Puisi-Puisi Boy Riza Utama

820 820 Boy Riza Utama

Hanoi

Akan selalu, Thích Quảng Đức, Hanoi
Dilukis dalam paras sedih orang mati

Bulan-bulan dikremasi
Tahun-tahun penuh dupa
Dan 19 juta galon gas racun
Tercurah ke dalam tidurku

Aku tak berhenti berdoa, karena itu,
Karena kita butuh sesuatu yang sepi
Tentu bukan perang, juga aksi heroik,
Bukan aneksasi atau impian tak pasti

Karena Hanoi akan selalu dilukis, Thích Quảng Đức,
Kuingat namamu dan kertas bergambar itu, serta
Keberanian Malcolm Browne pada hari itu
Juga Nam mo a di da Phat dari bibirmu

Dan 19 juta galon gas racun
Yang kini diseka habis tangisanku

Katakan, Winston
— 1984, George Orwell

Katakan, Winston, katakan
Kalau pikiran tak bisa, juga
Tak mungkin dikontrol ketat

Penguasa mana saja, tak akan
Berdaya di hadapan kata-kata
Yang menyerahkan diri mereka

Sebagai awal pembangkangan,
Letupan-letupan pikiran lain
Yang juga benci penindasan

Adalah monumen keteguhan
Sikap menolak tunduk pada
Tangan-tangan para raksasa

Yang menggodam tidurmu
Tiap malam, sepasang mata
Yang mencekau tiap gerakmu

Bahkan ketika bercinta baru
Sebatas keinginan, saat hasrat
Bersemuka dengan kekasih

Impianmu hanyalah khayal belaka
Maka katakan, Winstron, katakan
Kalau makna sajak ini pun tak ada

Meski gema dari racauanmu pun
Pada akhirnya bukan pula igau
Dari seorang pengarang lama

Dongeng Kelasi untuk Marie

Kelasi tak jadi pergi pagi itu:
Kabut merayap, malam tadi
Dan cahaya tak ada, hari ini

Tapi itu 1785, saat subuh gusar
Karena pulau itu, ucap seseorang,
Nyaris ambyar diterpa abrasi

Hingga tiba ini: 1786, kelasi itu
Kini pergi, pada parak pagi

Barangkali karena sebuah surat
Bersampul biru di meja itu telah
Memberi tahu:

“Dunia baru menunggumu”
Seseorang menulis dengan ringkas
Dalam huruf yang menjemukan

Tak ada alamat tertera di sana
Tapi ia merasa telah mencium bau rempah
Yang terkebas dari cap yang gundah

Tiba-tiba jam jadi berat
Dan ia mengerti:
Tak akan ada lagi matahari
Di langit Juli nanti

*

“Satu lagi kelasi pergi,” kata seorang gadis
Dekat perapian, suatu hari

“Mungkin karena tak ada yang kuasa
Menahan angan lelaki yang belum jadi”

Di sekitar situ, selalu, angin terlambat
Mengiringi abad-abad yang terus lewat

Mungkin ada yang tertinggal, pikir si gadis
Tapi makna tak bisa kekal
Dan rasa sedih jadi janggal

Lantas, pada satu malam yang merangkak
Lekas, lelaki itu berkirim surat

“Aku tak akan kembali,”
Tulisnya di kertas separuh usang itu,

“Esok atau lusa sama saja, akhirnya,
Sebab kau tak bersamaku, di sini”

Satu lagi kelasi hilang, gumam gadis itu
Dari balik ghetto yang penuh timbunan salju

“Apakah ilusi akan kejayaan,” ujarnya, lirih,
Telah membunuh kami pelan-pelan?”

Tapi ia selalu ragu akan suara yang lahir
Dari keresahan tak menentu

Setelah itu, malam
Kekal, seperti air matanya

*

Demikianlah: kelasi itu pun pulang
Tanpa ingin lagi pergi, seperti kuas hujan
Yang kembali melukis wajah Januari

Dekat tepian panjang itu, ia tahu,
Ada yang tak akan diingatnya lagi
Ia tahu akan ada yang hanya
Mampu dilihatnya sendiri

Mungkin ada jalan lama, benaknya
Tapi sunyi plastis: bahkan ia ingat betapa
Orang dalam kemah ini tak pernah
Mengantongi nama baptis

Tepat tengah hari itu, ia hidu bau keju
Yang menyelinap dari balik jerajak itu
Tapi, lagi-lagi, seperti kemarin, ia takut
Jadi cengeng: ia benci kebodohan

Ia pun tahu kota itu terkunci
Bagi mereka yang lama tak kembali

Seseorang pernah berkata dan ia ingat:

“Jarum kompas tak pernah salah”

Seluruh ingatannya pun, memang,
Hanya mengarah ke rumah

Ia terkenang akan pagi yang dingin
Di Batavia: selimut kumal pendahulunya

Maka dekat perapian itu,
Ia lemparkan kecemasannya
: Siluet pertempuran dan luka-luka

Tapi ia tak akan menghampiri gadis itu
Sebab ia menunggu dan tak berani
Menyerahkan hidup, sekali lagi,
Kepada selembar papan basah,
Untuk bisa pulang, seperti hari ini

Limpapeh, dengan Fau

Kegembiraan buatan
Adalah tiga sloki arak
Yang kutengggak serampangan

Tangisan adalah rinai terakhir
Yang sampai ke makam ibumu
Menggugurkan kamboja rindu

Obrolan perangmu berarti menyelundupkan
U-Boat dan tank Tiger, juga Hitler
Ke jantung Isar dan balon pikiranku

Dan ketika kapalmu berangkat, yang tertinggal
Cuma dua jendela kamar: satu buat mencemaskan kau
Yang dilepas, sebelahnya bagi hari baru tanpa cahaya

Kesedihan sejati adalah puisi
Adalah hujan yang tak mati-mati,
Fau, terus mengurai wajahmu, di sini

Boy Riza Utama

Boy Riza Utama

Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 Mei 1993. Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru. Puisinya tayang di sejumlah media, antara lain, Kompas dan Koran Tempo.

All stories by:Boy Riza Utama
Leave a Reply

Boy Riza Utama

Boy Riza Utama

Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 Mei 1993. Ia bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru. Puisinya tayang di sejumlah media, antara lain, Kompas dan Koran Tempo.

All stories by:Boy Riza Utama
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.