Mengenal Peradaban Laut Melalui Sehimpun Kisah

820 820 Dewi Setya

Sebagai seorang yang tumbuh besar di daratan, laut adalah narasi yang asing bagi saya. Setiap kali mendengar semboyan “Nenek moyangku seorang pelaut, yang muncul dalam benak justru karakter kartun Popeye, Si Peniup Pipa Cangklong. Popeye si pelaut… tut-tuuut

Ketika dewasa, pengetahuan mengenai laut pun sebatas dalam struktur wacana pemerintah. Misalnya, politik luar negeri Indonesia ‘poros maritim dunia’. Atau, Menteri Kelautan dan Perikanan yang gemar menenggelamkan kapal-kapal asing yang menerobos zona perairan Indonesia. Selain itu, laut pun tereduksi menjadi brosur iwisata dan proses pelelangan ihasil laut. Alam bahari dipromosikan sebagai sulur-sulur pelancongan, sementara biotanya dihitung-hitung sebagai nilai ekspor negara.

Bahwa laut menghimpun peradaban masyarakat, tidaklah hidup dalam kepala saya.

Dalam situasi itulah sehimpun kisah Nelayan itu Berhenti Melaut karya Safar Banggai seperti suara yang menyeruak dari kedalaman laut. Membaca cerpen demi cerpennya, saya terbawa pada pengalaman-pegalaman fisik si penulis, bukan sekadar hasil pelacakan literal. Apalagi, konon, si penulis memang lahir dan tumbuh di peradaban Banggai Laut, Sulawesi Tengah.

Safar Banggai berhasil mengelola berbagai topik, mulai dari perilaku tokoh sebagai orang pesisir dalam kehidupan sehari-hari hingga bentang sejarah laut yang hidup dalam tradisi. Namun, paling mencolok, atau setidaknya paling menarik bagi saya ialah soal kritik Safar terhadap isu sosial yang terjadi di masyarakatnya, atau paradigma umum yang bias terhadap masyarakatnya.

Cerpen “Makan Mayat Manusia” berkisah tentang seorang warga desa yang menggunakan potas ikan. Si warga mati karena ledakan potasnya sendiri. Alih-alih cerita soal azab Tuhan, cerpen ini mengkritik institusi pemerintah dengan pungkasan judul berita koran: Kepala Kepolisisan Kabupaten Ditangkap Polisi Karena Menjual Bahan Peledak Alias Pupuk (hal. 16). Kritik sosialnya bukan pada perkara masyarakat yang menggunakan peledak, melainkan skakmat untuk aparat yang justru membiarkan dan menyediakan barang tersebut.

Kritik soal pemerintah juga hadir dalam cerpen “Leppa”. Safar menuai sesal kepada aturan pemerintah yang memindahkan masyarakat dari Leppa—semacam rumah kapal—ke daratan. Konflik sosial yang terjadi akibat aturan tak luput disinggung.

Tak hanya pemerintah, peneliti pun menjadi bahan kritikan dalam cerpennya. Masih dalam cerpen yang sama, Safar mengingatkan para akademisi yang seringkali menjadikan subyek peneliti sebagai narasumber semata. “Belajarlah pada tradisi Leppa, Tuan” (hal. 36) adalah isyarat bahwa riset etnografi tak seharusnya sekadar didampingi penerjemah dan melontar tanya ina-inu saja. Bahwa etika riset etnografi seharusnya mencari jawaban melalui pengalaman meresap (immerse) ke dalam masyarakatnya, yakni dengan mempraktikkan laku masyarakat setempat. Sehingga, jawaban bisa diperoleh dari proses berpraktik menjadi masyarakat itu sendiri.

Safar pun menyindir tabiat peneliti yang bias, membawa pengetahuan-pengetahuan modernnya untuk mengamati pengetahuan lokal. Padahal, lensa saintifik yang modern tidak selalu mampu membaca yang tradisi.

