MENU

20 Februari 2017 Catatan

Menulis Adalah Salah Satu Cara untuk Dikenang

SMAN-1-garut
Bincang Proses Kreatif Buku di SMAN 1 Garut

“Kami mengharapkan siswa dapat mengikuti acara ini dengan penuh kesadaran dan keinginan kuat akan ilmu pengetahuan,” demikian sambutan Entis Sutisna, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Komunikasi dan Kerjasama Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Garut, menanggapi antusiame ratusan siswanya yang memadati Aula sekolah di Jalan Merdeka No.91, Garut, Sabtu (18/2/2017).

Menegaskan komitmen SMAN 1 Garut dalam semangat program literasi yang sudah berjalan sejak Agustus 2016 lalu itu, digelar Bincang Proses Kreatif Buku. Acara yang bekerjasama dengan program Jejak Langkah Buruan.co itu menghadirkan dua penulis: Moh. Syarif Hidayat, penulis kumpulan puisi Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam; dan, Ujianto Sadewa, penulis Aligator Merangkak Sajak.

Acara Bicang Proses Kreatif Buku dibuka dengan musikalisasi puisi dari Teguh Budiyawan (Guru Seni Musik) bersama sang istri, serta pembacaan puisi oleh penyair Ratna Galih, Ratna Ayu Budhiarti, dan Willy Fahmy Agiska yang seketika mengalihkan fokus para siswa dari gadget-nya.

“Menulis adalah salah satu cara untuk dikenang,” ujar Dian Hardiana, Redaktur Buruan.co yang berperan sebagai moderator ketika memulai Bincang Proses Kreatif Buku.

Menulis dan eksistensi. Menurut Ujianto, menulis puisi serasa disegarkan kembali. Mengambil Chairil Anwar sebagai contoh, ia berkeyakinan bahwa puisi akan tetap bermanfaat walau telah ditinggal mati, “Sastra bisa masuk ke semuanya. Salah jika ada yang tidak suka/menulis puisi.”

Dalam konteks menyemangati gairah para remaja ini terhadap sastra, Ujianto bercerita banyak tentang pengalamannya bertemu puisi, dari SD sampai SMA, “Lebih intens setelah lulus SMA,” simpulnya. Sedangkan Syarif menekankan pada motif dan tekniknya dalam menulis puisi.

Sama halnya dengan Ujianto, buku puisi Syarif yang berjudul Tentang Bunga yang Tumbuh di Pinggir Kolam ini ialah kumpulan puisinya dari tahun 1996-2016. “Daripada di rumah pada usang, mending diterbitkan,” kata syarif.

Muhammad Farid (siswa) bertanya, “Apa tantangan terbesar dari proses pembuatan buku (puisi)?”

“Kemauan, tekad, dan semangat itulah tantangan puisi sebenarnya,” jawab Syarif.

“Di Bandung anak mudanya tidak keren kalo tidak membaca buku. Di Bandung membaca buku sudah menjadi kebiasaan, seperti makan,” tambah Dian. Menurut pemandu acara ini, penulis itu ialah pendidik sekaligus penghibur. “Membaca itu ialah keterampilan, tidak tiba tiba. Sama halnya dengan menulis.”

Terinspirasi dari Ubaidillah Muchtar dengan reading group buku Multatuli di Banten. Yuliyanti, S.pd., Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Garut, juga ingin melakukan hal yang sama di Garut. Sejak Agustus 2016 lalu, selama satu jam Yuli bersama murid-muridnya membaca roman Gadis Garut karya S. Ahmad Abdullah Assegaf setiap minggu. “Karena alokasi waktunya cuman sejam, kita baru sampai pada halaman 40.”

Yuli berharap, keberlangsungan kegiatan literasi ini mudah-mudahan dapat meningkatkan minat baca di Indonesia, khususnya di SMAN 1 Garut.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>