Piknik Asyik ala Hey Journey Bandung

820 820 Zulkifli Songyanan

tebing, jembatan
kelokan sungai, serta
kuburan kampung
lubuk antara,
dua julangan, hunjaman
batas alamiah
tempat menyawang
luang di puncak bukit
-dan panorama
tempat bersantai
usai lelah menyusur
jejak leluhur,

(Beni Setia, Bukit Soreang)

Sebuah Landrover hijau dan sebuah VW Safari kuning merapat ke gigir jalan depan Carefour Kiaracondong Bandung, Sabtu pagi (15/9/2018). Muhammad Iqbal Rhamdani dan Bobby Akbar turun dari Landrover lantas menyapa Wahyuni Novianti dan Yudha Ardianto yang setengah jam sebelumnya sudah menunggu dan bersiap di halte depan Carefour.

Saya, di sana bersama Wahyuni dan Yudha, kemudian meletakkan bawaan masing-masing di VW Safari. Oh, bukan. Hanya saya dan Yudha yang menyimpan tas di mobil klasik kuning itu. Wahyuni bergegas menaiki Landy dan bergabung dengan sekelompok perempuan lain yang sudah bersiap di jok belakang: Neni Agustiani, Tiur Meilinda, Anggi Puspitasari, dan Mey Sitorus. Keempatnya bekerja di salah satu perusahaan milik negara di Jakarta.

Tanpa banyak bicara, perjalanan pun dimulai. Menyusuri jalan lengang Soekarno-Hatta rombongan kemudian belok kiri di Pasir Koja, menuju tol Seroja. Tak sampai setengah jam, kami sudah sampai di halaman depan Gedung Sabilulungan, salah satu ikon Soreang, ibukota kabupaten Bandung.

“Jangan terlalu berekspektasi. Sebetulnya perjalanan ini diniatkan untuk main-main saja. Jangan berharap nanti kita akan makan di tempat yang wah, atau tidur di hotel mewah. Kita mau mengajak teman-teman kamping. Itu saja. Mudah-mudahan menyenangkan,” terang Iqbal, tour leader kegiatan tersebut, saat memberi arahan pada rombongan.

Di Soreang, kap VW Safari dibuka. Saya dan Yudha duduk di belakang. Di barisan depan ada Dito Darmawan dan Andri Daud (sopir). Jalanan menanjak, angin segar berembusan. Kampung demi kampung, lembah dan bebukitan, deretan rumah dan warung-warung—lanskap-lanskap yang mengingatkan saya pada baris-baris pastoral puisi Beni Setia—kami lewati dengan gembira.

Tujuan pertama jalan-jalan ini adalah Ciwidey, di selatan.

Sebetulnya, selain duet Land Rover dan VW Safari, sebuah Terrios putih juga turut serta dalam rombongan ini. Di Terrios itu, Iqbal dan Anggi Andriyana (fotografer cum videografer) duduk. “Abah” Asep Ruhyana berada di balik kemudi.

Sesampainya di perkebunan teh Rancabali, rombongan asyik sendiri. Maklum saja, berkendara dengan Land Rover dan VW Safari membuat kami jadi perhatian orang-orang. Apa boleh bikin, yang penting kami senang. Dan kesenangan itu kian menjadi manakala Anggi sang fotografer mengeluarkan dronenya. “Silakan bergaya….kita mau bikin videonya,” demikian seru Abah Asep, memberi aba-aba via handy talky.

Dari Rancabali, formasi berganti. Saya, Yudha, dan Dito pindah ke Landy, sedang peserta perempuan mulai duduk-duduk manis di VW Safari. Perjalanan diteruskan, melewati Sinumbra, menuju Curug Citambur. Bagi sebagian orang, jalur Ciwidey-Citambur terbilang ekstrem. Selain kondisi jalanannya sebagian rusak—dan kian parah di musim hujan—kontur berkelok dengan tanjakan-tanjakannya yang curam juga memberi tantangan tersendiri. Untunglah sopir kami, Boby dan Andri, mahir betul menghadapi jalanan ini. Alih-alih was-was, kegembiraan kami kian meluap.

“Daaaaaaaaah,” seru rombongan perempuan, sambil melambaikan tangan, tiap kali melewati anak-anak yang menatap mereka dengan pandangan terkagum-kagum.

