Menghadirkan Puisi ke dalam Video

1280 720 Wahyu Heryadi

Jika kita melakukan penulusuran video di Google dengan kata kunci puisi (saya melakukan penelusuran pada tanggal 22 Agustus 2019) maka akan muncul video di Youtube sebanyak 4.270.000. Hal ini menunjukkan bahwa media penyampaian puisi melalui video sudah banyak yang membuatnya. Hal yang berbeda jika kita langsung masuk ke Youtube dan melakukan pencarian dengan kata kunci puisi. Maka yang muncul adalah video klip musik dari band Jikustik yang berjudul Puisi.

Saya kemudian mencoba mengklik video pertama yang muncul dari hasil pencarian yang berada di Kompasiana.com, diupload pada tanggal 6 Mei 2019, dibuat oleh Fadili dengan keterangan bahwa dia adalah Founder Sajak Puisi. Video yang ditampilkan adalah pembacaan puisi, teks yang mengikuti pembacaan puisi, dan kemudian nyanyian.

Masih di halaman pertama mesin pencarian video, kita bisa mendapatkan seorang penyanyi dan penulis yang terkenal bernama Fiersa Besari dengan video puisinya berjudul Puisi Netizen yang diuplod pada 26 Juni 2019. Proses pembuatan puisi video tersebut dijelaskan di awal videonya, bahwa dengan pembuatan puisi ini, Bestari meminta warga twitter untuk memberikan contoh bagaimana netizen bisanya berkomentar, kemudian Bestari menyeleksi komentar tersebut dan merangkainya menjadi puisi.

Tampilan video tersebut menampilkan pemandangan ilalang di pegunungan dan potongan gambar komentar di Twitter yang dibacakan, pembacaan puisi tersebut dengan iringan musik. Proses pembuatan puisi ini sudah sangat lazim digunakan di dalam creative writing, sehingga sebenarnya teknik pembuatan tulisan atau dalam hal ini puisi bukan sesuatu yang baru atau bahkan harus dihindari.

Tidak ketinggalan, penyair Afrizal Malna memulai video puisi pada tahun 2012, dia membacakan puisi dan menampilkan seni video seperti kolase, grafis, manipulasi citra, teks yang berjalan mengikuti suara puisi, di dalam puisi videonya. Hal ini menunjukkan bahwa, baik itu penyair yang sudah malang melintang di dunia puisi dan juga generasi muda, menjadikan video puisi sebagai salah satu media ekspresi, eksplorasi, inovasi, dan eksperiman dalam berpuisi.

Secara sederhana, puisi video adalah puisi dalam bentuk video. Orang yang pertama kali menggunakan istilah puisi video adalah Tom Konyves, seorang penyair dari Montreal Kanada pada tahun 1970an. Pada saat itu merebaknya seni video memungkinkan wilayah eksplorasi dan eksperimen dalam video puisi.

Masa awal perkembangannya adalah ekperiman dari seni video. Sebuah upaya untuk mengekspresikan kemungkinan-kemungkinan seni dan eksperimentasi seni dalam film atau video. Ada banyak nama lain sebetulnya yang berkembang di antaranya adalah; puisi video, video puisi, puisi video-visual, puisi media, puisitronika, cinepuisi. Penamaan-penamaan tersebut ternyata bergantung pada teknik pembuatan dan eksplorasi yang dilakukan antara puisi dan video tersebut.

Pada saat ini, setidaknya perkembangan video puisi dari Garut, kita dapat melihat karya video puisi yang ditawarkan oleh Deri Hudaya. Apa yang ditawarkan oleh Deri Hudaya dalam video puisinya? Pembacaan puisi, akting, plot cerita yang merupakan tafsir bebas atas naskah puisinya. Jika kita melihat secara seksama, antara teks puisi dan video puisi dapat dikatakan saling berdiri sendiri, yang menjadi titik tautnya dalam video puisi tersebut adalah teks puisi yang dibacakannya.

Cerita di dalam video puisi tersebut, dapat dikatakan jauh juga dari bayang teks puisinya. Improvisasi pemaknaan dari teks puisi tersebut ke dalam video menjadi bebas. Seorang laki-laki yang membangun boneka dari kawat, dan kemudian menghidupkannya melalui imajinasi. Pada akhirnya, boneka itu ditinggalkan oleh pembuatnya -si laki-laki tersebut.

Puisi Deri Hudaya

Sajak Ini, Cintaku, Seperti Hujan Di Akhir Desember

Sajak ini, cintaku, seperti hujan di akhir Desember. Matamu
berjatuhan dari genting rumahku sore hari. Matari pun mati.
Kenangan basah kembali. Aromanya meruap dari bunga-bunga, dari
daun-daun, dari tanah yang tak dikenal namanya. Ah, barangkali, kita
sendiri telah sepakat melupakannya.

Sajak ini, cintaku, seperti hujan di akhir Desember. Sebelum
keinginan mengubah diri jadi kembang api, jadi cahaya-cahaya
sementara di langit malam hari tanpa menyisakan apapun selain
hening kembali selain melodi percintaan kita sendiri. Meski akan
kudengar tepuk tangan riuh dari ilusi pertunjukan entah nan jauh.

