Membicarakan Rasisme dengan Tiga Mahasiswa dari Afrika

820 820 Nais Ambarsari

Sejak 2006, pemerintah Indonesia lewat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi rutin menawarkan Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (Developing Countries Partnership / KNB). Seperti namanya, sasaran beasiswa ini adalah para pelajar internasional dari negara-negara berkembang yang mau mengejar gelar Magister (juga Sarjana) di Indonesia. Saat ini, ada 53 program yang ditawarkan beasiswa ini, mulai dari Administrasi Publik hingga Teknik Informatika di 19 kampus terbaik di Indonesia.

Beasiswa KNB lahir dari kesadaran perlunya menyediakan beasiswa bagi pelajar dari negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB)—hal yang tercetus pasca Konferensi Kepala Negara GNB ke-10 tahun 1992. Setahun berikutnya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka program Magister untuk pelajar dari negara anggota GNB. Namun seiring perkembangan waktu, kata GNB tak relevan lagi sebab beasiswa yang sama juga diberikan kepada pelajar dari negara-negara berkembang non-anggota GNB. Sejak itulah muncul beasiswa KNB.

Penerima beasiswa KNB, tak sedikit merupakan mahasiswa pascasarjana dari Benua Afrika, akan mengikuti program KNB selama tiga tahun: satu tahun pertama dihabiskan untuk mempelajari bahasa Indonesia atau mengikuti program BIPA; dua tahun berikutnya barulah melanjutkan pendidikan magister.

Kali ini, saya berkesempatan mewawancarai tiga mahasiswa dari tiga negara berbeda, yakni Taiwo (Nigeria), Baltazar (Burundi), dan Lansana (Sierra Leone). Jika Taiwo sudah menyelesaikan perkuliahannya, Lansana masih mengikuti perkuliahan, Baltazar justru baru akan mengikuti perkuliahan.

Kami berbincang tentang pendidikan dan rasisme di Indonesia. Berikut petikannya.

Apakah kamu sudah mengetahui Indonesia sebelum mengikuti program KNB?

Taiwo: Sebelumnya, saya tidak tahu Indonesia. Saya bahkan tidak tahu letak Indonesia karena di negara saya, Nigeria, negara paling terkenal untuk melanjutkan kuliah di luar negeri adalah Inggris. Jadi, saya sama sekali tidak tahu ada negara bernama Indonesia. Dan setelah tahu Indonesia, saya merasa takut karena banyak orang putih dan saya hitam sendiri.

Baltazar: Ya, saya sudah tahu Indonesia sebelum saya mengikuti program KNB karena teman saya memberikan rekomendasi agar saya mengikuti program ini. Jadi, saya tahu Indonesia dari teman saya. Dia lebih dulu mengikuti program KNB di Indonesia.

Lansana: Saya tidak begitu tahu Indonesia, tapi setelah saya ikut seleksi program KNB saya mencari tahu banyak hal tentang Indonesia.

Menurutmu, bagaimana pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan pendidikan di negaramu?

Taiwo: Pendidikan di Indonesia bagus, tapi kadang-kadang saya bingung karena pakai bahasa Indonesia. Bagusnya karena ketika saya belajar di kelas, banyak kesempatan untuk berpraktik. Salah satu contohnya yaitu kadang-kadang saya diberi tugas membuat video tentang beberapa teknik konseling yang saya pelajari di kelas (saya belajar di Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia).

Di negara saya semuanya menggunakan bahasa Inggris, tapi menulis artikel dan mempublikasikan artikel di seminar bukan salah satu syarat kelulusan. Kami juga tidak melaksanakan dua tahapan sidang saat kelulusan, jadi hanya satu kali saja.

Baltazar: Pendidikan di Indonesia lebih bagus dibandingkan dengan negara saya karena di sini banyak fasilitas yang bagus untuk belajar, dosen-dosen yang bagus dalam mengajar, dan gedung-gedung perkuliahan di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) juga sangat bagus dibandingkan gedung perkuliahan di negara saya.

Tapi, saya belum tahu bagaimana proses perkuliahan karena saya baru akan memulai perkuliahan pada bulan September. Jadi, saya baru punya pengalaman selama belajar BIPA sepuluh bulan belakangan.

Lansana: Sistem pendidikan di Indonesia sudah maju dan bagus. Pendidikannya hampir sama dengan di negara saya, tapi ada perbedaan dalam materi penyajian presentasi dan fasilitas internet di UNPAR lebih bagus dibandingkan dengan negara saya.

Apakah Indonesia termasuk salah satu negara yang rasis?

Taiwo: Ketika datang ke Indonesia, beberapa teman saya takut karena melihat bagaimana orang Papua diperlakukan di sini seperti orang jahat.

Baltazar: Menurut saya tidak, karena saya belum pernah punya pengalaman rasis di negara ini. Namun, tetap saja saya merasa berbeda karena di sini banyak orang yang berkulit putih, lain dengan saya. Beberapa teman saya bilang, kulit saya seperti orang Papua tapi saya belum pernah bertemu dengan mereka sehingga saya belum merasa mirip dengan mereka.

Lansana: Ada beberapa orang yang bertindak rasis terutama terhadap orang berkulit hitam dari Afrika.

