Momen Ketika Aku Menjadi Seorang Novelis

820 820 Rozi Kembara

Kebanyakan orang—yang kumaksud tentu saja kebanyakan orang Jepang—lulus kuliah, mencari kerja, sekian waktu kemudian menikah. Sebenarnya aku ingin mengikuti pola tersebut atau setidaknya pola semacam itulah yang kubayangkan akan kujalani. Kenyataannya aku malah menikah terlebih dahulu, lalu bekerja, dan akhirnya berusaha untuk menyelesaikan kuliah. Dengan demikian aku telah menyimpang dari pola yang dijalani kebanyakan orang.

Aku benci gagasan bekerja kantoran, karena itulah aku bertekad untuk membuka usaha sendiri. Sebuah tempat di mana orang-orang bisa datang untuk mendengarkan musik jazz, ngopi, menikmati cemilan, dan minum-minum. Sebuah ide pekerjaan yang sederhana dan menyenangkan. Kubayangkan, dengan menjalankan usaha semacam itu aku bisa dengan santai mendengarkan musik kesukaanku dari pagi sampai malam. Masalahnya adalah, aku dan istriku menikah sementara kami belum lulus kuliah, kami tidak punya uang. Sebab itulah, di tiga tahun pertama pernikahan kami, kami bekerja bagai budak. Kami mengambil banyak pekerjaan sekaligus agar bisa mengumpulkan banyak uang. Setelah itu kami berhutang pada keluarga dan teman-teman kami. Pada tahun 1974, dengan uang pinjaman yang berhasil kami kumpulkan, kami membuka sebuah kafe di Kokunbuji, tempat nongkrong para mahasiswa di tepi barat Tokyo.

Tidak seperti sekarang, dulu kau bisa membuka usahamu sendiri dengan sedikit biaya. Anak-anak muda seperti kami, yang bertekad untuk menghindari “hidup kantoran” beramai-ramai membuka toko-toko kecil. Mendirikan kafe, restoran, toko pernak-pernik, toko buku, dan lain sebagainya. Beberapa toko di sekitar kafe kami dimiliki dan dikelola oleh orang-orang seumuran kami. Kokunbuji dikuasai oleh aura budaya tandingan yang kuat, dan sebagian besar anak-anak muda yang datang ke sana adalah mahasiswa yang putus kuliah karena menyusutnya gerakan mahasiswa. Saat itu, di seluruh dunia, orang bisa mendapati kesenjangan dalam tiap tatanan.

Kuangkut piano upright tua milikku dari rumah orang tuaku dan mulai menyajikan pertunjukan musik setiap akhir pekan. Di Kokunbuji ada banyak musisi jazz muda yang menurutku dengan senang hati bermain musik meskipun dibayar murah. Kelak beberapa dari mereka menjadi musisi terkenal. Bahkan hingga kini, kadang-kadang aku berpapasan dengan mereka di klub jazz sekitaran Tokyo.

Memang aku dan istriku mengerjakan hal yang kami suka, namun kewajiban untuk membayar hutang adalah perjuangan yang tak putus-putus. Kami berhutang pada bank, berhutang pada orang-orang yang mendukung usaha kami. Pada satu kesempatan, kami tidak punya uang untuk membayar tagihan bulanan kami pada bank. Kami menyusuri jalanan larut malam dengan langkah gontai dan kepala tertunduk saat itulah kami tersandung segepok uang yang tergeletak begitu saja di jalan. Apakah itu kebetulan atau pertolongan dari yang Maha Kuasa, aku tak tahu, yang jelas jumlah uang itu sesuai dengan yang kami butuhkan. Besok adalah waktu pembayaran hutang ke bank, uang itu benar-benar menjadi penangguhan di menit-menit terakhir. Aku mengalami kejadian aneh seperti itu pada beberapa persimpangan hidupku. Kebanyakan orang Jepang jika mengalami kejadian demikian tentulah akan melakukan hal yang semestinya, mereka akan menyerahkan uang itu ke polisi, tapi saat itu kami benar-benar dalam keadaan terjepit, kami tidak bisa hidup jika mengikuti kepatutan moral semacam itu.

