Membincangkan Raden Mandasia

820 510 Dzahban Djodhie

Minggu (15/5/2016), novel yang tengah ramai jadi bahan perbincangan di media sosial Raden Mandasia hadir bersama penulisnya Yusi Avianto Pareanom di Kineruku, Jalan Hegarmanah, Bandung. Pada kesempatan itu, Zen RS menjadi pembahas novel tersebut. Bincang buku dimulai sekira pukul 13.45 WIB di bawah langit yang cerah.

Raden Mandasia merupakan tulisan sampingan dari tulisan utama Anak-Anak Gerhana, novel tentang anak-anak yang tumbuh di era Orde Baru. Salah satu bab novel itu sudah terbit sebagai cerpen di Koran Tempo pada Desember 2011, sementara dua bab lainnya muncul di Rumah Kopi Singa Tertawa. Beberapa bab lainnya pernah dipublikasikan oleh penulis di akun Facebook miliknya.

Raden Mandasia adalah seorang pangeran. Ia salah satu anak kembar dari total 27 anak Prabu Watugunung, Raja Gilingwesi. Raden Mandasia memiliki kegemaran yang aneh, apalagi bagi seorang anak raja. Ia gemar mencuri daging sapi untuk dimasak.

Sungu Lembu berasal dari Banjaran Waru. Pada suatu waktu, negerinya ditaklukkan oleh pasukan Prabu Watugunung. Banyak anggota keluarganya menjadi korban. Karenanya, ia memiliki dendam kesumat pada Prabu Watugunung.

Sungu Lembu dan Mandasia bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Kala itu, masing-masing di antara mereka memiliki misi tersendiri. Mandasia ingin berdiplomasi dengan Kerajaan Gerbang Agung untuk mencegah perang. Sungu Lembu masih membawa dendamnya.

Maka, saat Mandasia mengajak Sungu Lembu pergi ke Kerajaan Gerbang Agung, ia menyanggupinya. Raden Mandasia, ia pikir, adalah jalan untuk mempertemukan dirinya dengan Prabu Watugunung. Mereka berdua lalu terseret dalam petualangan-petualangan seru nan ganjil: melawan perompak, berlari melintasi gurun bersama seorang juru masak dan anjingnya yang jelek, hingga menyusup ke istana Gerbang Agung.

“Raden Mandasia tanpa tendensi khotbah sama sekali, atau kecenderungan untuk memberi kritik sosial dan juga tidak membahas pada ‘cerita besar’ yang banyak diolah oleh penulis-penulis kita, semisal pergolakan tahun 1965, konflik antar-kelompok berkait agama, terorisme, atau lainnya,” penuturan Zen RS yang paling saya ingat dalam diskusi buku Raden Mandasia, dan saya mengamini.

Bahan utama dari novel ini adalah Babad Tanah Jawi, namun novel ini sendiri bukanlah sebuah babad. Jika ada satu istilah yang bisa disematkan pada novel ini, ia adalah novel Picaresque tentang petualangan tokohnya yang brengsek di masyarakat yang sama-sama brengseknya, seperti Don Quixote.

Dalam novelnya ini, ia memadukan sedikit-sedikit cerita dari penulis ke dalamnya. Hasilnya, sebuah bacaan yang apik. Misalnya, meramu cerita Putri Tabassum dari Kerajaan Gerbang Agung dengan kisah Seribu Satu Malam/Tutandot, serta teka-teki yang konon dibikin oleh Einstein yang sering beredar di internet. Penulis menyusupkan cara-cara mati yang kurang aduhai yang penulis ambil dari cara matinya Aeschylus dan Chrysippus yang terlalu absurd untuk benar-benar terjadi dalam novel.

Pembahas, penulis, dan moderator begitu interaktif menyajikan diskusi. Begitu pula suguhan camilan dan minuman yang makin membuat anteng peserta diskusi.

“Diskusi berjalan rapi, menarik dan juga pengantar diskusinya serta penulis bukunya interaktif, buku Raden Mandasia sendiri bikin nagih baca,” ujar Mutiara, salah seorang peserta diskusi.

Singkatnya, novel ini memiliki banyak segi untuk dipuji, mulai dari humornya, karakterisasinya yang utuh, deskripsinya yang hidup, sampai logika ceritanya yang terjalin rapi. Anda pun bisa membacanya berulangkali, menikmati kembali setiap episode petualangan Sungu Lembu dan Raden Mandasia yang disajikan.[]

Dzahban Djodhie

Dzahban Djodhie

Mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia.

All stories by:Dzahban Djodhie
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.