Puisi-Puisi Bagus Likurnianto

820 820 Bagus Likurnianto

Reminisensi Pertemuan
: catatan untuk sofia

sofia, perempuan paling majikus yang setiap pagi mencuci hati. tak ada lentera atau viola yang menyala di nyalang matanya. baginya cahaya paling keramat adalah cinta. dari negeri batari kami berjalan menyusur sunyi mencari sekarpati di hari-hari yang suci selepas matahari selesai membakar pelangi supaya anak lelaki kami lekas melepas luka dan mempersunting bidadari.

kendi beserta rahimnya merahasiakan rendaman surgawi, “aku akan membuat wangi kesetiaan untuk kupersembahkan setelah akad pernikahan, kau tidak akan mampu menolak sebagaimana ibrahim kepada tuhannya bagi ishaq atau ismail,” kataku saat ibumu masih meronce keagungan tanpa sedikit pun berpaling. kau terkenang anyir tanah badar dan seorang ayah yang dibunuh di depan anaknya: pertemuan berubah requiem.

api abadi musti dicipta oleh cinta untuk melenyapkan pedang yang dihunus si pembunuh. “tak ada yang bersedia mentakziahimu, sofia. tak ada,” bisikku dengan suara maut yang lebih hening dari batu nisan itu. kini, kau hanya perlu kembali menyiapkan hati agar mekar menghias usia dan ranjang pengantin. kita bisa bersama-sama mengubur masa lalu dan kau tidak perlu menjadikan selimut sebagai alat untuk menutupi kematian.

aku rela dikembalikan kepada azali demi merebut keadilan di masa depan. ingin kupindahkan surga ke dalam rahimmu, sofia. dan kau benar-benar tidak bisa menolak sebab sejak mula dunia hanya dikumpulkan untuk mencipta jantung waktu: muasal sejatinya cinta kita yang dirahasiakan oleh adam dan segenap manusia yang berkhalwat di dalam rahim kekasihnya.

Banjarnegara, Juni 2019

Dewangga Dewandaru

umpomo sliramu sekar melati

siang dan malam disulam seperti sutra
sesuai perhitungan yang ditetapkan
setiap benangnya adalah firman
yang tak jadi diubah Tangan
menjadi dewangga

ia teringat pada tembikar muasal manusia
ditanam dalam rahim kehidupan
pohonan menyembahyangi kenangan
bagi riwayat segala musim
di mula takdir

satu kesucian mericik
tempias ke jubah Dewandaru
disaksikannya waktu mengalir di tubuh
sesuai kehendak cinta dari
tasnim dan salsabil

sehingga tercurah kesejukan
di perjamuan purba yang terakhir
duka mendidih dari ubun-ubun dan kaki
pengampunan membersihkan hati
dalam pelukan kekekalan bermayang

dosa, kata mereka, tak lebih kubur
dari kesunyian para sufi
tak ada yang bisa merubah ketetapan
meski pahala terus berjatuhan
ke arah dada mereka

sekali lagi ia berkata, “akulah Dewandaru
yang membina langit tinggi-tinggi.”
namun angkasanya keburu
melesat dan meledak
di semestamu

Banjarnegara, 22 Juli 2019

 

Gembala Bukit Kenduri

suara kawanan kerbau yang parau sebenarnya ingin
mengabarkan hikayat hujan dan tuhan lewat angin
yang merasuk jantung pohonan

disampaikanlah rintik-rintik
puisi yang berjatuhan membasahi sunyi sampai
matahari memilih bersembunyi di balik bukit kenduri

di dadamu yang telah gerimis itu
penggembala yang tengah angon kian pasrah kepada sabda
lantaran lembu-lembu mereka terlepas di hutan batinmu
cagar-cagar dari rusuk sepimu rusak setelah atsar mencatat
kesunyian yang berkelindan di kening batu tuah kekasih
maka, hujan yang semakin jatuh itu meresap ke ceruk batu-batu
sementara aku menjelma anak domba yang melanglang
di nyalang matamu, dari mataku terpercik sunyi saat memandang
tuanku pergi mengembara menuju negeri batari

Banjarnegara, 25 Maret 2019

 

Nubuat Sunyi

malam meriwayatkan luka
ketika gerimis mengucur di tubuhmu
di hadapan kesunyian kau menanggung risau
bertukar lidah dan ludah dengan
seorang yang telah membayar malam dengan
segala harta dan hasratnya

telah kusaksikan hujan menghunjam batinmu
di persimpangan jalan yang menggelisahkan
lampu jalanan yang redup itu menyaksikan
nyala tubuhmu dibakar nafsu

matamu nyalang memandang petang
jeritan di lorong panjang redam di saput ranjang
dan segenap rintihmu mengalir ke sungai
yang alirannya darah perawanmu

namun, segala resah lukamu hilang
disapu hujan lantaran malam tak mampu menahan
haru mata air dari air mata seorang wanita
yang menjual kegelisahan di balik tabir dusta
di bawah jembatan-jembatan yang telentang
saat sekujur jalanan diraba-raba tangan kesunyian

Purwokerto, Mei 2019

Bagus Likurnianto

Bagus Likurnianto

Bagus Likurnianto, lahir di Banjarnegara, 9 Januari 1999. Aktif berkegiatan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto, Komunitas Rumah Penyair Unyu, Komunitas Buka Buku, serta Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Purwokerto. Puisinya pernah disiarkan Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dll. Bagus tergabung dalam Majelis Sastra Konvensi Penyair Dunia: Antologi Puisi Sebelas Negara bertajuk Wangian Kembang yang diselenggarakan oleh Persatuan Penyair Malaysia pada Juli 2018.

All stories by:Bagus Likurnianto
Leave a Reply

Bagus Likurnianto

Bagus Likurnianto

Bagus Likurnianto, lahir di Banjarnegara, 9 Januari 1999. Aktif berkegiatan di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto, Komunitas Rumah Penyair Unyu, Komunitas Buka Buku, serta Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Purwokerto. Puisinya pernah disiarkan Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dll. Bagus tergabung dalam Majelis Sastra Konvensi Penyair Dunia: Antologi Puisi Sebelas Negara bertajuk Wangian Kembang yang diselenggarakan oleh Persatuan Penyair Malaysia pada Juli 2018.

All stories by:Bagus Likurnianto
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.