Walau keadaannya begitu menekan, tak diragukan lagi, aku menjalani usahaku dengan riang. Aku masih muda dan kondisiku sangat prima, aku bisa mendengar musik kesukaanku sepanjang hari, dan menjelma raja bagi wilayah kecilku ini. Aku tidak perlu berdesak-desakan dalam kereta komuter yang padat, tidak perlu menghadiri pertemuan-pertemuan yang sangat membosankan, tidak perlu menjilat atasan yang kubenci. Sebaliknya, aku jadi memiliki kesempatan untuk bertemu beragam orang yang menarik.

Pada usia dua puluhan kuhabiskan waktuku untuk membayar hutang dan melakukan pekerjaan fisik yang cukup berat (membuat roti tangkup, meracik koktil, dan mengusir pelanggan bermulut kotor dari kafeku) dari pagi hingga malam. Setelah beberapa tahun pemilik bangunan yang kami sewa memutuskan untuk merenovasi bangunan tersebut, kami pun pindah ke lokasi yang lebih kekinian dan lebih luas. Kami pindah ke Sendagaya, wilayah yang dekat dengan pusat Tokyo. Lokasi baru itu memiliki ruang yang cukup luas, sehingga kami bisa menempatkan piano grand, tapi utang kami bertambah dan kami tetap menghadapi kesulitan.

Kalau mengenang masa-masa itu, yang terlintas dalam pikiranku adalah gambaran aku dan istriku yang bekerja luar biasa keras. Mungkin, kebanyakan orang usia dua puluhan menjalani hidupnya dengan santai, tapi kami nyaris tidak memiliki waktu untuk menikmati “keriangan masa muda”. Waktu luangku kugunakan untuk membaca. Selain musik, buku adalah sumber kebahagiaanku. Sesibuk apapun, selelah dan semenderita apapun. Tak ada seorang pun yang bisa melepaskanku dari kenikmatan membaca dan mendengarkan musik.

Menjelang akhir usia dua puluhan, akhirnya kondisi Kafe Jazz kami mulai menunjukan tanda-tanda keajekan. Tapi kami belum bisa bersantai—hutang-hutang kami belum lunas, dan penghasilan kami masih naik-turun—tapi setidaknya segalanya terlihat berjalan ke arah yang lebih baik.

***

Pada suatu petang yang cerah di bulan April, 1978, aku menonton pertandingan bisbol di stadion Jingu, lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal dan tempat kerjaku. Itu adalah pertandingan pembukaan musim Liga Pusat. Pada pukul satu pertandingan dimulai, Yakult Swallows melawan Hiroshima Carp. Saat itu aku mendukung Swallows. Sebagai ganti jalan-jalan, kadang-kadang aku mampir ke stadion untuk menonton pertandingan bisbol.

Saat itu Swallows adalah klub bisbol yang lemah (dari namanya saja kau bisa mengira kalau Swallows adalah klub lemah). Mereka tidak memiliki modal banyak juga tidak punya deretan pemain ternama. Karena itulah Swallows tidak terlalu terkenal. Itu adalah pertandingan pembukaan musim, tapi hanya sedikit penonton yang datang, mereka duduk di balik pagar lapangan. Aku menonton pertandingan itu dalam posisi berbaring telentang sambil minum bir. Saat itu belum ada kursi penonton, tempat duduk penonton masih berupa dataran landai berumput. Langit biru berkilauan, bir dingin, dan bola bisbol yang putih terlihat mencolok di lapangan yang hijau. Kehijauan yang sudah lama tidak kulihat. Dave Hilton menjadi pemukul pertama dari pihak Swallows, Dave Hilton berperawakan kurus ia pemain pendatang baru asal Amerika yang sama sekali tak populer. Sementara Dave Hilton bertugas menjadi pemukul pertama Charlie Manuel bertugas sebagai pemukul keempat. Kelak Charlie Manuel terkenal sebagai manajer Cleveland Indians dan Philadelphia Phillies. Nanti, para penggemar menjulukinya sebagai “Si Iblis Merah” karena perawakannya yang kekar dan pukulannya yang kencang.

