Menziarahi Oda Nobunaga di Gunung Koya

600 400 Rosi Rosiah

Okunoin-Mae

Sabtu (28/1/2017), saya bersama tiga rekan pengajar Bahasa Jepang dari Indonesia melakukan perjalanan untuk menziarahi Oda Nobunaga di Gunung Koya, atau dalam bahasa Jepang disebut dengan Kōyasan di Wakayama. Kami melakukan perjalanan dalam rangka mengikuti The 2016 Southeast Asian Teacher’s Training College Course in Japan di The Japan Foundation Kansai International Center, Osaka, Jepang. Dimana salah satu agendanya adalah membuat rencana perjalanan.

Dari daerah tempat kami mengikuti pelatihan, yaitu daerah Rinkuu Town sampai ke puncak Gunung Koya, membutuhkan waktu sekitar dua jam apabila menggunakan kereta. Tarif keretanya 7.000 Yen (sekitar Rp 700.000). Tapi, kami menggunakan tiket kereta free pass untuk dua hari dari perusahaan kereta api Nankai yang lebih ekonomis, seharga 3.350 Yen (sekitar Rp 350.000). Ya, di Jepang ongkos transportasi memang mahal. Namun begitu fasilitas transportasinya cukup layak.

Kami memulai perjalanan pada pukul 08.45 pagi waktu setempat. Cuaca saat itu cukup hangat, sekitar 10 derajat celcius. Lebih hangat dibandingkan hari sebelumnya yang berkisar di bawah 10 derajat celcius. Dari Tempat pelatihan yang biasa disebut Senta, kami menggunakan shuttle bus menuju Stasiun Rinkuu. Dari Stasiun Rinkuu kami naik kereta jurusan Nanba, berhenti di Stasiun Tengachaya untuk berganti kereta dengan tujuan Hashimoto.

Sebenarnya dari Stasiun Tengachaya ada Kereta yang langsung menuju Gunung Koya. Tetapi, berhubung kami menggunakan tarif kereta ekonomi. Jadi, kami tidak bisa menggunakan kereta tersebut. Kami terpaksa harus naik kereta ke Hashimoto terlebih dahulu.

Hashimoto merupakan daerah perkampungan yang sangat sepi dengan pemandangan sangat indah. Rumah-rumah khas penduduk setempat tidak terlalu besar. Ladang-ladang masih membentang luas. Stasiun di Hashimoto tidak begitu besar dan hanya mempunyai dua jalur kereta.

Dari Hashimoto kami menuju Stasiun Gokurakubashi. Kali ini menggunakan kereta yang lebih kecil. Perjalanan dari Hashimoto ke Gokurakubashi sangat menyenangkan. Tampak puncak gunung yang berundak-undak, pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi kehijauan, serta tumpukan salju menghiasi pucuk-pucuknya. Suara kereta, percakapan dua orang turis bule di dekat tempat duduk kami, dan desiran angin menjadi latar suara sepanjang perjalanan.

Sesampainya di stasiun Gokurakubashi kami berpindah moda transportasi. Kali ini menggunakan cable car yang membawa kami sampai ke Stasiun Gunung Koya. Cable car menembus pepohonan yang diselimuti salju di dalam hutan. Jalurnya menanjak dan menukik curam.

Cable-Car

Di sini juga kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Melihat putihnya hamparan salju secara langsung menjadi pengalaman yang istimewa. Apalagi bagi orang seperti saya yang tinggal di daerah tropis.

Sesampainya di Gunung Koya, kami bergegas mencari peta wisata dan menentukan tempat mana yang akan dikunjungi. Salah satu kelebihan dari tempat wisata di Jepang adalah mereka selalu menyiapkan peta destinasi wisata. Peta tersebut dilengkapi beberapa rekomendasi tempat wisata terdekat lainnya. Setelah menentukan tujuan, kami bergegas menaiki bus yang sudah tersedia bagi wisatawan.

Gunung Koya adalah tempat suci bagi umat Budha di Jepang. 1200 tahun yang lalu seorang Biksu bernama Kukai membuka sekolah khusus untuk mempelajari agama Budha di sini. Sehingga pengaruh Budha sangat terasa kuat. Di tempat ini juga saya berjumpa para biksu, yang biasanya hanya saya lihat di film-film kungfu shaolin. Gunung Koya juga merupakan salah satu cagar budaya alam yang sudah termasuk ke dalam khasanah kekayaan alam dunia UNESCO.

