Problematik Budaya Antre di Indonesia

822 820 Muhammad Fasha Rouf

Beberapa tahun ke belakang, menjelang perayaan hari besar umat Islam di Batam, Gresik, dan Makassar, orang-orang ricuh demi mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR). Bahkan kehilangan nyawa karena terdesak dan terinjak dalam antrean. Tak hanya itu, di masa krisis sebelum reformasi pada 1998, kelangkaan minyak tanah membuat masyarakat kita ribut dan saling sikut saat berebut minyak tanah.

Boleh kita menuduh bahwa masalah mengantre itu hanya terjadi pada kelas menengah ke bawah karena kurangnya akses pendidikan dan kondisi ekonomi. Namun, pada Agustus 2017, terjadi penjebolan sebuah toko sepatu merek ternama asal Amerika saat pesta diskon besar-besaran. Penjebolan itu terjadi sebab orang-orang malas mengantre lebih lama lagi. Ironinya, kejadian itu terjadi di Mall Grand Indonesia. Tempat belanja kelas menengah atas.

Mengantre jadi salah satu problem kebudayaan. Begitu kompleks. Sastra secara responsif turut berperan menyumbang ide untuk mengatasi persoalan ini. Salah satunya lewat buku racikan Palupi Mutiasih dan Oryza Sativa berjudul Antri Bersama Kak Riri.

Buku ini memberikan sudut pandang lain terhadap problem mengantre masyarakat Indonesia. Lewat cerita yang menarik dan alur ciamik, buku ini mencoba menanamkan urgensi budaya mengantre kepada anak-anak sekolah dasar.

Buku ini tak mengandung teks-teks dengan bahasa akademis, alur njelimet, serta konflik terlalu rumit. Di setiap halaman, teks sangat singkat. Paling banyak hanya terdiri dari tiga kalimat dengan 18 jumlah kata. Cara bercerita seperti ini menjadi kecerdasan Palupi dalam membaca kondisi anak. Anak usia sekolah dasar memang belum dapat menangkap bahasa-bahasa kompleks.

Bagi pembaca dewasa, cara untuk menikmati buku ini adalah dengan mencoba berpikir seperti seorang anak-anak. Hasilnya sangat mengasyikkan. Detail peristiwa akan terasa lebih nikmat, apalagi ditambah penggambaran latar yang begitu baik dari sang ilustrator. Dialog-dialog pendek dan intens mampu merangsang ingatan pembaca untuk kembali menjadi seorang anak kecil yang cerewet namun kritis.

Buku ini menggunakan alur maju lewat dua tokoh utama dengan penjelasan latar belakang yang cukup singkat. Klimaks cerita di buku ini adalah ketika Rino merangsek masuk ke bagian depan antrean, hingga ia jauh dan hilang dari pandangan Kak Riri. Rino pun dimarahi oleh orang-orang. Tak ada seorang pun menolongnya hingga Kak Riri datang.

Dugaan saya, Kak Riri akan memberinya nasihat kepada Rino. Jika begitu, cerita buku ini akan terasa sangat buruk karena benar-benar tersurat seperti tayangan sinetron religi. Akan tetapi, ternyata Palupi menghadirkan cara berbeda. Ia dengan tiba-tiba memunculkan seorang anak perempuan untuk berkata kepada Rino, “lain kali harus antri seperti aku”. Pesan yang pendek namun tajam dan dalam.

Meskipun menarik, alur cerita tetap memiliki titik lemah. Kondisi serba tiba-tiba dan serta merta dalam rangkaian alur cerita justru memperlemah rangkaian cerita. Segalanya seolah terjadi begitu saja, tak membawa anak pada petualangan lebih lengkap. Misal, tak ada alasan mengapa Rino menyukai lenong. Kak Riri tak berusaha menahan saat Rino merangsek masuk ke antrean bagian depan.  Ada gadis kecil yang tiba-tiba menasihati Rino.

Lepas dari hal itu, buku ini tak hanya menyinggung soal pentingnya mengantre. Lebih jauh, kesadaran pembaca dapat terusik dengan pertanyaan, “untuk apa kita mesti mengantre?” Pertanyaan ini sangat kontras dengan tujuan orang-orang mengantre seperti saya ceritakan di awal. Buku ini dengan gayanya sendiri berani menyatakan bahwa kita mesti mengantre untuk sebuah kerja kebudayaan. Kerja kebudayaan yang diwakilkan kepada Rino dan Kak Riri ketika mengantre karena mereka ingin menonton sebuah pertunjukan lenong di Setu Babakan.

Hal menarik lainnya adalah penggunaan Ondel-ondel sebagai kover buku. Salah satu produk budaya masyarakat Betawi itu memiliki impresi dan ironi tersendiri. Ondel-ondel memang semakin banyak, tapi ‘sempoyongan’ di jalanan. Posisinya menjadi budaya termarjinalkan di tengah kebudayaan urban kota Jakarta. Seniman ondel-ondel terpaksa harus meminta uang recehan dari orang-orang agar mereka tetap bertahan. Di pusat pemerintahan dan perbelanjaan, ondel-ondel hanya jadi alat politik dan penggemukan kantong kapital pengusaha saja.

Di luar konteks buku ini, kita mesti memeriksa sejauh mana sastra anak, khususnya dalam bentuk buku cerita, mampu berperan penting dalam kehidupan anak-anak saat ini. Sebuah tantangan berat ditengah gempuran produk-produk tontonan film-film kartun dan animasi. Kegelisahan terhadap literasi anak-anak ini bukanlah hanya tanggung jawab Palupi dan Oryza semata. Mereka telah berkarya untuk mendidik anak-anak agar memiliki karakter baik. Kita sudah seharusnya menjadi bagian dari upaya itu, agar generasi mendatang tidak terlepas dari pelukan kebudayaannya sendiri. []

Judul Buku      : Antri Bersama Kak Riri
Penulis             : Palupi Mutiasih
Ilustrator         : Oryza Sativa
Penerbit          : Asasupi
Tahun              : 2017
Tebal               : 24 halaman
ISBN                 : 978-602-6675-02-6

Muhammad Fasha Rouf

Muhammad Fasha Rouf

Redaktur Rubrik Resensi Buruan.co. Lahir di Cianjur. Peneliti partikelir.

All stories by:Muhammad Fasha Rouf
3 comments
Leave a Reply

Muhammad Fasha Rouf

Muhammad Fasha Rouf

Redaktur Rubrik Resensi Buruan.co. Lahir di Cianjur. Peneliti partikelir.

All stories by:Muhammad Fasha Rouf
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.