Kalau tidak salah yang menjadi pelempar bola pertama dari pihak Hiroshima adalah Yoshiro Sotokoba dan pelempar bola dari pihak Swallows adalah Takeshi Yasuda. Di akhir babak pertama, Hilton berhasil memukul lemparan bola Sotokoba ke bagian kiri lapangan sehingga ia bisa mencapai base ke-dua dengan mulus. Saat bola itu menyentuh tongkat pemukul Hilton terdengar bunyi yang melegakan, bunyi itu menggema di seantero stadion, seketika diriku diselimuti riuh suara tepuk tangan. Dalam sekejap, tanpa alasan tertentu, sebuah gagasan menyambar benakku: Sepertinya aku bisa menulis novel.

Aku masih ingat bagaimana persisnya sensasi yang kurasakan saat itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang melesat dari langit dan dengan cekatan tanganku menangkapnya. Baik dahulu maupun kini, aku tidak mengerti mengapa momen kebetulan itu jatuh ke genggamanku. Apapun alasannya, hal itu telah terjadi. Sesuatu yang menyerupai nubuat, atau lebih tepatnya pencerahan. Yang dapat kukatakan hanyalah ini: dalam momen yang sekejap itu hidupku berubah secara drastis selamanya. Momen ketika Dave Hilton melancarkan pukulan yang menggemakan suara nyaring yang indah di Stadion Jingu.

Usai pertandingan (seingatku Swallows memenangkan pertandingan), aku naik kereta jurusan Shinjuku dan membeli sebundel kertas tulis juga pena fountain. Saat itu belum ada komputer dan program pengolah kata. Sehingga kita mesti menulis dengan tangan, kata demi kata. Aku masih ingat betapa bergairahnya diriku, kurasakan sensasi yang begitu menyegarkan ketika menulis. Momen ketika aku menggoreskan pena ke permukaan kertas itu telah berlalu begitu lama.

Semenjak itu tiap larut malam, sepulang kerja, aku duduk di meja makan dan menulis. Hanya saat itulah aku memiliki waktu luang untuk menulis, beberapa jam menjelang fajar. Selama enam bulan lebih aku menulis novel Dengarlah Nyanyian Angin. Draf pertama itu selesai bertepatan dengan berakhirnya musim pertandingan bisbol. Secara kebetulan tahun itu Yakult Swallows menerabas segala kesempatan dan mematahkan prediksi banyak orang dengan menjuarai Liga Pusat lalu melengkah ke Japan Series untuk mengalahkan Hankyu Braves, juara Liga Pasifik. Sungguh musim yang benar-benar ajaib yang membuat perasaan semua pendukung Yakult Swallows melambung.

***

Dengarlah Nyanyian Angin lebih tepat disebut sebagai novela daripada novel. Meskipun tipis, butuh waktu berbulan-bulan juga segenap upaya keras untuk menyelesaikannya. Salah satu alasannya, tentu saja karena aku hanya memiliki sedikit waktu untuk menggarapnya. Namun masalah utamanya adalah karena aku tidak tahu cara menulis novel. Meskipun aku membaca beragam jenis buku, bacaan kesukaanku adalah novel Rusia abad 19 dan cerita-cerita detektif hard-boiled Amerika. Aku tidak pernah memerhatikan fiksi Jepang kontemporer secara serius. Sebab itu aku tak tahu jenis novel Jepang yang dibaca saat itu. Aku juga tak tahu bagaimana menulis fiksi dalam bahasa Jepang.

Selama beberapa bulan aku menulis dengan cara mengira-ngira lalu mengadopsi gaya yang kuanggap bagus. Namun, saat membaca naskah tersebut aku sama sekali tidak terkesan. Sekilas tulisanku memenuhi segala persyaratan untuk menjadi sebuah novel, tapi novel itu terasa membosankan. Setelah membaca naskah itu secara menyeluruh, yang kurasakan adalah kehambaran. Jika aku, sebagai penulis merasakan hal yang demikian, mungkin pembaca akan merasakan yang lebih buruk. Saat itu aku berpikir dengan sedih, sepertinya aku memang tidak memiliki hal penting yang perlu dimiliki oleh seorang novelis. Dalam kondisi normal, aku akan menyerah. Namun, pencerahan yang kudapatkan di dataran landai berumput di Stadion Jingu masih tergurat jelas di pikiranku.

