MENU

21 Mei 2017 Film

Menghayati Ziarah Mbah Sri

ziarah1

Kematian menjadi sesuatu yang asyik dikhayalkan oleh kebanyakan orang.  Semacam pra-kondisi karena ketidakmampuan pikiran menjangkau takdir akhir hidup. Mengharap mati syahid di medan perang bagi sebagian, atau mati memeluk tubuh kekasih bagi yang lain. Imajinasi kematian pun hidup di pikiran dan hati Mbah Sri (Ponco Sutiyem), perempuan senja berumur 90 lebih ini ingin dimakamkan di samping peristirahatan suaminya.

Sayangnya, Prawiro, suami yang dicintai Mbah Sri telah meninggal jauh lebih dulu. Terakhir, lelaki itu menitip pesan padanya bahwa ia pergi untuk menjadi pejuang saat Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta tahun 1948. “Jika aku tak kembali, berarti aku gugur di medan perang. Ikhlaskanlah. Memang, negara ini membutuhkan nyawa untuk merdeka”. Pesan itu yang dipegang Mbah Sri.

Pesan Prawiro bagi sebagian orang terasa heroik, menyentil rasa nasionalisme. Namun, tampaknya tidak begitu bagi Mbah Sri. Pesan Prawiro menjadikan kerinduan Mbah Sri semakin menjadi-jadi. Mbah Sri membutuhkan medium untuk menumpahkan kangennya yang terus mendesak. Selama puluhan tahun, nisan “Pahlawan Tak Dikenal” di Makam Pahlawan cukup menjadi petanda sosok perkasa Prawiro di benak Mbah Sri.

Segalanya berubah, suatu sore, seorang veteran kawan Prawiro saat jadi serdadu menceritakan bahwa ia mengetahui kubur Prawiro. Tentu, kuburan di Makam Pahlawan tak lagi jadi obat, hidup Mbah Sri semakin berat. Kini, rindu harus dituntaskan, cita-cita kematian yang harus diwujudkan: dikuburkan berdampingan dengan suami tercinta. Perjalanan spiritual Mbah Sri dimulai. Mbah Sri mencari-cari kubur Prawiro.

Sejak adegan ini, saya mulai teringat Ene (Nenek) sendiri. Dia seringkali mencari kedua adik saya dari satu rumah ke rumah lainnya. Saya pun terkadang dicari, padahal ia tahu saya sedang sekolah di Bandung. Tubuhnya yang lemah terus ia seret demi memastikan cucunya baik-baik saja. Suatu hari dalam pencariannya, ia jatuh dan tidak bisa berjalan, sakitnya tambah parah. Hingga akhirnya ia dapat kembali berjalan, tapi menuju rumah Tuhan.

Saat Ene hidup, kami tidak tahu apa artinya mencari bagi seorang yang telah renta. Karenanya, berharap menebus dosa, saya belajar dari Mbah Sri melalui film ini, bahwa mencari sesuatu yang dicintai sebenarnya menggali kedalaman jiwa sendiri. Dalam proses itu ada peristiwa-peristiwa kenangan yang disusun menjadi bayangan akhir kehidupan.

Film Ziarah karya sineas muda jenial BW Purba Negara ini menggambarkan dengan apik batin Mbah Sri dan cucunya sepanjang pencarian makam Prawiro. Film ini seperti menggunakan pendekatan snowball sampling, yaitu mengikuti tutur dan pandang orang-orang yang mengetahui topik yang sedang didalami, dalam hal ini tentang letak kubur Prawiro. Namun, batin Mbah Sri tidak khidmat jika digali dari segi teori.

ziarah2

Dalam cara bertuturnya, “mentang-mentang” sarjana Filsafat, BW memainkan filsafat paradoks, membenturkan antara nilai-nilai dan kondisi psikis Mbah Sri, dan kondisi cucunya yang ingin segera menikah. Pembenturan antar generasi dan lintas kondisi. Pembenturan itu menjadi hantaman-hantaman pemikiran yang menarik, kondisi batin yang semakin hanyut dalam perenungan ke dalam diri. Paradoksal ini terus terjalin hingga akhir film.

Pertentangan ini dimulai dengan adegan film pembuka cerita. Sepasang kekasih sedang menggambarkan bagaimana rumah mereka kelak. Mereka memetakan pondasi rumah dengan galah, gagang sapu, benda panjang apapun asal tergambar dengan baik.

Lelaki dari sepasang kekasih itu adalah cucu Mbah Sri (Rukman Rosadi). Lelaki itu baru mengetahui Mbah nya mencari kubur Prawiro ketika ia ingin meminta restu untuk menikah. Latar belakang inilah yang menghadirkan batin yang beda. Seorang lelaki yang mencari untuk meminta restu untuk memulai fase kehidupan dunia yang baru, sementara Mbah Sri mencari untuk memastikan bagaimana ia mengakhiri hidupnya di dunia: dikuburkan disamping makam suaminya.

Pencarian seluruhnya dilakukan di bentang alam pedesaan, kondisi ruang yang menggambarkan wilayah kelompok geriliyawan. Pencarian pertama dilakukan ke Alas Pucung. Setelah perjalanan puluhan kilometer, Alas Pucung sudah digenang air mejadi waduk. Tatapan yang kosong namun dengan perasaan hancur makamnya berada di dasar waduk, Mbah Sri hanya melamun berhari-hari di pinggir waduk. Barangkali untuknya, setiap gerak air adalah nafas suaminya tercinta.

Film ini pun ternyata mengajak kita menziarahi hal lain, kondisi politik kita di masa lalu. Saat cucu Mbah Sri berbicara dengan seorang warga di pinggir waduk, mereka kesalahpahaman terkait peran “tantara” di republik ini. Saat bertanya tentang Prawiro seorang tentara, seorang warga tersinggung. Cucu Mbah Sri heran, baginya tentara adalah pejuang yang rela menitipkan nyawanya pada kemerdekaan sebuah bangsa, terlebih tentara itu adalah kakeknya. Namun bagi seorang warga di sana, tentara tak lain hanyalah komplotan biadab, alat pemerintah yang tidak mau berkompromi dengan warga saat pemaksaan penyerahan rumah dan lahan mereka. Tentara menggertak atasnama nama pembangunan dan kemakmuran bersama.

Pencarian pun terus dilakukan Mbah Sri dari satu kalimat petunjuk ke kalimat petunjuk lainnya, panjang atau singkat, jelas atau tidak, fakta atau khayalan, nama yang benar atau yang salah, tidak diperdulikan oleh Mbah Sri. Selagi batinnya bicara “terus melangkah” maka ia melanjutkan pencarian ke berbagai petunjuk.

Pencarian terlihat seperti di negeri asing, di negeri sunyi pun diperkuat dengan latar tempat yang dipilih, tembang jawa yang sakral, serta pemilihan angel film yang didominasi long shot. Komponen teknis film yang mapan, menggambarkan psikologis Mbah Sri terlihat besar di tengah kerdilnya ia di dunia. Semesta pun seperti merunduk pada setiap langkah Mbah Sri, semesta melebur dalam batin Mbah Sri yang mengandung rindu yang kuat, ketabahan yang teramat.

Pencarian pun tak hanya mengandalkan ingatan orang yang sebenarnya mudah lumpuh baik disengaja atau tidak. Nuansa kejawen, manunggaling kawulo gusti, dihadirkan melalui sebuah keris yang dimiliki oleh Mbah Sri. Keris itu adalah pemberian Prawiro. Dan dalam kepercayaan Jawa, keris yang berpasangan akan bisa saling menemukan. Seperti sepasang hati yang terikat, meski terpencar pada akhirnya akan tetap melekat berdekatan.

Di akhir film, saya merasa menjadi manusia yang benar-benar tolol di hadapan sosok Mbah Sri. Jiwa saya ternyata begitu kecil menghadapi candaan-candaan Tuhan yang tidak seberapa. Sementara Mbah Sri tetap teguh dengan humor Tuhan yang lebih dahsyat itu. Dengan tatapannya yang tajam, mulut yang tak banyak bicara, di batinnya ada sumur cinta yang dalamnya tak terhingga.

Akhirya, Mbah Sri dapat menemukan di mana akhirnya ia harus dimakamkan. Tentu disamping lelaki yang mencintainya, tapi bukan Prawiro.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>