Mengunjungi Kampung Atheis

820 820 Yopi Setia Umbara

Kampung Panyeredan di Kabupaten Garut barangkali bukan kampung yang populer. Padahal kampung ini tercatat dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja, sastrawan kelahiran Cibatu (6 Maret 1911) yang dimakamkan di Canberra, Australia (10 Juli 2010). Prosa ini menyajikan guncangnya keyakinan seorang tokoh bernama Hasan pada masa akhir kolonialisme di Indonesia.

Di kampung Panyeredan inilah Raden Wiradikarta, orang tua Hasan, seorang pensiunan Kepala Sekolah Dasar tinggal. Hasan merupakan protagonis dalam novel yang pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1949 ini.

Hasan adalah pemuda yang menekuni tarekat Islam, mengikuti saran orang tuanya yang taat dan alim. Namun keyakinannya goyah setelah berjumpa dengan kawan-kawannya, golongan modernis frijdenker yang mengecap pendidikan Barat. Rusli dan Anwar, kawan Hasan yang dijumpainya setelah bekerja sebagai pegawai pemerintah di Bandung, cenderung sekuler.

Dalam catatan ini, saya tidak akan mengulas mengenai novel ini. Saya cenderung ingin menyampaikan bahwa ada bukti model latar cerita realis yang ditulis Aki (panggilan akrab Achdiat). Yaitu, sebuah kampung bernama Panyeredan seperti disebutkan dalam novel.

Di lereng gunung Talaga Bodas di tengah-tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeruk Garut, yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang nyaman dan sejuk. Kampung Panyeredan namanya. Kampung itu terdiri dari kurang lebih dua ratus rumah besar kecil. Yang kecil yang jauh lebih besar jumlahnya dari yang besar, adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin, dan yang besar ialah milik petani-petani “kaya”…(hlm. 10)

Mencari tempat tinggal Hasan kecil di kampung Panyeredan bukan perkara mudah. Letak rumahnya tak begitu pasti dalam deskripsi Aki pada bagian ketiga novelnya itu. Ditambah perkembangan kampung beserta segala pembangunan selama puluhan tahun telah membuat rumah-rumah di Panyeredan turut berbenah.

…Di antara rumah-rumah kecil dan rumah-rumah besar dari batu itu, ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari “setengah batu”, artinya lantainya dari tegel tapi dindingnya hanya sampai kira-kira seperempat tinggi dari batu, sedang ke atasnya dari dinding bambu biasa. Rumah-rumah demikian itu yang jumlahnya lebih banyak daripada rumah-rumah batu, adalah kepunyaan penduduk yang “santana”, artinya yang mempunyai tanah barang sehektare dua hektare.

Di salah satu rumah setengah batu itulah tinggal orang tuaku, Raden Wiradikarta. (hlm. 10)

Tinggal dua rumah saja yang mirip seperti deskripsi rumah di sekitar rumah Raden Wiradikarta. Itu pun cuma rumah besar dari batu yang kondisinya sudah memprihatinkan. Rumah setengah batu yang disebutkan Hasan, tak dapat saya temukan. Rumah-rumah di kampung Panyeredan telah menjadi rumah gedong, tak jauh berbeda dengan rumah petani-petani “kaya” pada masa novel ini dikisahkan.

Namun, bisa mengunjungi kampung Hasan kecil secara langsung membuat saya cukup bungah. Apalagi jika mengingat novel ini telah berusia 70 tahun. Bahwa, salah satu model tempat karya realis ini ternyata masih bisa ditelusuri. 

70 Tahun Setelah Atheis
Kampung Panyeredan saat ini secara administratif termasuk ke dalam wilayah Desa Sukaratu, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Sebelum pemekaran pada tahun 2006, Penyeredan masih termasuk wilayah Kecamatan Wanaraja. Kampung ini merupakan daerah perbukitan sejuk yang berada di lereng gunung Talaga Bodas dan berbatasan langsung dengan gunung Galunggung di wilayah Tasikmalaya. Masyarakat setempat kebanyakan berprofesi sebagai petani, persis seperti orang tua Hasan menghabiskan masa pensiunnya.

