MENU
Akutagawa

8 Juli 2017 Jejak Langkah

Perjalanan Bunuh Diri Ryunosuke Akutagawa

Aku tak mau dilahirkan. Pertama, karena akan sangat mengerikan kalau aku mewarisi keturunan sakit jiwa darimu.1

Barangkali pernyataan itulah yang akan disampaikan oleh Ryunosuke Akutagawa seandainya ia diberi kesempatan memilih sesaat sebelum ia dilahirkan. Pernyataan di atas adalah nukilan dari novelet Kappa karya Akutagawa.

Akutagawa lahir pada tanggal 1 Maret 1892 bertepatan dengan tahun naga dalam kalender Cina, hal ini yang membuatnya dinamai ryunosuke yang berarti anak naga. Ibunya, Fuku Niihara menderita gangguan jiwa sebelum Akutagawa genap berumur satu tahun, sedangkan ayahnya, Binzo Shinhara meninggalkannya karena tak sanggup merawatnya. Akhirnya Akutagawa kecil diadopsi oleh Michiaki Akutagawa, paman dari ibunya.

Akutagawa sadar dan gelisah akan penyakit jiwa sang ibu yang diwarisinya. Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Akutagawa menderita halusinasi visual dan mengalienasi dirinya. Hingga suatu Minggu, tanggal 24 Juni 1927, Akutagawa meninggal karena meminum obat tidur dengan dosis yang berlebih.

Pada pesan terakhir Akutagawa yang ditujukan kepada Masao Kume, teman dekatnya2. Akutagawa mencoba untuk menjelaskan secara sadar motivasinya dalam melakukan bunuh diri. Dalam kasusnya, Akutagawa menyampaikan alasan utamanya adalah karena kecemasan akan masa depannya yang suram, salah satunya disebabkan oleh penyakit jiwanya.

Akutagawa dengan matang memilih cara untuk membunuh dirinya. Menurutnya menggantung diri terasa sangat berlebihan, sedangkan menembak atau menyayat diri punya resiko gagal karena kondisi tangannya yang selalu bergetar, akhirnya ia memilih untuk meracuni dirinya dengan obat-obatan. Karena hal ini, Akutagawa sempat mempelajari ilmu toksikologi untuk memperlancar kematiannya.

Dalam pesan yang sama, Akutagawa menjelaskan pandangan filsafatnya tentang kehidupan, bahwa manusia adalah juga hewan yang takut mati, kehendak untuk hidup manusia tidak lebih hanyalah naluri binatang.

Kekelaman Cerita
Karya-karya Akutagawa kebanyakan mengangkat persoalan psikologis manusia. Ia mulai menulis saat memasuki Tokyo Imperial University jurusan Sastra Inggris pada tahun 1913. Rashomon (1914) merupakan cerita pendek pertamanya yang dipublikasikan.

Rashomon bercerita tentang seorang samurai rendahan pada zaman Heian (tahun 794-1185) yang memergoki seorang nenek sedang mencuri rambut orang mati, samurai tersebut merasa dilematik apakah ia harus berbuat kriminal atau mempertahankan prinsip kebajikannya sedangkan ia mengalami kesulitan materi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk merampok pakaian sang nenek, dengan alasan sama yang dilakukan nenek itu, yaitu kalau tidak melakukannya ia akan mati kelaparan.

“Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tidak melakukannya.”3

Cerita ini tidak bisa dibilang memliliki akhir yang bahagia, baik bagi sang nenek atau samurai sendiri. Hanya dijelaskan bahwa kejahatan dapat terjadi karena motif keterpaksaan untuk melanjutkan hidup. Penulis mengangkat keraguan akan nilai moral yang selama ini kita pegang.

Cerita penting selanjutnya adalah Hana (1916), bercerita tentang seorang biksu berhidung panjang yang menderita karena hidungnya selalu merepotkan dirinya dan murid-muridnya. Ia merasa malu dan teralienasi karena fisiknya itu, namun setelah mendapatkan perawatan dan berhasil mengempiskan hidungnya, justru biksu tersebut mendapat cemoohan lebih terang-terangan dari orang sekitarnya.