Dalam cerpen “Manusa Ikan”, si peneliti dikisahkan tidak mendapat jawaban dari masyarakat lokal, maka, si peneliti berburu literatur di kampus-kampus besar. Cerpen pun diakhiri dengan perkataan narator “Dia menyimpulakn hasil penelitiannya di simposium beken. Dan, dia menyimpulkan bahwa orang laut adalah keturunan ikan”. Seolah-olah ingin menyindir sumber pengetahuan para akademisi yang sekadar asumsi, bukan berbasis pengetahuan masyarakat asli. Sebuah gambaran mitos akademik yang umum.

Namun, tidak seluruhnya cerpen-cerpen Safar selalu diketahui juntrungannya secara gamblang. Di satu-dua cerpen, selaku pembaca saya dibuat menerka-nerka dan kadang mengajukan keberatan.

Pada cerita berjudul “Nelayan itu Berhenti Melaut”—yang menjadi pembuka sekaligus judul kumcer—Safar mencoba memaparkan isu keagamaan di kalangan pesisir. Seorang pemuda nelayan bernama Atam diletakkan sebagai tokoh sudut pandang cerpen. Alkisah, Atam naksir putri Pak Haji, bernama Siti. Siti terpelajar dan taat beribadah. Atam buruk rupa dan melarat. Atam ditolak mentah-mentah oleh Pak Haji tatkala melamar Siti. Setelah mutung beberapa hari, pergilah Atam ke rumah seorang kawan. Cerpen ditutup dengan pertanyaan Atam kepada sang kawan, “Bagaimana cara menjadi Muslim?” (Hal. 9).

Mungkin, Atam hanya punya satu pilihan untuk menaikkan sedikit derajat dirinya di mata Pak Haji, yaitu menjadi muslim sejati. Seandainya premisnya memang demikian, hal yang sedikit mengganggu adalah sebuah kalimat “Selesai sholat Asar, Atam menyiapkan perlengkapan melaut.” (Hal. 4). Itu mencerminkan bahwa Atam pun telah taat beragama, juga meruntuhkan asumsi pembaca yang seperti sebelumnya.

Sebagai pembuka, cerpen ini membuat saya kesal, bukanya terpana. Saya merasa Safar membangun narasi yang agak membingungkan dan sulit ditangkap fokusnya.

Sementara di cerpen “Kabar dari Kampung Lede” saya malah ingin protes pada satu narasinya. Cerpen itu berkisah tentang dua lelaki yang semasa kuliah bersebrangan garis ideologi, tetapi direkatkan oleh sebuah hobi diskusi. Si narator bertutur “Saat kami masuk kuliah, ia masuk di organisasi merah dan aku di organisasi hijau. Ideologi dua organisasi ini jauh berbeda. Mengapa kami bersahabat? Sebab ia suka diskusi, aku juga. Dialektika mempererat persahabatan kami.” (hal. 22). Usai kalimat itu, si narator menambahkan “Ideologi boleh beda, tapi kultur kampung tidak boleh ditinggalkan.” (hal. 22)

Seandainya isu primordial lebih diutamakan Safar, bukan “dialektika yang mempererat persahabatan kami”, melainkan “kami sama-sama orang Timur, itulah yang mempererat persahabatan kami”, mungkin akan lebih pas.

Dengan segala muatan kritik budaya dan sosial, sayangnya cerpen ini pun kurang terlalu asyik dalam gaya tutur berbahasa.  Tampak hampir terjebak pada bahasa opini ilmiah atau populer yang membedah realitas sosial. Apalagi bagi penikmat metafora senja dan segala luasan cakrawala yang ulala, mungkin akan sedikit kecewa terhadap daya ungkapnya.

Namun, jika pembaca mempertimbangkan konten realitas sosial dan budaya—khususnya dari perspektif orang laut—kekurangan itu tidak terlalu berarti. Gagasan yang disampaikan melalui alur dan penokohannya punya nilai kekayaan tersendiri. Kekayaan memori sejak kecil tentang akar peradabannya.

Buku tipis ini cukup untuk menjadi salam perkenalan dari Safar Banggai dalam dunia sastra, tentu saja sebagai penulis, bukan nelayan.[]

 

Detil Buku
Judul Buku: Nelayan itu Berhenti Melaut
Penulis: Safar Banggai
Penerbit: Pojok Cerpen, Yogyakarta
Tebal: vi+70 halaman
Terbit: Maret, 2019
ISBN: 9786025350337

Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.