Di Gunung Koya, selain ada kuil, padepokan untuk para biksu, ada juga komplek pemakaman yang sangat luas sekali yang disebut dengan Okunoin Mae. Kami pun menyusuri pemakaman itu. Pertama kali memasuki komplek pemakaman, saya membaca sebuah batu nisan besar dengan tulisan “Shiroari” yang berarti rayap ditulis dengan huruf hiragana.

Saya mengira itu adalah makam rayap. Tapi, aneh juga ada makam rayap. Ternyata itu adalah makam yang didirikan oleh perusahaan pembasmi rayap. Karena, perusahaan itu merasa bersalah kepada rayap yang telah mereka basmi. Maka, untuk menghormatinya dibuatkanlah makam sebagai penghormatan untuk rayap.

Semakin ke dalam semakin menarik. kami menyusuri pemakaman di antara hamparan salju, mulai dari makam anggota keluarga perusahaan-perusahaan besar di Jepang, seperti Yakult, Nissan, dll. hingga melihat makam tokoh-tokoh besar Jepang.

Perjalanan menyusuri makam mungkin terkesan aneh dan menyeramkan. Tetapi, entah kenapa, pada saat saya menyusuri pemakaman itu terasa aura magis yang terpancar dari ketenangan alam di sekitarnya.

Oda-Nobunaga

Pohon-pohon rindang dan tinggi menjulang di komplek pemakaman itu konon telah ada sejak 1200 tahun yang lalu. Perasaan seram dan takut saya kalah oleh rasa penasaran, karena di Okunoin ada satu makam orang paling berpengaruh atas berdirinya negara Jepang. Ia adalah Oda Nobunaga, seorang Daimyo atau tuan tanah yang sangat berkuasa pada jaman sengoku atau zaman perang.

Setelah menyusuri kesunyian yang sangat panjang. Akhirnya kami menemukan makam yang kami cari. Makam yang sangat biasa saja bagi seseorang yang sangat berpengaruh bagi Jepang. Hanya ada sebuah tugu yang menandakan bahwa di tempat tersebutlah bersemayam Oda Nobunaga.

Di tengah-tengah hutan terdapat kuil dan banyak umat Budha yang beribadah. Kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri kesunyian hutan rimbun di atas licinnya tanah yang tertimbun salju. Suhu di sekitar Okunoin terasa hangat. Kontras dengan gundukan salju yang kami injak. Sangat dingin.

Lalu kami beristirahat di sebuah Restoran dan menyantap Tendon (Tempura Donburi), yaitu nasi dengan gorengan udang, gorengan sayuran, lengkap dengan misoshiru (sup bening), dan kami mendapatkan hadiah tahu yang terbuat dari wijen. Makanan yang dapat menghangatkan badan dalam suhu dingin Gunung Koya.

Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan mengelilingi Gunung Koya menggunakan bus. Turun di setiap halte yang dilewati bus. Meskipun setelah turun kami tidak menemukan apa-apa, selain kuil atau penginapan tradisional Jepang.

Selanjutnya kami turun di halte Kondo Mae. Kondo adalah salah satu kuil yang sering digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Namun, bangunan utamanya sedang direnovasi. Di sana juga terdapat sekolah untuk calon biksu. Tampak anak-anak muda berkepala plontos, mungkin mereka adalah calon-calon biksu di masa yang akan datang.

Tadinya, kami akan melanjutkan perjalanan ke Daimon atau Gerbang Utama yang menjadi ciri khas kuil di Koya San. Tapi, karena sudah terlalu sore, akhirnya kami memutuskan untuk tak mengujunginya hari itu. Menjelang pukul lima sore, kami memutuskan kembali ke stasiun Gunung Koya sekaligus mengakhiri perjalanan pada hari itu.[]

Rosi Rosiah

Rosi Rosiah

Pengajar Bahasa Jepang di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hobi jalan-jalan.

All stories by:Rosi Rosiah
Leave a Reply

Rosi Rosiah

Rosi Rosiah

Pengajar Bahasa Jepang di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hobi jalan-jalan.

All stories by:Rosi Rosiah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.