Aku pun merenung, adalah hal yang wajar kalau aku tidak bisa menulis novel yang bagus. Aku memiliki anggapan salah terhadap diriku sendiri. Mustahil orang yang belum pernah menulis apapun langsung menghasilkan karya brilian pada percobaannya yang pertama. Aku sedang mengerjakan sesuatu yang mustahil. Berhentilah untuk menulis sesuatu yang rumit, aku berkata pada diri sendiri. Lupakanlah segala ketentuan baku tentang “novel” dan “sastra” dan curahkan pikiran dan perasaan yang melingkupimu dengan bebas, dengan cara yang kau suka.

Meskipun terdengar mudah untuk dikatakan, menuangkan perasaan dengan bebas dalam tulisan bukanlah perkara sederhana. Bagi seorang pemula sepertiku hal itu tetaplah terasa sangat sulit. Untuk memulai kembali upaya menulisku, yang pertama kulakukan adalah menyingkirkan tumpukan manuskrip dan pena fountain. Selama benda-benda itu tampak di hadapanku, aku merasa apa yang sedang kugarap adalah “karya sastra”. Sebagai gantinya, kukeluarkan mesin tik tua merek Olivetti dari lemari. Lalu aku pun mulai melakukan percobaan. Kuputuskan untuk menulis bagian pembuka novelku dalam bahasa Inggris. Aku bersedia melakukan beragam percobaan, kalau begitu, mengapa tidak segera kulakukan?

Tentu saja kemampuan menulisku dalam bahasa Inggris pas-pasan. Penguasaanku terhadap kosakata dan tata kalimat dalam Bahasa Inggris sangat terbatas. Aku hanya bisa menulis kalimat pendek dan sederhana. Sehingga, meskipun gagasan yang berkelindan dalam kepalaku rumit dan melimpah, aku tidak bisa menuliskannya secara tepat. Gagasan yang rumit dan melimpah itu hadir dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, aku menghindari deskripsi yang berlebihan, bentuk kalimatnya kubuat sepadat mungkin, dan kuatur sedemikian rupa agar bisa tertampung dalam wadah yang ukurannya cukup terbatas. Percobaan itu menghasilkan jenis prosa yang kasar dan mentah. Aku terus berupaya keras untuk menulis dengan cara seperti itu, dan perlahan-lahan, ritme yang khas mulai terbentuk.

Karena lahir dan besar di Jepang maka wajar apabila apa-apa yang ingin kucurahkan dibentuk oleh kosakata dan pola bahasa Jepang, layaknya kandang yang sesak oleh hewan ternak. Saat aku menyusun kalimat yang tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanku, hewan-hewan itu bergerak tak karuan, dan segalanya jadi berantakan. Ketika menulis dalam bahasa asing, aku berada dalam kondisi terbatas, dan dengan cara itulah rintangan tersebut berhasil kuatasi. Karena itu juga aku jadi tahu, bahwa aku bisa mengungkapkan perasaan dan pikiranku dalam rangkaian kata dan struktur gramatikal yang terbatas, selama aku bisa menyusun dan menggabungkan semua itu dengan efektif dan cekatan. Akupun menyimpulkan, bahwa aku tidak butuh kata-kata yang rumit. Aku tidak perlu mengesankan orang dengan kalimat-kalimat yang indah.

Kelak aku tahu bahwa seorang penulis bernama Agota Kristof telah menulis beberapa novel yang luar biasa bagus dengan gaya serupa denganku. Kristof berasal dari Hungaria, pada tahun 1956 karena huru-hara di negerinya, ia pindah ke Neuchatel, Swiss. Saat itulah ia terpaksa belajar bahasa Prancis. Ia menulis dalam bahasa yang benar-benar baru baginya dan berhasil menemukan gaya menulis yang anyar dan khas. Tulisan Kristof terdiri atas kalimat-kalimat singkat, diksi-diksi yang tepat dan sederhana, juga deskripsi yang pas dan bebas dari muatan emosional, dengan demikian terwujudlah sebuah tulisan yang memiliki ritme kuat. Novel-novelnya diselubungi hawa misterius yang menyiratkan sesuatu tersembunyi di balik permukaan. Saat pertama kali membaca novelnya, diriku dilanda perasaan nostalgis. Kebetulan juga, ternyata novel pertamanya yang berjudul The Notebook terbit di tahun 1986, tujuh tahun setelah terbitnya Dengarlah Nyanyian Angin.

