Puisi Astrajingga Asmasubrata

702 336 buruan

Kepada Puisi

engkau, cahaya yang memancar dari kata
seberkas sinar tata bahasa
yang berpadu-padan dalam rima
dan aku, penafsir terlunta meraba frasa
pada labirin gelap mazhab
itibar pencarian seluruh sebab

engkau, cuaca yang menyirat riwayat duga
tak terjamah nyalang semata
terhidu sebagai deru angin di utara
dan aku, musafir yang terjebak arah peta
mengira ini jalan menuju negeri sunyi
tempat sembunyi dari diri sendiri

engkau, kuntum yang menyimpan harum
dengan sejumlah duri menjelma hari
sebagai satu-satunya harapan akan nanti
dan aku, bersetia menunggu kedatanganmu
yang kuyakini pasti mekar dan kepadaku
kau kirimkan keharuman sebuah puisi

2015

Di Langit Matanya; 36 Jam Iblis Tertawa

bosan juga membunyikan lonceng tua
yang menggantung di langit matanya
kudengar “ia” melemparkan senyuman
pada sejumlah keinginan bunuh diri
tak ada waktu yang tepat untuk
keputusasaan bagi jasad hitam itu
lalu aku menjabat tangannya
seraya mempreteli seluruh haru
yang menyempal dari cinta pertama
tiada lagi kesedihan
juga tak ada air mata
selain katakatakata
berdentang tanpa kenangan
di hadapan perjumpaan dan perpisahan
kecuali langit matanya tetap kedap suara
walau iblis meronta meminta desah itu
saat dulu tiga jantan mendaki jenjang lehernya
yang membuat gairah tak lagi rumah
bagi hati yang selalu tualang
namun ketika “ia” menyadari
bahwa segala sesal tak lebih sekadar:
satu mata dan satu punggung bersitatap
ada bunyi lonceng tua menggema
di langit matanya; 36 jam iblis tertawa

2015

Kekal

ketika rebah kau malih menjadi sawah
dan aku petani yang merasa dirahmati
hujan securah demi securah
di situ, kusemai bibit-bibit terbaik
tetunas tumbuh seperti harap
aku akan menjaga, merawat, menakzimi
sampai kau bunting dan melahirkan
ribuan butir nasi di atas piring
sebagai bekal kehidupan yang kusantap
kelak jika maut menjemput aku
akan kuwartakan kepada malaikat itu
bahwa jasad mungkin tak bernyawa lagi
tapi cintaku yang petani
tetap hidup; tepat di dalam kau!

2015

Biodata Penulis
Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon, bekerja sebagai tukang cat duco – melamik – politur di Jakarta Timur, Penggerak Komunitas Malam Puisi Jakarta. Penulis sedang menyelesaikan Buku Sehimpun Puisi Ritus Khayali dan dapat dijumpai di akun Twitter @edoy___

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.