Apakah Anda pernah mengalami perlakuan rasis di Indonesia?

Taiwo: Ya, pernah. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya yang terjadi pada tahun 2017-2018. Kadang-kadang, ketika saya pergi beberapa orang menertawakan saya di belakang, dan saya bisa melihat mereka menertawakan saya. Mereka seperti mengejek saya tapi saya tidak tahu kenapa alasannya. Saya tidak peduli. Saya hanya pergi saja ke tempat yang ingin saya datangi and I tell myself I’m beautiful the way I am.

Saya selalu takut ketika pergi ke luar dan kadang-kadang saya menangis. Saya takut ketika pergi ke mall, tapi sekarang saya baik-baik saja. Tindakan rasis itu sangat buruk. Sekarang saya sudah merasa tidak terganggu lagi karena sudah menjadi hal yang biasa. Saya selalu pergi bersama dengan teman, tidak berani pergi sendiri. Dan ketika pergi bersama dengan teman, saya tidak peduli lagi dengan hal itu.

Kasus ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di beberapa negara. Teman saya bercerita jika dia sangat kesusahan menjalin hubungan dengan orang kulit putih.

Baltazar: Ketika saya ke bank atau ke mall, saya tidak pernah mendapatkan perlakuan rasis. Namun, ketika ada anak-anak kecil mereka selalu menertawakan saya, dan saya tidak peduli. Mungkin karena mereka masih kecil jadi mereka belum mengerti perbedaan saya dengan mereka.

Lansana: Awal semester 2019, perkuliahan saya diadakan di kampus Jalan Merdeka dan kosan saya di Ciumbuleuit. Saya merasa jarak sedikit jauh karena harus naik kendaraan umum. Lalu saya mencari kosan baru dan menemukan yang cocok. Waktu itu akhir bulan, saya memindahkan barang-barang saya dari kosan lama ke kosan baru.

Dua hari kemudian, pemilik kosan baru mengabari teman saya bahwa kosannya tidak jadi disewakan kepada saya dan saya harus mengambil kembali barang-barang. Saya menanyakan alasannya apa, pemiliknya bilang ia tidak menyewakan kamar untuk orang asing. Tapi saat teman saya tanya, apakah dia bisa sewa kosan, pemiliknya menjawab bisa. Padahal teman saya berasal dari Timor Leste.

Keesokan harinya si pemilik mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menyewakan kosannya buat orang kulit hitam yang berasal dari Afrika. Ketika kami akan mengambil barang, ada orang Indonesia yang mengeluarkan barang-barang kami ke luar kosan. Saya sangat kesal pada saat itu.

Apa tanggapanmu tentang orang-orang yang bertindak rasis?

Taiwo: Saya rasa (rasisme muncul) karena mereka belum mengerti bagaimana cara memperlakukan orang yang berbeda dengan dirinya. Saya pikir, jika ada kepekaan terhadap isu rasisme mereka akan berubah. Ketika ada orang yang berbuat rasis tapi tidak ada yang menegur, yang lain akan ikut menertawakan juga. Jadi, jika ada teman lain yang menegur pasti keadaannya akan berubah.

Lansana: Saat itu, saya bertanya kepada pemilik kos, bagaimana perasaannya jika anaknya di luar negeri diperlakukan seperti ini? Saya juga bilang karena bapak tak punya kesempatan pergi ke luar negeri akhirnya bapak bertindak rasis seperti ini. Itu adalah bagian paling sulit jika kita diperlakukan seperti itu di negara lain.

Orang-orang seperti itu tidak tahu arti sebenarnya dari kehidupan dan ciptaan sementara kita semua sederajat di sisi Allah, kita memiliki sel darah merah yang sama, juga sama-masa memiliki masa depan. Tapi, saya juga tidak bisa menyalahkan mereka. Cara mereka tumbuh dewasa dan apa yang telah diajarkan kepada mereka mungkin berbeda.

Terakhir, apa pesanmu untuk orang-orang yang masih berperilaku rasis?

Taiwo: Pahamilah bahwa kita semua berbeda warna kulit, bentuk rambut, bentuk tubuh, dan lain-lain. Akan tetapi, kita ini manusia. Jadi, pedulilah satu sama lain.

Lansana: Saya memberikan perhatian bahwa faktanya jika warna kulit kita berbeda dengan orang banyak, belum tentu pemikiran dia berbeda dengan kita. Bisa jadi beberapa dari mereka ada mempunyai pemikiran yang sama. Agar dunia menjadi tempat yang lebih baik, tindakan rasis harus dihentikan. Kita harus melihat diri kita sebagai satu orang, tidak peduli berasal dari benua atau negara mana.

Nais Ambarsari

Nais Ambarsari

Pengajar BIPA di Universitas Katolik Parahyangan dan Balai Bahasa UPI . Pernah mengajar di Thailand Selatan.

All stories by:Nais Ambarsari
Nais Ambarsari

Nais Ambarsari

Pengajar BIPA di Universitas Katolik Parahyangan dan Balai Bahasa UPI . Pernah mengajar di Thailand Selatan.

All stories by:Nais Ambarsari
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.