harus juga berangkat. Shrapnel dalam dirinya diletupkan. Berupa sajak dari kidung yang meledak di langit Balkan. Bulgara, layaknya ngengat dengan sayap indah. Dibaliknya peluru-peluru yang marah. Dibaliknya kisah. Koalisi gugur, kembang Ottoman kembali merekah pasca gugur di kuburan antah berantah.

Kelopak-kelopak perang itu, kini sudah berakhir. Kelopak yang gugur itu, satu persatu dikumpulkan. Sang meriam menyekar bunga-bunga kelopak perang, di atas semua kidung yang ditulisnya. 

2020

 

Ibu yang Gagal Membagi ASI

Asiria. Darah-darah mengucur dari tepi telapak tangan bersalaman. Pemberontakan, saudara dan kekuasaan. Sebutir pasir yang terbang, gurun-gurun Irak.

Niniwe: sebuah gelanggang. Tibanya ritus-ritus, terbangnya nyawa. Perang di Asiria.

Rendezvous dalam ujung runcing taji, mengikis kiblat ke arah pati. Kerabat yang akan mati.

Ashurbanipal pergi. Asiria serupa taman yang berisi duri. Para dewi murung di debu-debu pasir Mesopotamia. Ibu yang sudah tak mampu membagi asi. Babilonia dan Media, atas nama di atas nyawa. Para bayi menggenggam lancip jeruji.

Kuasa dan darah, dalam salam kematian yang tiba dari peluk mesra saudara. Para bayi menggenggam tombak, dengan manik pemberontakan. Para bayi Niniwe menghunjam ibu yang memberi asi. Persaudaraan yang bersilaturahmi di arah mati. 

2020

 

Monokrom Roma 

Arang hitam timbul dari sebuah monokrom foto
potret Roma dan rumah-rumah kayu, teriris oleh api yang melumat
abu terbakar. Mengendap di dasar telapak kaki Nero.

Jupiter Stator, Vesta dan arang yang kemerahan.
Lantas bagaimana bisa tak ada kemarahan di balik abu yang berduka?
Agama coba diletakkan dalam gelas.
Bilah pisau dibakar,
meleleh tajam beling dan belati
di gereja Kota Roma.

Abu Circus Maximus keluar dari sebuah foto
monokrom; hitam putih.
Harus berapa mati hingga badai mau pulang tanpa hancur nanti?
Religi di balik tumpukan bara berbisik pada api.

Tulisan di balik citra hitam putih
dibaca oleh ruang sepi, di sudut kota Roma.
Apostrof sempat menyela di parau abu yang kian bergerak,
namun kalimat benar-benar enggan tiba di tinta damai.

Kertas monokrom itu bahkan sempat menggambar
di pinggir foto kandungnya. Semua tak bakal mati. Saat damai benar terbagi,
anak Agrippina belajar. Surga ada di siku para rupa yang terpanggang
duri yang ditancapkan. Meraung raksasa di kota Roma.

Caligula dan jelita, sebab adik tak terjamin di urat nadi.
Takhta tak pernah timbul dari vinyet,
apalagi foto monokrom kemenakan
yang membakar embun kekuasaan
dan sangit gugur bunga.

Berkerumun di kesepian, berbinar-binar serupa raksasa
saat api menyambar tadi.

Potret monokrom kota Roma
menghitung dua belah keadilan
dalam orang-orang atau para dewa.

Abu di Roma melayang
merayapi istana yang tersisa kata-katanya
bersama arang di sebuah potret lusuh selembar monokrom
yang separuhnya terbakar
yang sepenuhnya tersambar. 

2020

 

Mitologi Meja Makan

Perang Troya dalam sayur benguk
Akhilles, Memnon, Apollo
kacang panjang, kunir, tabur garam

Panah tiba
melesat—menembus tungkai tak kebal.
Panah paris, menukik.
Satu sendok ke kerongkongan
lidah, dan akan tiba bunga kemenangan.

Perang Troya dalam santan
Mitologi di meja makan.

2020

Edwin Anugerah Pradana

Edwin Anugerah Pradana

Lahir di Kecamatan Panggul, Kab.Trenggalek, 24 September 1998. Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Surabaya. Antologi puisi pertamanya berjudul Terserah Handoko (2019).

All stories by:Edwin Anugerah Pradana
Edwin Anugerah Pradana

Edwin Anugerah Pradana

Lahir di Kecamatan Panggul, Kab.Trenggalek, 24 September 1998. Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Surabaya. Antologi puisi pertamanya berjudul Terserah Handoko (2019).

All stories by:Edwin Anugerah Pradana
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.