Dalam cerita Hana, selain menderita karena ketidaknyamanan fisiknya, sang biksu juga tidak nyaman akan pandangan orang-orang di sekitarnya. Obsesinya justru membuat dirinya lebih menderita.

Dua cerita di atas merupakan karya-karya awal Akutagawa. Akutagawa tidak menghadirkan seorang tokoh heroik yang memiliki motivasi bulat. Dari sini kita melihat bahwa Akutagawa memiliki keresahan terhadap psikologis manusia dalam posisinya sebagai anggota masyarakat.

Akutagawa juga kerap menggambarkan tokoh-tokoh dengan sifatnya yang aneh semisal tokoh Yoshihide dalam cerita Jigoku Hen (1918). Jigoku Hen menceritakan Yoshihide, pelukis berbakat yang tidak disukai karena wataknya yang bebal, semisal ketika melukis ia harus merasakan dan melihat objeknya secara riil.

Hingga suatu saat seorang pangeran besar menginginkan sebuah lukisan neraka dari Yoshihide. Yoshihide pun mengerjakan perintah pangeran caranya sendiri, dengan menyiksa murid-muridnya sebagai objek lukisannya. Hingga untuk akhir lukisannya, Yoshihide meminta pangeran untuk disediakan sebuah kereta yang dibakar dengan seorang gadis di dalamnya. Ternyata gadis yang disediakan oleh pangeran adalah anak dari Yoshihide sendiri. Ia tak bisa menolak dan melanjutkan lukisannya hingga selesai. Di akhir cerita, karena menderita akan kematian anak perempuannya, Yoshihide mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri.

“Laki-laki (Yoshihide) yang ditinggal mati dulu oleh anak gadisnya itu mungkin tidak bisa mendapatkan ketenangan untuk terus menjalani kehidupannya.”4

Karya-karya terakhir Akutagawa seolah semakin terang-terangan menggambarkan penderitaan kejiwaannya. Semisal dalam cerita berjudul Kappa (1927), tokoh senter dari cerita ini merupakan seorang pasien rumah sakit jiwa, ia selalu bercerita kepada para perawat tentang halusinasi perjalanannya di dunia kappa. Sama seperti Akutagawa yang diduga menderita halusinasi sebelum kematiannya. Dalam cerita Kappa juga terdapat tokoh kappa skeptis yang bunuh diri karena lelah menjadi penyair.

Pada tahun yang sama, Haguruma (1927) menceritakan seorang tokoh yang menderita kecemasan dan ketergantungan terhadap obat-obatan, tokoh tersebut merupakan penulis novel yang terganggu kejiwaannya dan kerap mengalami halusinasi, semisal ulat pada makanannya atau roda gigi yang berputar di depan matanya. Penderitaan tokoh juga membuat dirinya menginginkan kematian.

“…Bagiku, hidup di dalam perasaan sepeti ini merupakan sesuatu yang menyakitkan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apakah tidak ada seseorang yang bersedia mencekik diriku sampai mati pada saat aku sedang tidur?”5

Obsesi Akutagawa akan bunuh diri dapat ditemukan dari beberapa karyanya, begitu juga pandangan skeptis akan kemanusiaan. Dapat dikatakan riwayat menulis Akutagawa selama kurang lebih 15 tahun merupakan sebuah perjalanan bunuh diri yang panjang.[]

 

[1] Dikutip dari Kumpulan Cerita Rashomon (KPG, 2015) halaman 42, karya Ryunosuke Akutagawa.

[2] dapat dibaca di http://linguistics.ucla.edu/people/grads/connormayer/papers/cmayer_note_to_an_old_friend.pdf

[3] Dikutip dari Kumpulan Cerita Rashomon (KPG, 2015) halaman 11, karya Ryunosuke Akutagawa.

[4] Dikutip dari Lukisan Neraka Dan Cerpen Pilihan Lainnya (Kansha Publishing, 2013) halaman 61, karya Ryunosuke Akutagawa.

[5] Dikutip dari Lukisan Neraka Dan Cerpen Pilihan Lainnya (Kansha Publishing, 2013) halaman 124, karya Ryunosuke Akutagawa.

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>