Di Citambur, curug dengan ketinggian sekitar 130 meter yang berada di wilayah Cianjur Selatan, kami menikmati ketenangan suasana sekitar. Umpama lukisan-lukisan Moi Indie: sawah-sawah terhampar di kejauhan, sebuah selokan mengalir jernih. Bukit-bukit dengan siluet hijau kehitaman tak ubahnya dinding alam yang membentengi. Setelah puas menikmati pemandangan (dan tentu saja berfoto-ria), agenda selanjutnya adalah makan siang dengan menu sedap perdesaan: nasi liwet hangat, goreng tahu-tempe, asin peda, jengkol, serta sambal tomat dadakan. Maka nikmat mana lagi yang kami dustakan?

Menuju Gambung
Dari Citambur, perjalanan kembali ke rute sebelumnya: menuju Ciwidey via Sinumbra. Setelah rehat sejenak di sekitar Kawah Putih, kami bergegas menuju destinasi utama Cross Road ini: Kebun Teh Gambung.

Dalam Kisah Para Preanger Planters (2014), almarhum Her Suganda menyebut kawasan perkebunan teh Gambung pertama kali digarap Rudolf Eduard (RE) Kerkhoven pada Januari 1873. Saat masih tercatat sebagai mahasiswa di Politeknik Delf, Belanda, RE Kerkhoven mengira ia akan menjadi pewaris usaha perkebunan teh yang dirintis ayahnya di Arjasari. Tapi sang ayah, Rudolf Albert (RA) Kerkhoven, berpendapat lain: alih-alih meneruskan, sesampainya di Hindia Belanda anak sulungnya malah diminta membuka perkebunan baru di Bandung Selatan.

Gambung, lokasi yang direncanakan jadi lahan garapan baru trah Kerkhoven itu berjarak sekitar 3 km dari Ciwidey. Dikelilingi hutan belantara dan belukar di sana-sini, Gambung bukanlah medan yang mudah disulap jadi perkebunan. Sebelum RE Kerkhoven datang, sebagian wilayah Gambung adalah area Tanam Paksa. Penduduk sekitar, yang sangat sedikit jumlahnya, diwajibkan menanam kopi oleh pemerintah kolonial. Setelah Tanam Paksa berakhir, kebun kopi di situ terbengkalai. Pekerjaan utama RE Kerkhoven kian berat karena selain harus membabat belukar dan belantara, ia juga harus membersihkan sisa-sisa perkebunan kopi—dengan akar-akarnya yang keras—sebelum menanaminya dengan bibit teh.

“Berkat disiplin dan kerja keras, Gambung akhirnya menjadi salah satu perkebunan teh yang diharapkannya. Apalagi setelah jenis tanamannya diganti yang semula berasal dari Tiongkok ke jenis teh Assam. Bibitnya dibawa dari Ceylon oleh pamannya, AW Holle, di Sinagar. Jenis yang terakhir ini, selain lebih cocok iklimnya juga memiliki beberapa kelebihan,” tulis Her Suganda.

Singkat kata, Gambung tumbuh menjadi perkebunan yang sukses. Selain teh, di sana juga ditanami pohon kina. Karenanya, tak heran saat Land Rover dan VW Safari yang kami tumpangi memasuki kawasan Gambung, salah satu hal yang menarik mata adalah plang besar bertuliskan “Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung”.

“Maklum, kawasan ini sudah ada sejak zaman Belanda,” kata Sopyan, penduduk setempat. Kisah mengenai perjuangan RE Kerkhoven saat jatuh bangun mengembangkan perkebunan Gambung bisa Anda pelajari lebih lengkap lewat roman Heren van de Thee (1922) karya Hella S. Haasee yang diterjemahkan dengan sangat apik oleh Indira Ismail: Sang Juragan Teh (Gramedia Pustaka Utama: 2015).

Semi Adventour
Mengusung konsep semi adventour, sesampainya di Gambung rombongan Hey Journey bergegas menuju bumi perkemahan Ranca Cangkuang: sebuah lembah yang dikelilingi perkebunan teh, dibelah sebatang sungai yang jernih. Tenang nian! Di situlah kami kemudian bermalam: membangun tenda, menyalakan api unggun—kami mendapat satu kol buntung kayu bakar dari penduduk setempat—makan malam dan barbeque-an (tenang, untuk urusan buang air dan bersih-bersih, toilet umum berada di sekitar area perkemahan). Tak kalah penting, selain menyediakan sleeping bag dan selimut, panitia juga menyediakan aliran listrik meski kami bermalam di area yang jauh dari perkampungan (via aki dan inverter). Sekali lagi, nikmat mana lagi yang kami dustakan?

