Pembacaan Awal Tanda bagi Tanya Karya Frischa Aswarini

820 820 Dian Hartati

tapi yang kutahu dari ilmu
tak ada sepasang roti
mampu berdekapan di situ
dalam hampa udara
tanpa tanda bagi tanya

(Puisi “Hangus Rotiku”, hlm. 11)

Puisi-puisi Frischa Aswarini dalam kumpulan puisi Tanda bagi Tanya menyuguhkan beragam peristiwa kehidupan. Kejadian-kejadian dinarasikan melalui bahasa-bahasa sederhana, namun penuh perenungan. Pemaknaan kehidupan tersebut mengerucut pada tafsir waktu. Jika membaca satu kali atau selintas, pembaca memang hanya disuguhkan deskripsi suatu tempat, panorama yang barangkali pernah dilihat secara langsung oleh penulis atau bahkan imaji yang dihadirkan aku lirik.

Memandang alam sebagai perenungan jiwa, seperti dalam puisi “Kembali ke Laberge”.

pada angsa yang dulu
kusisipkan selapis tanya tentang muasalnya
         melekat di sela tipis bulu sayap
yang gugur perlahan
sepanjang migrasi ke selatan

(Puisi “Kembali ke Laberge”, hlm. 25)

Dalam larik-larik puisi tersebut aku lirik mengingat waktu yang pernah dilaluinya, penggunaan diksi “dulu”, dapat diartikan aku lirik pernah melewati peristiwa tersebut. Saat melihat kembali hal serupa, aku lirik menandainya bukan sebagai kebetulan, bukan firasat, tapi kepastian tentang asal muasal suatu hal dan tentang akhir nasib hal tersebut. Diksi “selatan” dapat berarti arah pulang atau perlawanan dari kelahiran, jika arah mata angin menjadi patokan, posisi selatan berada di bawah, hal-hal yang dapat diartikan sebagai awalan atau tafsir tempat pulang (kembali).

di tepi batin kini
terlihat danau semata
tersimpan senantiasa
rahasia kedalamannya
(Puisi “Kembali ke Laberge”, hlm. 26)

Bait terakhir puisi “Kembali ke Laberge” menjadi titik kunci yang ingin disampaikan aku lirik, “batin” dibandingkan dengan “danau”, sebagai tempat becermin setiap manusia yang manusia sendiri tidak mengetahui keleluasaannya. Batin atau hati adalah tempat bertanya seseorang jika menghadapi hal-hal tak terduga yang tidak bisa didiskusikan dengan teman atau teman hidup. Membaca ulang judul puisi tersebut, aku lirik seperti memiliki ikatan kuat dengan tempat atau sesuatu bernama Laberge. Hal ini terlihat dengan penggunaan diksi “kembali”.

Puisi perenungan muncul lagi pada “Puisi Oktober”, mengisahkan peristiwa-peristiwa kesedihan, kegelisahan, dan kemuraman.

kau kata-kata ingkar
basuh aku dengan luka
menangislah
tapi jangan garami air mataku
karena segalanya
akan meninggalkan kesedihan

(“Puisi Oktober”, hlm. 73)

Ada upaya keberanian yang diperbuat aku lirik, permintaan untuk dilukai, artinya aku lirik siap menanggung segala konsekuensi. Pada larik berikutnya penyangkalan juga dilakukan berarti kesadaran pada realitas rasa sakit sudah diduga.

bacalah setiap peta
maka kau akan bertanya
di mana cinta suci pernah berumah
selain dalam diam
sekawanan burung pengelana

(“Puisi Oktober”, hlm. 73)

Bait berikutnya adalah larik-larik yang memiliki kekuatan, saya sebagai pembaca baper membaca bait ketiga “Puisi Oktober”. “Kau” yang dimaksud dalam puisi ini adalah seseorang yang diajak bicara, seseorang yang telah menyia-nyiakan rasa, seseorang yang berkeras hati, sehingga aku lirik siap melepaskan segala “duri” yang menjadi ketidaknyamanan.

