Membicarakan Indonesia di Polandia

1428 802 Ellis Artyana

Menjelang waktu makan siang, ruang 202 Instytut Językoznawstwa, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Adam Mickiewicz, Poznan, masih hangat oleh suasana diskusi. Monika Piosik, kandidat Ph.D. di Institute of Eastern Studies Universitas Adam Mickiewicz, masih menjawab dan menanggapi komentar para peserta konferensi yang menyimak presentasinya tentang The New Wave of Islamic Radicalism among Indonesian Youth. Piosik adalah satu dari beberapa penyaji makalah dalam The 4th International Conference on Indonesian Language, Literature, and Culture, Sabtu 29 Juni 2019. Konferensi ini mengetengahkan berbagai topik tentang fenomena aktual di Indonesia, meliputi soal radikalisme Islam dan kekerasan terhadap kaum LGBT sebagai minoritas. Ihwal kuasa juga hadir dalam topik tentang mitos hantu kuntilanak sebagai produk dari budaya patriarkat. Selain itu juga terdapat topik-topik lain yang menyoal budaya serta bahasa Indonesia.

Dalam presentasinya, secara spesifik Monika Piosik menyampaikan hasil penelitian tentang fenomena gelombang Islam konservatif di kalangan generasi muda di Indonesia saat ini. Ia memaparkan bahwa salah satu corong masuknya ideologi Islam radikal di Indonesia justru melalui dunia pendidikan. Media sosial, tak bisa disangkal, juga telah menjadi kanal bagi arus gelombang ideologi ini. Yang menarik, Piosik berpandangan bahwa salah satu faktor ketertarikan generasi muda terhadap ideologi Islam konservatif adalah kecenderungan bahwa ideologi ini dianggap lebih kosmopolitan. Semakin meluasnya Islam konservatif di negara-negara Islam membuat para generasi ini merasa menjadi bagian dari umat muslim di seluruh dunia yang oleh karenanya mereka merasa lebih modern.

“Konsep Islam Nusantara yang digaungkan oleh kalangan Islam moderat, salah satunya oleh NU, dianggap terlalu lokal dan kolot oleh generasi muda. Sementara, Islam konservatif yang cenderung radikal dianggap lebih modern, lebih internasional,” tutur Piosik yang melakukan wawancara terhadap para siswa di beberapa sekolah, khususnya sekolah berbasis Islam, di Indonesia. Memilih Islam konservatif membuat mereka merasa menjadi bagian dari “big family” para muslim di dunia. Pandangan itu seolah bisa menjawab pertanyaan mengapa sebagian muslim di Indonesia, tak terkecuali generasi mudanya, lebih peduli pada konflik yang terjadi di Suriah daripada yang terjadi di tanah air. Kecenderungan tersebut juga dipertebal dengan maraknya fenomena “hijrah” di kalangan masyarakat menengah perkotaan, termasuk di kalangan artis, yang selama ini menjadi tolok ukur masyarakat dalam melihat modernitas.

Setali dengan itu, persoalan radikalisme juga tak hanya terjadi dalam konteks agama, melainkan juga konteks sosial. Salah satunya, soal diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum minoritas LGBT yang dianggap sebagai bentuk penegakkan hukum moral dan agama. Inilah yang disorot oleh Ichsan Fadillah, M.A. Ia menyoal perlindungan terhadap kaum minoritas, khususnya homoseksual, yang mengalami diskriminasi bahkan kekerasan atas nama agama. Lebih luas lagi, ia juga menyoroti soal penerapan hukuman rajam bagi kaum gay yang diterapkan oleh Brunei Darusallam. Pertanyaan penting yang dilontarkan Fadillah adalah mengapa ASEAN sebagai organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara tidak bereaksi terhadap fenomena tersebut? Fadillah berpandangan bahwa negara-negara di ASEAN sepatutnya perlu mengingatkan Brunei Darusallam tentang aturan hukum yang diskriminatif tersebut. Justru, reaksi dan desakan untuk membatalkan aturan itu berasal dari negara-negara di luar kawasan Asia Tenggara, salah satunya dari sejumlah negara di Uni Eropa. Meskipun tidak menyatakan dukungan atas hukum tersebut, setidaknya ketiadaan reaksi membuktikan bahwa persoalan diskriminasi terhadap kaum LGBT bukanlah hal yang penting untuk diperhatikan oleh ASEAN.