Setelah menemukan efek aneh tatkala menulis dalam bahasa asing, aku merasa mendapatkan ritme kreatif yang khas diriku, kumasukan mesin ketikku ke lemari dan meraih kembali tumpukkan kertas serta pena fountain-ku. Aku duduk, lalu “menerjemahkan” beberapa bagian yang kutulis dalam bahasa Inggris ke bahasa Jepang. Kata “mencangkok” barangkali lebih tepat daripada “menerjemahkan”, lagi pula itu bukan proses penerjemahan secara harfiah. Dalam proses itu tentu muncul gaya baru dalam bahasa Jepang. Gaya yang sepenuhnya milikku. Gaya yang kutemukan sendiri. Kini aku mengerti. Beginilah harusnya aku menulis. Saat itu aku mencapai kejernihan sejati, tatkala segalanya tampak begitu jelas di mataku.

Beberapa orang pernah berkata padaku, “Membaca novelmu seperti membaca novel terjemahan.” Aku tidak sepenuhnya mengerti maksud pernyataan itu, dalam beberapa hal pernyataan itu mengena, tapi dalam hal lain pernyataan itu meleset sepenuhnya. Bagaimanapun bagian awal novelku memang “terjemahan”, pernyataan itu tak sepenuhnya salah. Meskipun itu hanya berlaku ketika dalam proses menulis. Menulis dalam bahasa Inggris kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang adalah upayaku dalam menemukan gaya yang murni dan lugas, gaya yang membuat diriku bisa bergerak dengan bebas. Aku tidak bermaksud melemahkan bentuk bahasa Jepang. Aku hanya ingin melepaskan diri dari sesuatu yang disebut sebagai “bahasa sastrawi” dan menulis dengan gaya yang natural, gaya milikku sendiri. Hal itu menuntut usaha yang cukup melelahkan. Saat itu aku beranggapan bahwa bahasa Jepang, hanyalah sekadar alat.

Beberapa kritikus menganggap karyaku sebagai ancaman bagi bahasa nasional.  Kupikir bahasa tidak selemah itu, bahasa adalah sesuatu yang kokoh dan kekokohannya disokong oleh sejarah yang panjang. Bagaimanapun, bahasa tidak akan pernah sepenuhnya hancur, ia tidak akan hancur hanya karena digunakan secara serampangan. Semua penulis berhak untuk bereksperimen dengan kemungkinan-kemungkinan yang terdapat dalam bahasa, dengan beragam cara yang bisa ia lakukan. Tanpa semangat menjelajah semacam itu, tak akan ada hal baru yang akan dilahirkan. Gaya menulisku tentu berbeda dengan gaya menulis Tanizaki, berbeda dengan gaya menulis Kawabata. Itu hal yang lumrah. Lagi pula aku tidak sama dengan mereka. Aku Haruki Murakami, penulis yang berdiri di atas kaki sendiri.

***

Suatu Minggu pagi yang cerah di musim semi, editor majalah sastra Gunzo menelponku, ia mengatakan bahwa Dengarlah Nyanyian Angin masuk dalam daftar pendek nominasi penghargaan bagi penulis baru yang diselenggarakan oleh mereka. Setahun telah berlalu sejak pembukaan musim Liga Pusat di Stadion Jingu, kini usiaku 30. Saat itu sudah pukul 11 siang tapi aku masih sangat mengantuk, malam sebelumnya aku bekerja larut. Kuangkat gagang telepon dengan canggung, aku tak tahu siapa di seberang sana dan apa yang hendak ia katakan. Sebenarnya saat itu aku lupa kalau pernah mengirim naskah novel tersebut ke majalah Gunzo. Saat naskah itu selesai dan mengirimnya, seketika gairah menulisku surut. Bisa dibilang menulis novel itu adalah usaha untuk memberikan tantangan pada diri sendiri—gagasan novel itu datang begitu saja, dan aku pun menulisnya tanpa banyak kesulitan—tak terlintas dalam benakku bahwa novel itu akan masuk dalam daftar pendek nominasi sebuah penghargaan sastra. Aku hanya memiliki satu salinan naskah, dan salinan itulah yang kukirim ke majalah Gunzo. Seandainya naskah itu tak lolos seleksi, naskah itu akan lenyap selamanya. (Majalah Gunzo tidak pernah mengirim balik naskah-naskah yang tak lolos seleksi.) Kalau begitu jadinya, kemungkinan besar, aku tidak akan berhenti menulis novel. Hidup ini memang aneh.