Keesokan harinya, setelah sarapan dan bermain di sungai, panitia meminta kami beres-beres. Tapi bukan untuk pulang. Tenda-tenda dibenahi, sisa pembakaran dibereskan. Barang-barang diangkut ke atas mobil. Sedang kami cukup jalan kaki ke lahan yang lebih tinggi: sebuah padang datar dengan pemandangan tak kalah menenangkan. Di situlah kemudian, dengan properti yang sudah disiapkan sebelumnya—balon-balon lucu, topi lebar, karpet piknik, meja kecil, bantal sofa, bean bag, keranjang buah, minuman segar, dsb—rombongan dipersilakan untuk foto-foto sepuasnya. “Mirip prawedding,” komentar Dito, antusias. Di era Instragram begini, bergaya di atas Land Rover atau VW Safari, dengan latar hijau perkebunan teh dan Gunung Tilu membayangi, sungguh jadi kesempatan yang teramat sayang dilewatkan. Inilah salah satu hal yang membedakan Hey Journey dengan penyedia jasa perjalanan wisata lainnya.

“Bagi kami, yang terpenting dari kegiatan ini bukan semata dengan siapa Anda pergi, atau destinasi macam apa yang Anda kunjungi. Suasana selama perjalanan, juga kendaraan yang digunakan, adalah pengalaman menarik yang kami tawarkan,” terang Iqbal.

Setelahnya, dengan perasaan puas, perjalanan dilanjutkan ke rumah Sopyan: waktunya makan siang (menunya tak kalah sedap dari menu-menu sebelumnya: nasi hangat, ayam goreng, petai, karedok, asin, tahu tempe, dan sajian wajib sambal dadakan).

Sopyan adalah warga Gambung yang menggalakan kembali bisnis kopi di daerah tersebut. Kopi Gambung memang banyak dijual dan disajikan di banyak tempat. Adapun yang membedakan kopi Sopyan dengan kopi lainnya ialah Sopyan mempertahankan nama Gambung pada kopinya. “Sebetulnya banyak yang mengambil kopi dari sini, cuma mereka memberi dan menggunakan merek sendiri. Sopyan tidak mau seperti itu,” terang Iqbal. Di rumah Sopyan, selain mesin roasting dan mocca pot, tampak pula beberapa toples kopi bertuliskan “Kopi Gambung”, sebagian ditulis dalam bahasa asing yang tak saya pahami. “Kopi di sini juga dijual sampai ke Ceko, itu kemasannya,” kata Bobi, menambahkan.

Selepas makan siang, rombongan diajak menyaksikan langsung kebun kopi Gambung. Berada di area hutan pinus, mau tidak mau, kami mesti mencapai kebun itu sambil jalan kaki. Tapi tak jadi soal, selain udaranya segar dan kehijauan pemandangannya menyejukkan, berjalan kaki juga penting demi kesehatan. Apalah artinya kenikmatan berwisata bila setelahnya Anda sakit, bukan?

Baca juga:
Puisi Tak Bisa Menggorok Leher Anak-anak
Saat Ajal Tak Berdaya di Hadapan Manusia

Mengendarai Land Rover dan VW Safari, mendatangi tempat-tempat asyik yang belum mainstream, tidur di alam terbuka tanpa sedikit pun kendala, foto-foto asyik sepuasnya (jangan lupa: ada properti-properti menarik yang disiapkan panitia), makan siang di rumah penduduk setempat, hingga jalan-jalan ke kebun kopi menembus hutan pinus adalah paket menarik yang ditawarkan Hey Journey kepada Anda.

Bagi saya pribadi, kalaulah ada hal yang disesali dari pelesiran kali ini, tak lain adalah kesempatan yang belum berpihak untuk menziarahi makam R.E. Kerkhoven. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan kebun kopi dan hutan pinus, sebetulnya. Namun lantaran waktu, kami tak bisa mengunjunginya saat itu.

Lepas dari hal di atas, tak kalah menarik dari kegiatan wisata yang digagas Hey Journey Bandung ini adalah kemasan Open Trip: Anda bepergian dengan orang-orang yang sebagian besar belum pernah Anda kenal sebelumnya. Terkait hal tersebut, Hey Journey tidak hanya menambah pengalaman, namun sekaligus meluaskan jaringan perkawanan.

“Thanks Hey Journey, udah sering bolak-balik ke Bandung baru kali ini dengan suasana yang berbeda. Super keren,” demikian kata May Sitorus, mengungkapkan kepuasannya.

“Kita bepergian, dan sebagian dari kita selamanya bepergian, untuk melihat negeri lain, kehidupan lain, jiwa lain,” kata penulis Perancis keturunan Denmark-Catalunya Anaïs Nin. Pengalaman bepergian dengan Hey Journey Bandung menegaskan pernyataan itu lewat kemasan menyenangkan. Itulah poin paling penting dalam aktivitas pariwisata.[]

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan

Leave a Reply

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
error: