Perginya Seekor Burung: Kumpulan Puisi untuk Kalangan Indie

820 820 Ilda Karwayu

Istilah indie yang awalnya dikenal sebagai sebuah gerakan ideologis pada industri musik, kini telah banyak mengalami pelebaran ruang. Akibatnya, ia terseret jauh dari akar makna dirinya. Namun kita tidak sedang memberi nilai baik-buruk terhadap pelebaran tersebut, melainkan meraba keterkaitannya dengan sebuah buku kumpulan puisi.

Membaca kumpulan puisi Perginya Seekor Burung karya Lailatul Kiptiyah mengingatkan saya pada anak-anak indie. Mereka biasanya terkelompokkan melalui ciri-ciri ini: mendengarkan musik indie—padahal, sekali lagi, indie bukanlah genre musik; dan mengikuti selera berpakaian pemusik indie.

Menariknya, musik yang dikata sebagai indie memiliki rumpun kosakata tersendiri. Sebutlah di antaranya, senja, kopi, semesta, luka, dan doa. Kosakata tersebut, jika muncul secara sembarang di lingkaran pergaulan, secara tidak langsung akan mengacu kepada istilah indie. Mengapa ini bisa terjadi, saya tidak begitu detail memahami, hanya sebatas tahu bahwa apa-apa yang diulang di masyarakat tentu akan menjadi referensi umum.

Kosakata di atas sebagian besar menjadi respon sarkastik di kalangan mereka yang bukan indie. Akan tetapi, bukankah orang bebas memberi nilai terhadap apa-apa yang dikonsumsinya? Baik indie maupun bukan indie, anggaplah sebagai kebebasan mereka dalam memilih. Lalu, apa kaitannya dengan buku Perginya Seekor Burung?

Kumpulan puisi yang baru saja terbit pada April 2020 ini, di dalamnya bertaburan kosakata indie. Jika anak indie merasa tersentuh atau secara otomatis memiliki ketertarikan pada sederet kosakata tersebut, buku ini sangat pas untuk mereka. Lagipula, bukankah menulis takarir puitis pada laman media sosial juga telah menjadi kebiasaan anak indie? Maka tepatlah bila mereka baiknya membaca buku kumpulan puisi sebagai tambahan referensi—bukan plagiasi.

Tidak berlebihan pula bila saya berasumsi bahwa membaca kumpulan puisi Perginya Seekor Burung akan memberikan percerahan kepada anak indie tentang apa itu puisi. Puisi bukanlah sekadar tumpukan kata-kata berbait-bait; ada kedalaman makna dan hasil kontemplasi di dalamnya, di mana kecermatan bentuk menjadi pertaruhan.

Perginya Seekor Burung terdiri dari 50 puisi yang ditulis dalam rentang waktu 2011 sampai dengan 2019. Lailatul Kiptiyah adalah salah satu penyair yang konsisten berkarya hingga saat ini. Puisi-puisinya telah banyak tersiar di pelbagai media massa, baik cetak maupun daring. Terhimpun juga dalam berbagai antologi puisi bersama. Perginya Seekor Burung ini adalah antologi puisi tunggal pertamanya.

Puisi-puisi dalam buku Perginya Seekor Burung  mengajak kita duduk di teras rumah sambil meresapi apa-apa yang sebenarnya dekat dengan kita. Di masa pandemi ini, kembali ke rumah—ke dalam diri dan sekitar tubuh—adalah kegiatan aman yang paling mungkin dilakukan. Diksi-diksi sederhana yang disusun secara cermat dalam puisi-puisi Lailatul Kiptiyah masih menjadi pertaruhan optimal yang sangat layak dinikmati.

Senada dengan pendapat Irma Agryanti dan Inggit Putria Marga—yang tertulis pada sampul belakang buku—kehangatan dan kepedihan terasa normal dalam puisi-puisi bersampul langit putih dibalut awan-awan jingga ini. Mari tengok salah satu puisi di dalamnya:

Hujan Senja

pada senja hujan menutup
ufuk
riciknya mencipta alur
putih, sepi dan rapi
serupa tangan mimpi
ia usap ketiap lekuk
sedih
dunia ini

Pagesangan, 2017

Puisi-puisi dalam Perginya Seekor Burung membuktikan bahwa diksi-diksi indie tidak selamanya banal—sampai harus dibuang dari diksi puisi “berkualitas”. Bongkar-pasang posisi kata dan kecermatan tipografi membantu kita menggali kedalaman makna pada puisi. Meski demikian, perlu diakui pula bahwa saat ini memang tidak banyak penyair Indonesia yang menggarap puisi berdiksi sederhana. Kerja-kerja eksperimen kosakata membanjiri dunia kepenyairan kita.

Bagaimanapun, puisi toh akhirnya akan menemukan benang hubungan antara dirinya dan pembaca. Sejauh mana puisi mampu menjangkau (dan dijangkau oleh) masyarakat? Tentu tidak semua penyair sadar akan pasar pembaca—kalau pun sadar, biasanya terjadi kompromi pada kualitas karya.

Para penyair membiarkan pembaca yang menemui puisi, tapi saya melihat kebalikan pada buku setebal delapan puluh dua halaman ini; puisilah yang menemui pembaca. Puisi-puisi Lailatul Kiptiyah unggul dalam meraih pembaca tanpa harus menggadaikan kualitasnya. Ia bisa dinikmati oleh pembaca sastra, diterima pula oleh mereka yang tidak terbiasa membaca sastra.

Selain itu, jika kembali bicara tentang indie yang berdasar pada pergerakan ideologisnya, proses penggarapan buku Perginya Seekor Burung merupakan contoh yang tepat. Bukankah pergerakan indie, di mana kata indie sendiri berasal dari kata independent, muncul atas dorongan para musisi yang ingin bebas menggarap musiknya? Musik yang menolak diatur oleh pasar—oleh mayor label yang membentuk pasar tersebut. Maka, jadilah proses pendistribusian musik dilakukan secara mandiri juga oleh para musisi.

Kumpulan puisi Perginya Seekor Burung menjalani proses yang sama. Ditulis dengan kekonsistenan otentik—tidak membebek pada tren puisi masa kini. Lalu digarap proses penerbitannya oleh salah satu komunitas sastra independen di Pulau Lombok bekerja sama dengan salah satu penerbit indie Yogkayarta. Kemudian didistribusikan secara mandiri oleh si penulis dan teman-teman sekomunitas.

Kurang indie apa buku puisi ini?

Oleh karenanya, sembari belajar berdamai dengan pandemi, ada baiknya kita memperbaiki asupan otak dan batin dengan membaca karya sastra, dan Perginya Seekor Burung adalah pilihan yang tepat.

Identitas Buku
Judul buku     : Perginya Seekor Burung
Pengarang    : Lailatul Kiptiyah
Penerbit         : Halaman Indonesia-Komunitas Akarpohon
Cetakan        : Cetakan pertama, April 2020
Tebal              : 82 halaman
ISBN                : 978-602-0848-58-7

Ilda Karwayu

Ilda Karwayu

Menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Buku puisinya Eulogi (PBP 2018). Pernah hadir sebagai salah satu emerging writers pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019. Belajar menulis kreatif di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, NTB.

All stories by:Ilda Karwayu
Ilda Karwayu

Ilda Karwayu

Menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Buku puisinya Eulogi (PBP 2018). Pernah hadir sebagai salah satu emerging writers pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2019. Belajar menulis kreatif di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, NTB.

All stories by:Ilda Karwayu
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.