Editor itu berkata padaku, ada lima penulis yang masuk daftar pendek nominasi, salah satunya aku. Aku terkejut, tapi karena mengantuk berat aku tidak benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Aku bangkit dari kasur, mencuci muka, berpakaian, lalu pergi jalan-jalan bersama istriku. Saat melewati bangunan SD setempat, aku melihat seekor merpati bersembunyi di sebuah gerumbul semak. Kuambil merpati itu, sayap merpati itu sepertinya patah. Pada kakinya terpasang label dari metal. Kupegang merpati itu secara perlahan dan membawanya ke pos polisi terdekat di wilayah Aoyama-Otsomendo. Tatkala berjalan di trotoar jalanan Harajuku rasa hangat dari tubuh merpati yang terluka itu meresapi tanganku, kurasakan sesuatu yang menggetarkan. Betapa cerahnya Minggu pagi itu, pohon-pohon, bangunan-bangunan, kaca-kaca jendela toko, tampak gemerlap di bawah siraman cahaya matahari musim semi.

Saat itulah muncul selintas gagasan di benakku. Aku akan memenangkan penghargaan lalu menjadi novelis yang mungkin saja bisa mengecap kesuksesan. Tentu saja keyakinanku itu terkesan muluk-muluk, tapi saat itu aku percaya keyakinanku akan terwujud. Sangat yakin. Keyakinan yang sifatnya langsung dan intuitif, bukan keyakinan teoretis.

***

Pada tahun berikutnya aku menulis Pinball, 1973. Buku itu merupakan kelanjutan dari Dengarlah Nyanyian Angin. Aku masih mengelola Kafe Jazz, jadi novel itu juga kugarap larut malam di meja makanku. Dengan perasaan senang sekaligus malu kusebut dua novel itu sebagai “novel meja makan”. Tak lama usai menyelesaikan Pinball, 1973 kuputuskan untuk menjadi penulis penuh waktu. Kujual usahaku dan segera bersiap untuk menggarap novel panjang pertamaku, A Wild Sheep’s Chase, itu kuanggap sebagai permulaan karirku yang sesungguhnya sebagai seorang novelis.

Bagaimanapun, dua novel tipis itu memiliki peran penting atas apa-apa yang telah kucapai. Posisinya tak tergantikan. Dua novel itu ibarat sahabat dari masa yang sangat jauh. Kami mungkin tak bisa berkumpul bersama lagi, tapi aku takkan pernah melupakan persahabatan itu. Kehadiran mereka di masa silam adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Mereka menghangatkan hatiku dan menyemangatiku sepanjang perjalanan hidupku.

Aku masih bisa mengingat dengan sangat jelas perasaan itu, saat sesuatu entah apa melesat ke arah tanganku, tiga puluh tahun lalu di dataran landai berumput di luar pagar Stadion Jingu. Aku juga masih bisa mengingat dengan jelas, setahun kemudian pada sebuah petang musim semi di dekat SD Sendagaya, tangan yang sama merasakan hangat tubuh seekor merpati yang terluka. Aku selalu mengingat perasaan-perasaan itu tiap kali memikirkan tujuan menulis novel. Memori yang dirasakan indra perabaku mengajariku untuk meyakini sesuatu yang berdiam dalam diriku dan mengangankan sekian kemungkinan yang dibawa olehnya. Sungguh menakjubkan bahwa perasaan-perasaan itu masih bersemayam dalam diriku hingga kini.[]

*Diterjemahkan dari “The Birth of My Kitchen Table” esai pengantar buku Wind/Pinball

Haruki Murakami, lahir tanggal 12 Januari 1949 di Kyoto, Jepang. Murakami adalah penulis fiksi yang karya-karyanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan mendapatkan penghargaan, di antaranya Gunzo Award (1979), Noma Literary Prize (1982), Tanizaki Prize (1985), Yomiuri Prize (1995), World Fantasy Award (2006), Frank O’Connor International Short Story Award (2006), Hans Christian Andersen Literature Award (2016).

Rozi Kembara

Rozi Kembara

Penyair. Pecandu film dan komik.

All stories by:Rozi Kembara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.