MENU
1

6 Juli 2017 Pelesir

Menelusuri Destinasi Wisata  Songkhla, Thailand Selatan

Sabtu 10 Juni 2017, bersama satu rekan pengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), saya melakukan perjalanan ke kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Thailand Selatan di provinsi Songkhla. Selain untuk melapor, kami juga akan ikut acara buka bersama warga Indonesia.

Kami menetap sementara di Thailand dalam rangka melaksanakan tugas mengajar BIPA dari Pusat Pengembangan Strategi Diplomasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kami mendapat tugas mengajar di Narathiwat, salah satu provinsi di Thailand Selatan.

Jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke Songkhla dari Narathiwat sekitar 173 km. Maka dari itu, kesempatan ini tak boleh kami sia-siakan untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di Songkhla.

Pantai Samila
Pantai Samila menjadi destinasi wisata pertama yang kami kunjungi. Jaraknya cukup dekat dari kantor KJRI, hanya 1 km. Karena kami belum tahu secara pasti lokasi pantai Samila, kami putuskan untuk menggunakan kendaraan khas Thailand bernama tuk-tuk. Tuk-tuk merupakan alat transportasi umum yang biasa digunakan warga setempat. Ongkos yang ditawarkan pun cukup terjangkau, hanya 20 bath atau 7.880 rupiah untuk semua tujuan.

Bentuk tuk-tuk ialah sebuah mobil pick up yang diubah dengan menambahkan kursi penumpang yang saling berhadapan dan dipasang penutup di atasnya. Alat transportasi ini memiliki warna yang khas, merah dan biru. Warna plat nomornya kuning seperti transportasi umum di Indonesia.

Pantai Samila memiliki pemandangan yang lumayan menarik. Dihiasai oleh pohon pinus yang berjajar dengan rapi dan rumput hijau di sekelilingnya. Selain itu, terdapat banyak burung merpati terbang di sekitar pantai. Terkadang merpati-merpati itu mendatangi pengunjung.

Suhu udara di pantai ini cukup panas. Apalagi saya sebagai muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa, menambah rasa kering di tenggorokan. Beruntung, angin yang sejuk melengkapi suhu udara yang panas, sehingga panasnya tak begitu menyengat.

Patung putri duyung adalah salah satu ikon dari pantai ini. Banyak pengunjung yang berswafoto di depan patung. Konon, jika pengunjung menyentuh bagian dada patung tersebut dapat kembali secepatnya ke Songkhla. Selain itu, saya sangat beruntung mengunjungi pantai ini di bulan Juni karena keadaan air yang tenang dan tak ada ombak sama sekali.

Tang Kuang Hill Top Songkhla
Destinasi kedua ialah Tang Kuang Hill Top Songkhla. Sebuah bukit yang dilengkapi sebuah kuil yang digunakan untuk berdoa bagi umat budha. Selain itu, dari atas bukit kita disuguhi pemandangan Provinsi Songkhla secara keseluruhan. Saat saya akan memasuki destinasi wisata ini, terlihat banyak sekali monyet yang bergelayutan di antara kabel-kabel listrik dan di pinggir jalan.

2

Seperti halnya di Pantai Samila, di Tang Kuang Hill pun banyak terdapat merpati yang hilir mudik mencari pengunjung yang memberikan makan. Siapa sangka ketinggian 170 M dapat ditempuh dengan waktu hanya 3 menit saja. Ya, pengunjung tidak perlu cemas kelelahan menaiki bukit ini karena terdapat lift yang bergerak mengikuti jalur menanjak serupa jalur permainan roller coaster. Bahkan lift ini aman dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Biaya yang harus dikeluarkan oleh pengunjung cukup murah, hanya 30 bath atau sekitar 12.000 rupiah. Pemandangan dari atas membuat saya takjub, apalagi saya yang tinggal jauh dari laut. Dari sini terlihat bangunan-bangunan seperti pemukiman, kantor kerajaan, sekolah dan jalan raya yang berjejer dengan rapi. Dari sini terlihat Provinsi Songkhla yang dikelilingi oleh lautan. Beberapa kapal laut yang sibuk berlayar atau yang sedang membongkar muatan melengkapi suguhan dari atas sini.

Aquarium Songkhla
Destinasi ketiga ialah Aquarium Songkhla. Lokasinya masih di sekitar Pantai Samila. Pemandangannya tak jauh berbeda dengan wisata akuarium di Indonesia. Pengunjung harus mengeluarkan uang sebesar 300 bath atau sekitar 120.000 rupiah. Harga yang standar untuk melihat berbagai macam jenis ikan di dalamnya. Berbagai jenis ikan dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Tak terdapat jenis ikan yang berbeda dengan ikan di Indonesia, semuanya sama yaitu hiu, kura-kura, ikan koi, dll.

Ketika memasuki akuarium, saya diberi tahu akan ada pementasan pada pukul 12.00. Tepat pukul 12.00 pementasan pun digelar. Seorang freediver memasuki sebuah kolam dengan kaca besar sehingga pengunjung dapat melihatnya. Atraksi dibuka oleh penyelam yang seolah menaiki lumba-lumba besar. Selanjutnya dengan dilengkapi makanan ikan yang disimpan di pinggang ia memberi makan ikan-ikan yang kecil terlebih dahulu sehingga semua ikan berkumpul menutupinya.

Atraksi selanjutnya tak kalah menarik, memberi makan penyu besar sambil berdansa berputar-putar sampai si penyu ikut berdansa. Gedung yang digunakan terkesan sudah tua. Mungkin ini yang jadi sebab mengapa sedikit sekali pengunjung yang mendatangi objek wisata ini.

Sebetulnya masih banyak objek wisata yang terdapat di Songkhla. Namun, kegiatan mengajar di sekolah juga tak dapat ditinggalkan. Kami harus kembali ke sekolah masing-masing. Sambil memperjuangkan cita-cita menyebarluaskan Bahasa Indonesia di dunia Thailand, khususnya di Thailand Selatan.[]

*Foto dokumentasi pribadi Nais Ambarsari

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>