MENU
1

15 Mei 2017 Teater

Mengulang Kisah Drupadi

Senin malam (8/5/2017), cuaca dingin Bandung Utara sedikit terhangatkan oleh kisah Drupadi yang dipentaskan mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Pukul 19.00 Gd. Amphiteater UPI mulai dipenuhi penonton. Pementasan Drupadi dan Konflik Poliandri dalam Mahabharata ini hasil adaptasi dari novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma yang terbit awal tahun ini.

Sekitar pukul 19.30 pementasan diawali dengan sambutan dari pihak sponsor dan pengampu pergelaran. Selanjutnya, mulainya pementasan ditandai dengan datangnya Drupadi dan para dayang dari belakang panggung. Drupadi yang konon diciptakan dari api ditampilkan dengan lilitan busana berwarna merah, dia menari bersama enam dayangnya. Penonton dilenakan dengan penampilan tarian yang meskipun terkesan kaku tersebut.

Selanjutnya di atas panggung duduklah Drupada di singgasananya. Seusai menari Drupadi langsung menghadap ayahnya, Drupada. Seperti tak mampu lagi menyembunyikan niatnya, Drupada menyampaikan keingiannya untuk mengadakan sayembara untuk mencari pendamping yang tepat bagi putrinya. Drupadi menolak dan sangat tersinggung dengan keputusan ayahnya, maka berlangsunglah perdebatan ayah anak di atas panggung. Hingga Drupadi mengalah dan mencoba mengerti maksud dari keputusan ayahnya tersebut.

Drupadi ditinggalkan sendiri di atas panggung dan dibiarkan mengadu kepada Kresna yang hanya dihadirkan suaranya. Kresna mencoba menenangkan Drupadi dengan mengatakan bahwa ada seseorang yang pantas dia cintai selain Kresna dan itu akan didapatkan dari sayembara tersebut.

Penampilan Duryudana di atas panggung beberapa kali membuat tawa penonton meledak, padahal dalam kisah Mahabharata, Duryudana tidak tampil sebagai seseorang yang konyol. Duryudana terkenal keras kepala, mudah dipengaruhi, dan temperamental ini justru kalah dengan temperamental yang ditampilkan Dursasana.

Sepertinya penokohan para tokoh kurang maksimal, bukan hanya Duryudana tokoh lain pun mengalami masalah yang sama. Selain itu faktor teknis seperti posisi panggung yang terlalu belakang, kurang terdengarnya suara tokoh, juga lighting yang tidak menyorot secara maksimal memengaruhi tidak maksimalnya penokohan.

Adegan terus berganti dengan selingan guyonan slapstick, hingga adegan sayembara dimulai. Seperti yang sudah kita tahu baik dari kisah pewayangan maupun kisah dalam novelnya sendiri bahwa sayembara dimenangkan Arjuna. Di gubuknya Kunti menyambut empat putranya dengan bahagia karena berhasil mendapatkan Drupadi. Namun ada yang ganjal dengan tingkah Arjuna yang tampak malu-malu menunjukkan kegelisahannya.

Konflik sedikit menegang selepas kemunculan Yudistira. Arjuna dengan sedikit basa-basi berniat menyerahkan Drupadi kepada kakak pertamanya. Namun niat itu ditolak mentah-mentah oleh Yudistira. Bima mendukung keputusan Arjuna, sedang Nakula-Sadewa tetap membisu sejak awal kemunculan mereka.

Kunti yang merasa terganggu dengan keributan Pandawa keluar dari gubuknya bersama Drupadi. Setelah mendapatkan penolakan Yudistira atas pertanyaannya, Kunti tanpa menimbang atau merenung, memutuskan membagi Drupadi untuk kelima anaknya. Drupadi menolak keputusan Kunti, dia bermonolog tentang kesialan nasibnya sedang Pandawa dan ibunya dalam posisi freeze.

Lampu mati. Drupadi, Pandawa, bersama Kunti berjalan ke arah penonton. Gamelan dimainkan, Di panggung 3 bersaudara Kurawa dan Sangkuni memberitahu penonton untuk menunggu perjudian melawan Yudistira besok. Lampu mati dan gamelan kembali dimainkan. Drupadi, Pandawa, dan Kunti datang kembali ke panggung dari arah penonton dibarengi tepuk tangan canggung beberapa penonton. Mereka sudah tiba di panggung, tapi lampu tak kunjung dinyalakan, dan tiba-tiba dari arah belakang panggung terdengar riuh tepuk tangan. Penonton bertepuktangan lebih tegas sambil bergumam, “oh sudah selesai”.

Pergelaran sastra ini merupakan salah satu matakuliah mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Dari tahun ke tahun pergelaran ini selalu berbeda baik dari tema maupun naskah yang diolahnya, dan tahun ini mahasiswa Depdiksastrasia memilih mengalihwahanakan novel ke dalam pementasan drama.

Layaknya alih wahana genre sastra satu menjadi genre yang lain, mengalihwahanakan novel menjadi pementasan drama pun menghadirkan tantangan sendiri. Apalagi novel intertekstual seperti novel Drupadi ini. Selama pementasan penonton memanggil ingatannya akan kisah Drupadi baik dari novel yang ditulis SGA maupun kisah Mahabharata pada umumnya. Lalu penonton akan mencocokkan pengetahuannya dengan pementasan yang sedang berlangsung.

SGA dalam beberapa wawancara mengatakan bahwa tidak ada perubahan signifikan antara novelnya dengan kisah Mahabharata. Melalui novelnya, SGA ingin menekankan perlawanan Drupadi terhadap kesewenang-wenangan yang didapatnya. Meski hal ini tetap tidak jauh beda dengan kisah Mahabharata versi India. Lantas apa yang ditawarkan pementasan ini? Apakah penonton yang sudah menyaksikannya perlu membaca novel Drupadi karena merasa tertarik atau karena tidak mengerti maksud yang ingin disampaikan pementasan ini?[]

Foto: Figia Putri

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>