MENU
muralkeun wae

18 Oktober 2017 Catatan

Puisi, Jeda Sebuah Kota

Mungkin benar, perkataan penyair terbesar Amerika, Allen Ginsberg “bahwa puisi bisa menjadi renungan di manapun dan kapanpun, cocok dibaca dalam waktu sesingkat-singkatnya. Karena mediumnya yang sangat pendek”. Akan lebih memberi kesempatan pada masyarakat untuk menciptakan ruang merenung pada laku pikiran dan batinnya, ketika rutinitas menjadi sesuatu yang amat membosankan. Kerap kali, rutinitas lambat laun menjadi ‘berhala’ itu sendiri. Sehingga, sedikit waktu kita untuk menyerap karya-karya puisi yang ditulis oleh para penyair.

Saya paham, di era millennial ini, puisi seperti harus berbagi tempat duduk sangat sempit dengan kedigdayaan teknologi, seliweran meme-meme busuk di internet dan berita hoax yang kerap menjadi viral di gawai kita. Dunia semakin bingar, tapi tidak bercahaya. Kata-kata diproduksi sedemikian rupa, lalu menjadi berita hoax yang menganjurkan kebencian dan tak ayal menjadi perang kata-kata. Tidak ada penghayatan di situ. Yang ada adalah gempa bumi kata-kata. Tsunami prasangka buruk antar sesama,

Sungguh, kita tidak bisa menolak dinamika tersebut. Namun, bisa mengatasinya dengan berbagai cara yang lebih puitis dan indah. Lalu menciptakan kesempatan bagi puisi untuk berkembang biak lebih luas dan menjadi proses citra dalam yang sangat personal, sangat intuitif. Dan di sinilah peran kota untuk menyediakan halaman depan bagi puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair. Bandung yang notabene kotanya para penyair, harus ambil bagian. Sehingga puisi yang ditulis para penyair sedikit bernapas di era millennial ini. Dibaca berbagai kalangan masyarakat. Tidak hilang tergerus angin waktu. Tidak menjadi lumut di antara rerentuhan kota tua. Namun, menjadi kabut pagi yang menyejukkan. “Dan puisi tidak mati iseng sendiri,” ujar Bambang Q. Aness, tempo hari.

Beberapa halte yang ada di Bandung, kini disulap menjadi ‘halte sastra’. Ide ini digagas oleh komunitas Rindu Menanti dan Fahmi Rosihan, sebuah interupsi estetik. Sastra dihadirkan di ruang publik, yakni lewat halte. Halte menjadi tempat pemberhentian bagi siapapun yang hendak pulang atau pergi. Lalu berbagai buku-buku sastra disediakan oleh mereka. Sehingga siapapun bisa membacanya sambil menunggu angkutan umum. Halte di Bandung pun menjadi lebih bernyawa dan manusiawi.

Gelaran Seni Bandung#1 merespon ide Komunitas Rindu Menanti dengan menggaet Pemerintah Kota Bandung dan Komite Sastra Seni Bandung#1. Hal itu untuk mempertajam estetika sastrawi di sebagian besar halte-halte di Bandung. Salah satunya dengan menghadirkan teks-teks puisi para penyair Jawa Barat yang akan dimuralkan.

Tentu memilih kutipan puisi serta proses kerja kreatif cukup menguras pikiran. Karena kutipan puisi yang dipilih lalu dimuralkan, bertahun-tahun kelak akan menjadi ikon terhadap si penyair itu sendiri. Beberapa Halte Sastra di Bandung yang akan menghadirkan kutipan puisi berada di Halte Margahayu Raya, Halte Show Room Hyundai, Halte Tugu Ikan Jalan BKR, Halte Jalan Sukabumi, Halte SPBU Binong, Halte Sukajadi, Halte SMK Medika Com, dll.

Ketika ditugaskan Bambang Q. Aness, selaku ketua Komite Sastra Seni Bandung#1 untuk memilih kutipan puisi dari para penyair Jawa Barat sesuai dengan selera saya, saya pun sangat antusias menerima tugas puitis ini. Tentu, saya harus membaca keseluruhan puisi-puisi karya mereka, seperti dari buku puisi tunggal dan berbagai antologi puisi bersama. Karena inilah saatnya, teks puisi bisa bekerja di hadapan publik yang lebih luas, melalui beberapa pendekatan artistik.