Sajak ini, cintaku, seperti hujan di akhir Desember. Rambutmu
tergerai, rambutmu surai-surai pertanyaan perihal waktu. Sesuatu
yang mengilaukan gundul kepala penyair Malna: apakah ia berjalan
ke depan atau ke belakang. Mengapa harus ia berganti-ganti angka.
Apakah mesti dirayakan dengan doa-doa kesedihan atau dengan
melodrama yang menyedihkan dan sia-sia.
Sajak ini, cintaku, seperti hujan di akhir Desember. Akan kucintai
dengan seluruh melankoli, dan menjaga rahasia matamu, rambutmu,
jari-jemari tanganmu
yang berjatuhan. Di antara masa lalu dan masa depan
yang menciptakan segala kecemasan.

Sajak ini, cintaku, seperti hujan di akhir Desember. Membasahi
pikiranku. Membasahi pikiranku.

2012.

Kita bisa membayangkan, jika saja boneka perempuan itu adalah robot yang memiliki kecerdasan buatan sepertinya akan lebih menarik lagi. Kita seperti sedang menghidupkan dan menguasai teknologi untuk mengisi relung hati yang sunyi, dan teknologi tersebut meski hanya buatan tapi ada dan nyata. Tapi ya apa daya, bangsa ini memang masih jauh dari imajinasi teknologi tinggi yang jika kita melihat perkembangan negara maju seakan kita mempunyai jarak teknologi yang cukup jauh, masih jauh bagi kita untuk mengejarnya.

Adakah yang mampu melampaui teknologi teleskop Hubble? Adakah yang mampu melampaui teknologi robotika kecerdasan buatan? Adakah yang mampu melampaui teori Superstring dan teori-M untuk fisika, astrofisika dan matematika posmodern kontemporer? Mampukah kita membangun teknologi untuk membangun koloni baru di Mars? Sehingga, bagaimana puisi berkembang juga menjadi sebuah usaha mengisi kesendirian dengan membuat rekaan yang ternyata disesuaikan dengan perkembangan kondisi sosial teknologi yang ada dan berkembang di sekitarnya saat ini.

Video puisi kedua dari Deri Hudaya pun dapat dikatakan sebagai puisi video yang bergerak liar menjauhi teksnya. Perempuan sebagai tokoh utamanya sangat berjarak dengan lingkungannya, tidak akrab, dan cenderung melakukan perjalanan yang menjauhi masyarakatnya menuju ke kesendirian, seperti halnya diri perempuan itu yang merasa terasing di lingkungannya. Video puisi ini tentang keterasingan dan perjalanan untuk menuju dirinya.

Puisi Deri Hudaya

Jalan Yang Lain

Banyak orang bergegas ke Palestina
Membawa senjata, doa, serta bendera-bendera
Aku hanya ingin melihat pucat wajahmu, Cintaku
Puisi tentang anggur dan setangkai mawar cukup jadi bekalku
Membayangkanmu membusuk sendiri tanpa pernah tersentuh
matahari

Adalah siksaan paling kelam dari hidup ini
Orang-orang berebut jalan ke swargaloka
Api pertempuran merambat dari ingatan tentang para leluhur
Aku memilih labirin lain menuju tempat persembunyianmu, Cintaku
Setiap keraguan kusiasati senantiasa untuk menempa keyakinan
Membiarkanmu tetap menolak pada segala sesuatu yang hadir di dunia
Adalah tragedi paling mengerikan bagi seorang pecinta
Barangkali, nanti, puisiku akan berkhianat pada maknanya
Dan bunga berwarna darah ini tak akan mekar selamanya
Barangkali, teriakan dan peluru-peluru itu sering juga salah sasaran
Dan jalan yang diperebutkan bisa jadi malah mengarahkan mereka ke jurang
Apalah arti petualangan, Cintaku, bila sepenuhnya luput dari kemalangan
Kurapal namamu untuk melipur borok-borok luka di perasaanku
Ada kemarin dan hari ini. Ada yang mati
Dan lahir demi kebijaksanaan di balik huru-hara pertempuran suci
Sebagaimana aku yang ingin mengecup bibir malismu, Cintaku
Mengurai kusut rambutmu: memahami belantara kesedihan
Di luar batas pikiranku

2019

Sangat jelas, tidak ada angkot dan ibu-ibu dalam puisinya, tapi tokoh perempuan sedang mempuisikan diri di dalam angkot. Tidak ada perjalanan menuju tempat untuk mengasingkan diri, atau menenangkan diri, tetapi di dalam video puisi tersebut tergambar sebuah perjalanan menuju ketenangan diri. Sebuah teks puisi dan video puisi yang berdiri sendiri, saling memaknainya dari teks puisi yang dibacakan, persoalan isi dari video tersebut adalah momen puitis yang diciptakan sebagai sebuah peristiwa baru yang sangat berbeda dengan teks puisinya.

Hal menarik lainnya adalah, Deri Hudaya menamakan karyanya ini sebagai Poesual Art, tentunya sebagai pembaca dan penonton membuat kita akan bertanya-tanya, mengapa diberi nama demikian? Mengapa di beri nama yang berbeda dengan nama-nama video puisi yang sudah ada sebelumnya? Betul, bahwa Deri Hudaya harus memberikan penjelasan tentang apa itu Poesual Art.[]

Wahyu Heryadi

Wahyu Heryadi

Pegiat Perbukuan. Pendiri Kentja Press

All stories by:Wahyu Heryadi
Leave a Reply

Wahyu Heryadi

Wahyu Heryadi

Pegiat Perbukuan. Pendiri Kentja Press

All stories by:Wahyu Heryadi
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.