Kebun jeruk yang baru dibudidayakan kembali di kampung Panyeredan. Foto: @opopet

70 tahun berlalu sejak novel Atheis terbit, kampung Panyeredan tetap sunyi dalam sejuknya hawa pegunungan. Kampung ini telah jauh lebih padat dibanding dengan yang diilustrasikan dalam cerita oleh Aki. Pohon-pohon jeruk Garut yang tumbuh hari ini adalah pohon yang baru dibudidayakan kembali, setelah hancur oleh abu vulkanik akibat letusan dahsyat gunung Galunggung pada tahun 1982.

Hingga saat ini, tak ada monumen peringatan atau penanda istimewa bahwa novel Atheis menggunakan kampung Panyeredan sebagai salah satu model. Bukan hal yang aneh, sebab karya sastra masih belum menjadi perhatian utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Barangkali lebih banyak kebutuhan hidup mendasar yang lebih penting diperhatikan masyarakat di negeri ini.

Salah seorang warga kampung Panyeredan yang saya tanya tentang novel ini, Bu Neneng (53 th) pedagang kelontong yang warungnya berada tepat di seberang salah satu rumah batu besar tertua, tak mengenal nama Achdiat K. Mihardja dan novel Atheis. “Teu terang, tara baca-baca novel (Gak tahu, gak pernah baca-baca novel),” jawabnya tersenyum malu-malu.

Kampung Panyeredan memang hanya sebagai model latar cerita novel. Namun novel Atheis adalah salah satu monumen sastra Indonesia, seperti kata Ahmad Tohari. Selayaknya sebuah model sebuah karya monumental, kampung ini menarik perhatian saya.

Tur Atheis
Ketertarikan saya terhadap tempat-tempat dalam karya sastra bermula dari membaca catatan Sigit Susanto dalam buku Menyusuri Lorong-Lorong Dunia: Kumpulan Catatan Perjalanan Jilid II (Insist Press, 2008). Catatan tersebut sebelumnya sempat saya baca di Ruang Baca Koran Tempo saat masih kuliah.

Dalam beberapa catatan, Sigit menceritakan tentang Bloomsday dan perjalanan napak tilas kota Dublin, kota yang menjadi latar cerita novel Ulysses karya James Joyce. Bloomsday dan tur napak tilas jejak Leopold Bloom, tokoh sentral Ulysses, telah menjadi salah satu paket wisata di Irlandia.

Untuk karya sastra Indonesia, novel Atheis ini saya kira bisa menjadi salah satu karya yang bisa dijadikan destinasi tur oleh para peminat sastra. Berkunjung ke tempat seperti Kampung Panyeredan, atau tempat-tempat yang disebut dalam karya sastra, bisa menjadi cara untuk terus merayakan, mengabadikan, sekaligus titik tolak menelaah lebih dalam karya tersebut.


Hawe Setiawan pernah menulis “Kota Atheis” dalam sebuah kolom di Pikiran Rakyat (15/11/2018). Hawe mengungkap tempat-tempat, jalan, hingga gang yang disebutkan dalam novel Atheis. Tak lama setelah kolom itu terbit, Hawe menayangkan rute novel Atheis berbentuk sebuah peta yang dibuat Muammar Mochtar (DKV Unpas) di akun media sosialnya. Peta itu menunjukkan letak rumah tokoh-tokoh dalam novel Atheis, lengkap dengan nama jalan pada masanya yang masih menggunakan bahasa Belanda.

Sebelum melakukan kilas balik ke kampung Panyeredenan di Garut seperti saya, barangkali ada yang berminat memulainya dengan menelusuri rute novel Atheis di Bandung?[]

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Leave a Reply

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.