Sedikit bergeser, di topik lain, Marina Frolova, Ph.D, dosen kajian Indonesia di Lomonosov Moscow State University, Moscow, berbicara tentang kuntilanak. Dalam presentasinya, Frolova menyebut kuntilanak sebagai figur “dead mortal” yang populer di kalangan masyarakat Austronesian. Oleh para feminis, kuntilanak justru dianggap sebagai produk budaya patriarkat. Sebagaimana umumnya, figur hantu yang populer di masyarakat tradisional Indonesia kebanyakan adalah perempuan. Selain kuntilanak, hantu perempuan lain yang juga populer di Indonesia adalah wewe gombel dan sundal bolong.

Pada perkembangannya, kisah kengerian kuntilanak tidak hanya milik masyarakat rural, melainkan bermigrasi ke tengah masyarakat urban. Kuntilanak yang awalnya hanya berupa figur dalam mitos masyarakat tradisional, dialihwahanakan ke dalam bentuk film yang mulai marak diproduksi pada masa Orde Baru. Kita tahu, pada masa tersebut, pemerintah Orde Baru melakukan represinya melalui berbagai bidang, termasuk dunia hiburan. Karenanya, menghadirkan sosok kuntilanak ke dalam industri tontonan sangat mungkin diniatkan untuk semakin menempatkan perempuan sebagai kaum yang perlu diawasi, dibatasi dengan berbagai norma. Perempuan yang tak patuh tak ubahnya seperti kuntilanak yang mengerikan dan mengancam sehingga patut untuk dilumpuhkan. Begitu kira-kira.

Menarik menyimak pandangan ketiga penyaji tadi dalam menengok fenomena wajah masyarakat Indonesia saat ini ihwal radikalisme, diskriminasi, dan kuasa. Ketiganya memiliki benang merah yang tak bisa disendiri-sendirikan. Ketidakmampuan (atau ketidakmauan) kaum radikalis melihat perbedaan atau hal di luar dirinya, apalagi jika ia adalah bagian dari masyarakat mayoritas, akan melahirkan mental kuasa yang dengan mudah mendiskriminasi pihak yang berbeda. Dalam konteks situasi di Indonesia, ketidakmampuan melihat perbedaan itu kini semakin terlihat. Hal ini sangat ironis mengingat Indonesia adalah lumbung keberagaman, tidak hanya dari soal agama, tapi juga pada aspek-aspek lain terutama tradisi dan budaya.

Salah satu produk budaya Indonesia yang beragam itu juga disajikan dalam konferensi ini, yaitu  tentang kain tradisional. Prof. Katarzyna Schmidt-Przewoźna, dari University of Social Sciences and Humanities, School of Form, Poznan, bicara tentang Symbol of Color in Indonesian Creative Design. Ia mengambil contoh warna pada kain gringsing di Bali yang memiliki tiga warna, yaitu kuning, merah, dan hitam sebagai simbol dari kelahiran, kehidupan, dan kematian. Warna motif kain gringsing yang berasal dari warna tetumbuhan dianggap lebih ramah lingkungan, berkebalikan dengan pewarna sintetis yang secara masif digunakan oleh industri tekstil saat ini. Dari segi dimensi sosial, kain yang digunakan sebagai penolak bala ini juga memiliki peran penting. Misalnya, sejak proses pewarnaan benang hingga penenunannya yang dilakukan secara kolektif oleh kaum perempuan. Selain itu, proses pewarnaan yang diiringi ritual serta dilengkapi sesaji ini juga menjadikan kain gringsing memiliki makna dan nilai spiritualitas yang tinggi. Hal itulah yang menjadi ketertarikan Schmidt-Przewoźna sehingga selama bertahun-tahun meneliti motif dan warna pada kain-kain tradisional di Indonesia.

Bahasa Indonesia dan Pengajarannya
Persoalan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) juga turut dibahas dalam konferensi ini. Andi Nurhaina, dosen bahasa Indonesia di HTWG (Hochschule Technik, Wirtschaft, und Gestaltung) Konstanz, Jerman, dan Ellis Reni Artyana, pengajar bahasa Indonesia yang ditugaskan oleh PPSDK di kampus yang sama, membahas pentingnya penyusunan buku BIPA bagi penutur bahasa Jerman. Hal itu karena Jerman adalah negara yang memiliki lembaga penyelenggara BIPA terbanyak di Eropa, baik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Selain itu, bahasa Jerman juga digunakan di Swiss dan Austria, sehingga pemelajar BIPA di kedua negara tersebut juga dapat menggunakan buku BIPA yang sama. Sejauh ini, buku BIPA yang khusus bagi penutur Jerman memang sudah tersedia, baik yang ditulis oleh orang Indonesia maupun orang Jerman. Namun, buku tersebut rata-rata sudah cukup tua sehingga banyak bagiannya yang sudah tidak aktual serta tidak relevan lagi dengan situasi pada masa sekarang.

