Puisi Dedi Sahara

820 510 buruan

Mungkin Ada Musik di Dalam

Mungkin ada musik di dalam
lengking sax memecah lamunan pada akanan
saat udara makin jenuh
tak ada bulan ganih
dan kuntum bunga cengkih
hanya cemas mengisi gelas-gelas malam
detak jam memeram rindu yang lebam
pada suhu tubuhmu.

Sementara puisi yang kucinta setelahmu
kini berkhianat
kata-kata hanya sibuk bersolek
memuja diri sendiri
tak lagi peduli dengan ibu bapakku
yang tak henti memahat batu nasib
pada mesin pabrik
hingga aku menjelma Odisius
mengembara menuju Ithaka
seraya melagukan tarhim Ibrahim
dengan lambung terluka.

Mungkin akan ada,
mungkin takkan ada
musik di dalam
tapi aku akan masuk
meretas mimpi buruk
di hitam pelupuk
mengekalkan kesiur suaramu
di setiap pintu lagu
hingga tuntas pedih peri
dalam setiap denyut hari.

2015

Gitar
:Garcia Lorca

Kelopak tangan gemetar
saat memetik senar gitar
yang menusuk kantung matamu
hingga mengalir sungai biru.

Seketika duri-duri mawar
memercik ke senjakala dadaku
sebelum tercium uap fajar
sebelum selesai lagu.

Kuhentikan nyanyian malam itu
tapi, masih menggema ratapanmu
di dinding-dinding kuning gading
menghambat arus angin pada kemuning

menyesakan lembut napas waktu
hingga wajahku pucat ungu
seperti wajah bulan peradaban;
membawamu ke lautan kesedihan.

2015

Refrain

Sejak hari itu, tak ada lagi sepotong roti dan merah anggur
yang diberkati di cawan kami. Sungai Maria dan daun-daun
zaitun telah direnggut dari keriput tangan kami. Hanya sisa doa
di udara pengap dan maut selalu meluncur dari hitam mulut meriam,
menghancurkan dinding-dinding harapan. Menyisakan kesedihan
di mata anak-anak kami yang periang dan lugu.

Maafkan kami, jika sampai saat ini tak pernah fasih
melantunkan mutiara ayat-ayatMu.
Tapi lihatlah, hati kami masih mengucurkan darah
dan telah sangat payah menanggung beban penderitaan
yang seakan-akan tak pernah berakhir.

Kami ini fakir, maka jangan lagi tinggalkan kami;
terpancang di sepokok kayu menanggung rasa sakit semesta
Jangan biarkan kami porak-poranda di tanah suci ini
sebab kami tak pernah mencintai selongsong peluru
atau runcing mata tombak yang tertancap
di lambung kekasihMu.

Sementara di lubuk hati paling sunyi, telah kami ukir
firman cinta-kasihMu yang terucap melalui
rekah bunga-bunga kehidupan.
Maka sekali lagi, jadikan kerajaanMu
di tanah kami yang masih terlunta
dihati kami yang terluka.

Jadikanlah kerajaanMu.

2015

 

Biodata penulis:
Dedi Sahara, lahir di Bandung, 2 Desember 1992. Bergiat di ASAS UPI. Menulis puisi dan esai. Beberapa karya dipublikasikan di Indopos, Sinar Harapan, Radar Tasikmalaya, Radar Surabaya, Sorge Magazine, Media Indonesia, dan Buruan.co.

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.