Puisi-Puisi Azhar Bashir

820 820 Azhar Bashir

Zombie dari Atlantis

lihatlah, dadamu, kelak tabah menyimpan tubuhku. bunga-bunga keji ditanam di wajahmu, lalu aku mengusapnya seperti angin dari tanjung yang bergerak mengganggu malam ini. inilah aku, datang padamu sebagai zombie terakhir dari atlantis.

misalkan kita bertemu, menjauhlah dari mulutku, sebuah lubang dekat neraka yang meneteskan luka. seorang perempuan kecil menetap di sana, apakah jerit tangis atau teror, yang muncul hanya prasangka.

pohon-pohon zaqum tumbuh, sebelum aku sempat memangkasnya (menyelamatkan kaumku dari kepunahan). meski semua orang pergi, menyumpahiku dengan doa-doa.

apakah benar doa itu sampai pada tuhan? sebab kamu mengirimnya ke timur, di mana tak ada lagi lautan yang berbuih putih, rumah Tuhan yang suci, tak ada lagi pantai indah, sebab tuhan telah pindah, yang tersisa hanya usus neraka yang menganga.

kita sama tahu, bumi yang beranjak dewasa mengajarkan kita kesalahan, mengajarkan kita membakar udara, membakar musim, membakar diri.

Gresik, 2020


Sore yang Hitam

sore yang hitam, hari-hari buruk. sebuah tanda seru, saat hujan replika turun memandikan semesta yang sial. segala debar jatuh pada lingkar matamu, di mana celaka bersedia menetap lama, membangun rumah dari batu kristal (garam, begitu kamu menyebutnya).

ada awan hitam berjalan lunglai dari kota baru ke kampung nelayan, ganggang-ganggang mengering, ikan kecil, ikan besar tersungkur, seperti zombie, nafsu menyelami mimpi-mimpiku, mungkinkah terselamatkan dari laut yang mendidih di darahmu, atau malah tersungkur, perahu kecil milik orang laut, yang diciptakan demi berlayar menuju pucuk-pucuk langit.

ini bukan bualan, meski bagimu ini hanya derita yang biasa kamu rasa. aku ciptakan, mulut dari kumpulan katastrofi, demi melawan pasukanmu yang berdetak di linimasa. mulut-mulut dungu itu, aku biarkan bebas berguru pada iblis kupu-kupu.

memang sebagian puisi telah dibakar di cordoba, sebagian lagi selamat dan beterbangan ke utara, ke tempatku, para nelayan dungu. pikiranku yang bosan mengkristal telah meledak ketika kata-kata bersandar di ujung dermaga yang kini tinggal tumpukan dusta sejarah.

Gresik, 2020


Keluarlah dari Nirwana

/1/ Buat Arifin
daun kamboja di tanah itu menutup jalan cahaya. saat akar-akar tumbuh sebagai rumput, kamu memilih tidur mendengkur.  dua batu menjeritkan satu nama, sementara dingin, keji menghisap dentum usia. seekor belatung menggigil kelaparan, belatung lain mencakar dagingmu, lalu biji-biji doaku menikam dosa-dosamu.

/2/ Yesterday
segera kamu rapikan musik yang berserakan, di jendela, sebuah kotak memutar hari-hari, lagu yang berteriak sedih, yang tak pernah selesai, terdengar seperti tahlil di puncak langit. tapi tak pernah sampai pada surga ketujuh, surga yang kamu rindu.

tak ada lagi daya, aku dentumkan bunyi talqin, sebuah jalan terjal menuju kepalamu. di telinga, takdir berseteru tentang deretan lagu yang layak membangun rumah; doa seorang yatim atau lagu kematian.

Gresik, 2020


Tertambat ke Dasar Laut

tertambat ke dasar laut, tubuh payahmu. aku berenang sebagai biota kerdil di samudera perutmu. adakah laut yang sama kelam, sama dalam?

lihatlah es yang dulu gagah, mempertahankan diri agar tak meleleh. seribu satwa menua. di padang lamun, aku melihat kota dibangun rapi, dibangun tinggi, meski umur yang pendek bersiap menempati.

rumah replika dilipat saat bahaya datang menyerang, tigapuluh meter di bawah es, bintang lily melambai, menyapaku dengan salam, keselamatan menjaganya dari bengis dunia.

di laut, aku menjumpai pintu-pintu, di mana aku benar-benar tak tahu, dari pintu mana hiu yang menelan yunus masuk menenteng kiamat. waktu yang tergelincir dari bongkahan es membawa pengetahuan tak terbatas, mengantarku menikmati pengiun kaisar yang bergerak cepat seperti cintamu yang buru-buru pergi dari hati.

kepatuhan hanya milik hantu-hantu yang mengimani gelap, gelap yang membuka celah agar aku bisa membuka mata, menangisi keindahan ubur-ubur mahkota, mengacungkan jari tengah pada hari-hari sulit yang gagal dihitung angka-angka.

aku tak berhenti berenang, meski seluruh dasar laut kini jadi teka-teki.

Gresik, 2020


Lelaki yang Memakan Ekornya

takdir sebenar-benarnya bersalah, aku tetap lahir, laki-laki bebal yang memakan ekor sendiri. kelaparan menyerbu kota, membentuk lubang perut berbentuk persegi, sudut yang menyimpan sedikit wajah basahmu, yang aku teguk demi zaman-zaman memabukkan. tetes-tetes yang menumpas dahaga, meski tetap saja aku terbiasa memakan ekorku sendiri.

(mungkin) aku tidak bebal, sesekali aku ikut ke mana pendoa mengirim jejaknya, pada lapar, segala dusta, menyebarlah seperti zombie membelah diri.

tapi usia selalu muncul sebagai teka-teki. matahari yang dicuri dari diksi puisi, mempercepat langkah aku ke bibir neraka.

(mungkin) surabaya lebih tahu bagaimana rasanya menetas dari luka, setumpuk diksi sulit yang setiap koma menjerit, membelah diri jadi keping-keping hujan khianat. lafal-lafal tahlil kamu cipta dari kedunguanmu, tanpa kamu tahu bahwa aku tak bisa mati, sebab aku hidup dari memakan ekorku sendiri.

Gresik, 2020

Azhar Bashir

Azhar Bashir

Lahir di Gresik, 1993. Alumnus Sastra Indonesia UNAIR. Aktif berkegiatan di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar. Beberapa karyanya termuat dalam antologi bersama Mutasi Genetik (Sastra Indonesia UNAIR, 2012), Ladang Jembalang (Sastra Indonesia UNAIR, 2013), Love Knows No Boundaries (Sastra Inggris UNAIR, 2015), Dan di Genggaman Ini, Mengalir Sihir (Bengkel Muda Surabaya, 2019).

All stories by:Azhar Bashir
Azhar Bashir

Azhar Bashir

Lahir di Gresik, 1993. Alumnus Sastra Indonesia UNAIR. Aktif berkegiatan di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar. Beberapa karyanya termuat dalam antologi bersama Mutasi Genetik (Sastra Indonesia UNAIR, 2012), Ladang Jembalang (Sastra Indonesia UNAIR, 2013), Love Knows No Boundaries (Sastra Inggris UNAIR, 2015), Dan di Genggaman Ini, Mengalir Sihir (Bengkel Muda Surabaya, 2019).

All stories by:Azhar Bashir
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.