Ihwal kebahasaan, Teija Gumilar, Ph.D., membahas tentang perbandingan istilah bidang militer dalam bahasa Indonesia, Polandia, dan Inggris. Sementara itu, Daria Zozula, Ph.D., membahas strategi penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Polandia. Di sesi yang sama juga ada pembahasan tentang berbandingan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia yang disampaikan oleh Dorotea Moni-Stelmachowska, M.A. Ketiga pemakalah tersebut merupakan dosen pengampu mata kuliah bahasa Indonesia di Program Studi Bahasa Indonesia dan Melayu, Universitas Adam Mickiewicz.

Masih soal bahasa, ada pula presentasi dengan judul Basic Principals of Indonesian Economic Language within Intentional Standards yang disampaikan oleh Oleksandra Burovska dari Taras Shevchenko National University of Kyiv, Ukraina. Pemaparan lain yang tak kalah menarik adalah tentang tingkat pengetahuan remaja tentang wilayah di Indonesia dan batas-batasnya yang dibahas oleh Ketut PRASETYO, Ph.D. dari Universitas Negeri Surabaya. Kajian sosiologi tentang kehidupan masyarakat suku Jawa di daerah transmigrasi di Maluku juga tak luput disorot oleh Simona Sienkiewicz, kandidat Ph.D dari Institute of the Middle and Far East, Jagiellonian University. Baginya, menarik mengetahui keberadaan para transmigran Jawa dan mengamati bagaimana mereka tak hanya bertahan hidup, tapi juga mampu mempertahankan warna kejawaannya meski tetap membaur dengan penduduk asli setempat.

Pusat Studi Indonesia di Polandia
The 4th International Conference on Indonesian Language, Literature, and Culture ini merupakan konferensi tahunan yang rutin dihelat oleh The Faculty of Modern Languages and Literatures Universitas Adam Mickiewicz. Konferensi yang keempat kalinya ini bertempat di Laboratory of Southeast Asia Studies, Faculty of Modern Languages and Literatures, Adam Mickiewicz University, Al. Niepodległości 4, Poznan. Konferensi ini diisi oleh dua belas penyaji makalah dari berbagai universitas di Eropa dan Indonesia.

Teija Gumilar, Ph.D., selaku panitia penyelenggara, menyatakan bahwa sejak penyelenggaraannya yang pertama, konferensi ini dihadirkan demi lebih memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia dari segi keilmuannya di Polandia, khususnya di Universitas Adam Mickiewicz. Tak hanya soal bahasa dan budaya, kajian bidang lain  seperti geografi, ekonomi, politik, hingga seni di Indonesia juga tidak dialpakan di konferensi ini. Oleh sebab itu, para penyaji makalah berasal dari berbagai disiplin ilmu. “Agar pusat studi Indonesia di Polandia berkembang, kita tidak bisa hanya mengkaji bahasa saja,” ujar Gumilar.

Di Universitas Adam Mickiewicz itu sendiri, Program Studi Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu, merupakan program studi pertama dan masih satu-satunya untuk bahasa Indonesia di Polandia yang dibuka sejak tahun 2008 lalu, di bawah Fakultas Bahasa dan Sastra. Di fakultas ini juga telah dibuka Pusat Studi Indonesia yang didirikan untuk mendalami kajian tentang Indonesia. Informasi atau hasil penelitian yang disajikan dalam konferensi ini tidak hanya bermanfaat bagi berkembangnya pusat studi tersebut, melainkan juga diharapkan dapat semakin memperkaya kajian keindonesiaan di Polandia. []

Ellis Artyana

Ellis Artyana

Pengajar bahasa Indonesia bagi Penutur Asing & mengelola Selasar Bahasa.

All stories by:Ellis Artyana
Leave a Reply

Ellis Artyana

Ellis Artyana

Pengajar bahasa Indonesia bagi Penutur Asing & mengelola Selasar Bahasa.

All stories by:Ellis Artyana
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.