“Mungkin kita memerlukan pendekatan yang berbeda sama sekali. Mungkin sastra dapat didefinisikan bukan berdasarkan ke-fiktif-an atau ke-imajinatif-an, melainkan karena sastra menggunakan bahasa dengan cara yang unik,” kata Terry Eagleton, dalam Literary Theory: An Introduction (1983).

“Jika Anda mendekati saya di halte bus dan bergumam ‘Dikau pengantin perawan kesunyian’ maka saya akan langsung sadar akan kehadiran sastra. Saya menyadarinya,karena tekstur, irama, dan resonansi kata-kata Anda melebihi makna ungkapannya atau seperti para ahli bahasa mengistilahkan secara teknis, ada disproporsi antara penanda-penanda dan petanda-petanda,” tambah Eagleton.

Sebelum menentukan kutipan puisi mana yang cocok dimuralkan oleh komunitas Rindu Menanti, Seni Bandung#1 dan Pemerintah Kota Bandung. Saya memilih 50 kutipan puisi para penyair Jawa Barat, dari generasi kolot sampai generasi 80an.

Sampai tulisan ini dibuat, saya mendapatkan info sudah ada beberapa kutipan puisi dari beberapa penyair Jawa Barat yang sudah dimuralkan di beberapa titik ‘halte sastra’ di Bandung oleh Komunitas Rindu Menanti, yakni puisi dari Juniarso Ridwan berjudul Senja di Bandung Utara “Hari-hari yang tersisa, hanya tercatat di kertas buram dan telah lama terlupakan. Berbalut dingin menatap sekeliling yang asing, jalan yang melingkar tak berujung.” Kutipan puisi Juniarso di atas, saya kutip di buku puisi tunggalnya, berjudul Robocop, hlm. 84.

Lalu, ada puisi berjudul Ia Memilih Jalan Asing, karya Nenden Lilis Aisyah “Para pejalan tak pernah melalui jalan itu lagi. Tapi ia lewat juga dan menanti terus menanti. Barangkali seseorang akan menemaninya ke tujuan.” Kutipan puisi Nenden tersebut, saya ajukan kepada Seni Bandung# 1 dari buku antologi bersama para penyair Jawa Barat, Napas Gunung.

Selain Nenden, terdapat kutipan puisi dari Acep Zamzam Noor. Saya rasa, puisi Acep cocok dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat. Selain diksi yang kuat, juga gagah dari segi bahasa. Saya memilih puisi Acep berjudul Jembatan Bambu yang sudah dimuralkan oleh Komunitas Rindu Menanti di Halte Show Room, Bypass depan Mall Metro, begini bunyi kutipannya:

“Tapi dimanakah kita? Di manakah kita sekarang? Masih terus kukenang saat kau melambaikan tangan, menyeberangi jembatan. Aku memandangmu tanpa bicara.” Puisi ini saya kutip dari buku antologi puisi tunggal Acep berjudul Tulisan Pada Tembok. Kelak, puisi ini bisa mewakili hati generasi anak-anak muda, yang sedang mengalami sedu sedan percintaan yang getir.

Di samping itu, juga ada kutipan puisi dari beberapa penyair Jabar seperti Saini KM, Jeihan, Cecep Syamsul Hari, Ahda Imran, Agus R Sarjono, Beni R Budiman, serta Soni Farid Maulana. Tentu, kutipan puisi mereka harus mendapat persetujuan dari pihak-pihak terkait sebelum dimuralkan.

Mungkin, kita perlu merenungi ucapan penyair terbaik generasi 80an, Wahyu Goemilar pada puisinya berjudul Padang, “Tuhan hanya memberi kita tanda: semesta tapi betapapun nyatanya, kita tak mampu mengurai simpul makna. Kita pun lelah, tapi tak pernah berhenti mengarungi samudra rahasia.”

Begitu juga dengan puisi-puisi para penyair yang akan dimuralkan di ruang publik kota Bandung. Puisi akan memberi jeda atau spasi bagi riuhnya sebuah kota. Selagi puisi mereka dihadirkan di ruang publik, kita tak pernah lelah untuk membaca. Karena di dalamnya terdapat samudra rahasia. Di sinilah fungsi puisi bekerja untuk kita semua. Setidaknya untuk merenung beberapa saat. Hanya beberapa saat.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>