Mengajar Bahasa Indonesia di Thailand

2560 1920 Yussak Anugrah

“Bagi saya, mengajar dasar Bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing rasanya seperti mengajar anak kelas 1 SD. Cara mengajarnya pun hampir sama, yaitu banyak mengenalkan, menjelaskan, dan memberi contoh.”

Scrbble menjadi media pembelajaran untuk mahasiswa di Universitas Mae Fah Luang. (Foto: Yussak Anugrah)

Scrbble menjadi media pembelajaran untuk mahasiswa di Universitas Mae Fah Luang. (Foto: Yussak Anugrah)

Sejak 19 Agustus 2014, saya tinggal di Lamduan 6, sebuah asrama di lingkungan kampus Universitas Mae Fah Luang di Chiang Rai, Thailand. Chiang Rai adalah daerah paling utara di Thailand yang berbatasan langsung dengan Myanmar dan Laos.

Tujuan saya datang ke Chiang Rai adalah untuk mengajar Bahasa Indonesia kepada mahasiswa di Universitas Mae Fah Luang. Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah pilihan bagi mahasiswa yang sudah memasuki tahun kedua untuk memenuhi jumlah kredit SKS mereka.

Hadirnya program Bahasa Indonesia di universitas ini berkat teman saya, Pujo Leksono. Dialah yang merintis program ini di Universitas Mae Fah Luang, dan sekarang tongkat estafet mengajar diserahkan kepada saya karena dia harus mengisi pos berikutnya di Universitas Naeriswan di kota Phitsanulock.

Menurut rencana studi di kampus tersebut, saya harus mengajar mereka pada awal September. Tetapi, karena persoalan administrasi, saya baru bisa bertemu dan mengajar mahasiswa pengontrak mata kuliah Bahasa Indonesia pada 16 September.

Praktis selama satu bulan saya luntang-lantung, makan dan tidur, sambil diselingi kegiatan mengurus perkara administrasi, naik bus ke Bangkok untuk mengurus visa di kantor imigrasi yang ternyata ditolak. Puncaknya, balik lagi ke Jakarta untuk mengurus visa di Kedutaan Thailand.

Mahasiswa Universitas Mae Fah Luang sedang menyimak pembelajaran Bahasa Indonesia. (Foto: Yussak Anugrah)

Mahasiswa Universitas Mae Fah Luang sedang menyimak pembelajaran Bahasa Indonesia. (Foto: Yussak Anugrah)

Disadari atau tidak, saya sudah mengajar mereka selama tiga minggu. Apa yang telah saya berikan kepada mereka?

Hal pertama yang saya lakukan tentunya mengenalkan dasar membaca abjad dan cara berkenalan dalam Bahasa Indonesia. Karena, walaupun ada mahasiswa yang berasal dari Thailand selatan dan bisa berbahasa Melayu, pengucapan mereka berbeda sehingga mereka harus menyesuaikan dengan pengucapan dalam Bahasa Indonesia.

Kesan yang saya dapat selama mengajar Bahasa Indonesia kepada mahasiswa Thailand adalah biasa saja. Saya mengatakan biasa karena mahasiswa ya mahasiswa, di Indonesia dan di Thailand atau di tempat lain mungkin sama saja.

Sama dalam artian mereka ada yang rajin, ada yang malas (seperti saya dulu), ada yang banyak alasan untuk keluar kelas, atau baru nongol pada pertemuan ketiga. Tapi secara keseluruhan, dari ketiga kelas yang saya ajar, mereka cukup apresiatif dan partisipatif dalam setiap kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas.

Mahasiswa sedang praktik mengenalkan diri dengan Bahasa Indonesia. (Foto: Yussak Anugrah)

Mahasiswa sedang praktik mengenalkan diri dengan Bahasa Indonesia. (Foto: Yussak Anugrah)

Bagi saya, mengajar dasar Bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing rasanya seperti mengajar anak kelas 1 SD. Cara mengajarnya pun hampir sama, yaitu banyak mengenalkan, menjelaskan, dan memberi contoh.

Setelah melakukan kegiatan mengenalkan, menjelaskan, dan memberi contoh, saya akan membuat mereka berlatih untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan materi yang sudah diajarkan kepada mereka. Selama tiga minggu ini, mereka baru belajar mengucapkan “abjad”, “cara berkenalan”, “budaya mengucapkan salam dan berjabat tangan”, dan “warna”.

Cara berlatih berbahasa Indonesia yang saya terapkan kepada mereka adalah dengan membuat mereka membuat proyek video perkenalan yang hasilnya harus mereka unggah di Youtube, melakukan percakapan dengan penutur bahasa Indonesia asli—dalam kegiatan ini saya dibantu mahasiswa Indonesia yang memang berkuliah di sini dan mahasiswa IPB yang sedang melakukan penelitian selama satu semester di Universitas Mae Fah Luang, dan sebagai hiburan saya mengajak mereka untuk mengunjungi Indonesian Corner dan bermain scrabble bahasa Indonesia di sana.

Cara mengajar saya mungkin tidak jauh berbeda dengan guru kebanyakan, dan jika dinilai atau dimintai kesan, para mahasiswa mungkin akan berkomentar sama seperti kesan saya tentang mereka. Tapi persoalannya saya pikir bukan di situ, persoalannya ada di kemauan untuk menjalani proses karena prinsip belajar bahasa sama dengan prinsip belajar ilmu lain, yaitu tentang ketekunan, kerajinan, dan eksperimen. Ketiga hal tersebut berlaku tidak untuk mahasiswa saja, tetapi juga untuk saya. Karena sejatinya manusia adalah selalu belajar dan memberi ajar kepada sesamanya.[]

Sumber foto: Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.