Baca juga:
Kebangkitan Literasi di Karawang
Mengupas Novel 24 Jam Bersama Gaspar

Puisi “Sabun Terbaik” mengisahkan peristiwa masa kecil hingga permenungan akan kematian yang pasti dihadapi setiap manusia. Puisi ini menggambarkan simbolisasi kasih sayang seorang Ibu. Sabun menjadi metafor yang digunakan penulis untuk menggambarkan lika-liku kehidupan. Sabun yang digunakan saat mandi ketika kecil, menjadi benda yang berbeda ketika remaja atau dewasa. Sabun serupa peristiwa yang tidak dikehendaki aku lirik karena membuat kehidupannya perih saat menggosok tubuh.

Oh, Ibu
kurindu dekap handukmu
setelah sengat dingin air
sesudah sengit umur bergulir
entah tangan mana
bakal mengusapku
pada mandi yang nanti
pada sepi yang terakhir

(Puisi “Sabun Terbaik”, hlm. 79)

Setelah aku lirik bertualang, ia tetap ingin merasakan kasih sayang Ibu, ingin kembali kepada ibu, dan membayangkan siapa yang akan memandikannya saat kematian datang kelak.

Bila pagi itu telah tiba
pilihkan yang terbaik, Bu
sebelum nanti
sekujur aku
dibasuh dalam abu

(Puisi “Sabun Terbaik”, hlm. 80)

Puisi bertema perjalanan terdapat dalam “Jeruk dari Tiongkok”. Saya seperti membaca fabel yang biasa dikisahkan untuk anak-anak. Dengan telaten penulis menggambarkan perjalanan tokoh Jeruk yang berpindah-pindah tempat, dari muasal sampai pada meja perjamuan-perjamuan besar. Si tokoh Jeruk ini berusaha berkenalan dengan tokoh-tokoh lainnya, yaitu tokoh Apel dan Pisang yang pada akhirnya rekan perjalanannya pergi. Perjalanan tokoh Jeruk dari waktu ke waktu mematangkan dirinya, artinya mendewasakan pola pikir manusia dewasa karena banyaknya pengalaman.

Di atas meja
sebuah jeruk dari tanah jauh
telah merona
sempurna

(Puisi “Jeruk dari Tiongkok”, hlm. 24)

“Memangkur Sagu” menjadi puisi yang menarik bagi saya, seperti puisi “Ritus Api” dan “Patung dari Kamoro”. Puisi yang menjadi bagian dari ritual kehidupan sebuah kelompok masyarakat.

Selebihnya saya membuat kamar-kamar tema untuk puisi-puisi Frischa Aswarini. Pertama, puisi-puisi yang penuh harapan: “Kepada Kakek”, “Petang Penuh Pujian”, “Di Kelapa Lima”, “Tukang Sapu”, “Hari Pertama Sekolah”, “Sebuah Pagi”, “Bagi Kakek”, “Kota dan Kau”, “Dini Hari”, “Pijar”, “Seekor Burung Bisu”, “Puisi Oktober”, “Asmayatra”. Kedua, puisi-puisi yang singgah di berbagai tempat: “Petang Penuh Pujian”, “Malam di Lembah”, “Hutan Belakang Rumah”, “Oktober di Laberge”, “Kembali ke Laberge”, “Di Katyn”, “Dari Segara”, “Di Kemenuh”, “Di Kelapa Lima”, “Di Ruang Tunggu”. Ketiga, puisi-puisi yang di dalamnya menayangkan kejadian atau peristiwa-peristiwa menarik: “Hangus Rotiku”, “Hutan Belakang Rumah”, “Ritus Api”, “Rumah di Pulau”, “Ritus Api”, “Patung di Kamoro”, “Memangkur Sagu”, “Di Jakarta”, “Dalam Igauku”, “Suatu Lawatan”.[]

Dian Hartati

Dian Hartati

Penulis. Lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit "Kalender Lunar" dan "Upacara Bakar Rambut". Suka nonton pertunjukan teater.

All stories by:Dian Hartati

Leave a Reply

Dian Hartati

Dian Hartati

Penulis. Lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit "Kalender Lunar" dan "Upacara Bakar Rambut". Suka nonton pertunjukan teater.

All stories by:Dian Hartati
error: