Membangun Puisi dari Alam

820 510 Willy Fahmy Agiska

Dalam kecenderungan penciptaan puisi, alam kerap menjadi objek kreatif yang terus digali sekaligus dimanfaatkan oleh sekian banyak penyair. Entah dalam bentuk kosakata, citraan, metafora, simbol, maupun sebagai latar ruang peristiwa yang mengandung berbagai pengalaman puitik. Ada kesan bahwa alam adalah salah satu bagian terdekat yang mudah dijumpai oleh pengalaman seorang penyair. Untuk menandai kecenderungan pemanfaatan alam dalam perkembangan puisi Indonesia modern, sebagai contoh sebut saja penyair sekaliber Sapardi Djoko Damono melalui sajak-sajaknya dalam buku Hujan Bulan Juni (1994), atau penyair Acep Zamzam Noor dalam buku Jalan Menuju Rumahmu (2004), dan bahkan sampai generasi penyair terkini yang termuat dalam buku-buku puisi atau dalam berbagai media massa cetak maupun online. Ini berarti bahwa alam masih menjadi bagian yang cukup integral sekaligus primordial dalam tatanan hidup manusia.

Alam masih menjadi media ekspresi yang puitik dan terus berulang dikonstruksi oleh penyair untuk mengartikulasikan kegelisahan batin dan pikirannya. Dalam konteks realitas hari ini, di tengah gempuran perkembangan teknologi industri abad ke-21  yang cenderung mekanistik, penuh ketegangan, dan konflik, barangkali alam masih menjadi ruang yang cukup jernih dan kontemplatif bagi sebagian penyair untuk mengatasi situasi-situasi semacam itu. Pada tahap selanjutnya, penyair mengolah alam sedemikian rupa sebagai upaya untuk memproduksi makna lain dari realitas yang ia alami.

Pemanfaatan alam dalam khazanah puisi Indonesia, setidak-tidaknya masih bisa kita temui dan baca kembali pada sajak-sajak yang termuat di harian Pikiran Rakyat (edisi Minggu, 14/01/2018), karya Darwin yang berjudul “Kutepuk Segala Arus” dan karya Jalaludin yang berjudul “Temaram” dan “Renjana”.

Saat kita membaca sajak karya Darwin dari awal sampai akhir, maka kita akan banyak menemukan kosakata yang diambil dari alam sekitar seperti: tebing, lumut, daun, akar broto wali, bebatang kayu, angin, ombak, ranting, sabut, burung, tanah, bunga, dan lain-lain. Sebagai contoh, di bawah ini sebagian bait sajak “Kutepuk Segala Arus” dari total 10 bait:

Kutepuk Segala Arus

kutepuk segala arus biar
sihir matamu menembus curam-curam
tebing dan lumut yang membatu

sambil berharap kepak
sayap rindu ini tak sesempit daun
kopi serta kasih yang tak hendak
sepahit akar broto wali

meski begitu: hanya sabda-sabda suci yang
bisa menerjemahkan deras arus,
serpih buih, atau ranting nan patah
tersebab keluh dan kesah hanya
memiangkan hati

pada akhirnya kumasuki
angin hampa saat cericit
burung membunyikan sekebat cinta
walau bebatang kayu dan
sihir angin pada ombak
adalah rintang bagi kelok jalan menujumu

dan daun-daun pengelak panas telah lekang
habis dikulum para perimba
ceruk tanah tak lagi
menyisakan akar apalagi
batang yang tersergam

Secara sederhana, sajak ini ingin merepresentasikan kegelisahan aku lirik yang kompleks terhadap berbagai hal melalui gambaran-gambaran alam yang getir. Hal tersebut berkelindan dengan kenangan, semisal pada nilai-nilai lampau yang sakral, kerinduan yang penuh harapan, serta pencarian terhadap sosok “-mu”. Kegelisahan tersebut kemudian digambarkan secara simbolik oleh aku lirik dengan kutepuk segala arus. Frasa kutepuk segala arus merupakan pintu masuk dari sajak ini. Meskipun begitu, dari segi bentuk ada beberapa hal yang cukup mengganggu pembaca, semisal pemilihan kata dan pembangunan imaji, serta penggunaan enjambemen.

Misalnya, pemilihan kata dan pembangunan imaji pada bait pertama: kutepuk segala arus biar/sihir matamu menembus curam-curam tebing dan lumut yang membatu. Jika dibaca secara saksama, bait ini terasa ambigu dan ganjil, terutama perihal asosiasi makna antara larik pertama dengan dua larik selanjutnya. Misal, apa hubungannnya antara aku lirik yang menepuk segala arus dengan agar sihir matamu menembus curam-curam/tebing dan lumut yang membatu? Penggunaan frasa segala arus di sana terlihat ambigu maknanya, terlalu implisit, dan kurang jelas konteksnya: arus apa? arus yang mana? Pembacaan yang paling memungkinkan, arus yang dimaksud adalah arus sungai jika kita memahaminya dari segi kesatuan ruang yang diwakili oleh larik curam-curam/tebing dan lumut yang membatu.

Lalu selanjutnya yang semakin ganjil lagi adalah penggunaan frasa kutepuk segala arus (sungai) yang diasosiasikan dalam bentuk hubungan kausal dengan frasa sihir matamu. Bukankah tebing adalah dataran terjal yang berada di tepi sungai, yang tanpa menepuk arus (sungai) pun bisa terlihat oleh mata? Dengan begitu bisa kita anggap bahwa sesungguhnya frasa sihir matamu kuranglah tepat dihadirkan di situ. Dan apabila frasa tersebut tetap dipertahankan, maka bisa mengacaukan koherensi makna yang ingin dibangun dalam bait ini. Hal tersebut membuat pembentukan imajinya menjadi kurang koheren. Padahal fungsi dari imaji sendiri adalah untuk memberikan gambaran sejelas-jelasnya, agar pembaca bisa turut mengikuti dan memahami gambaran gagasan dari si penyair.

Kerancuan logika seperti itu juga muncul di bait kedelapan: meski begitu terus saja/kutepuk segala arus yang mengamuk/sambil kuhirup harum bunga/kayu rimba demi/gapai pada tebing di hulu jauh. Apakah sebenarnya lebih tepat harum bunga kayu rimba atau kayu rimba saja yang memungkinkan aku lirik bisa menggapai hulu jauh itu? Tentu saja jika penyairnya tidak ingin berisiko tergelincir pada kerancuan kalimat, maka sepertinya yang kedua itulah yang mestinya dipilih karena lebih bisa dibayangkan.

Selain ketidakpaduan pemilihan kata dan pembangunan imaji, terdapat pula penggunaan enjambemen yang cukup mengganggu. Terutama pada pemenggalan kata yang berupa frasa atau kata yang berkait satu sama lain, semisal

sambil berharap kepak
sayap rindu ini tak sesempit daun

tersebab keluh dan kesah hanya
memiangkan hati itulah

manat para tetua dan penjaga

pada akhirnya kumasuki
angin hampa saat cericit
burung membunyikan sekebat cinta

sambil kuhirup harum bunga
kayu rimba demi
gapai pada tebing di hulu jauh
….
Penggunaan enjambemen tersebut dirasa kurang tepat karena membuat pembacaan menjadi terpatah-patah. Hal ini memengaruhi pemahaman konteks makna dari jalinan lariknya. Terlebih lagi, kata-kata yang dipenggal dari pasangan katanya lalu diturunkan ke larik baru di bawahnya, bisa menimbulkan ambiguitas makna yang kurang menguntungkan bagi keutuhan sajak. Sementara kata-kata yang terpisah di ujung larik malah tidak mendapatkan penekanan makna baru sama sekali.

Padahal, bukankah salah satu tujuan enjambemen adalah untuk memberi tekanan pada sebuah kata sehingga bisa memberikan makna baru? Meskipun begitu, kebijakan estetik yang dipilih oleh Darwin ini mungkin memiliki maksud lain, mungkin demi pemerataan panjang-pendeknya larik dalam keseluruhan bait, sehingga secara visual terlihat ramping-merata.

Begitulah kiranya hal-hal teknis dari sajak “Kutepuk Segala Arus” yang cukup mengganggu pembaca dalam memahaminya secara meyeluruh, yang kemudian harus dipertimbangkan ulang secara bijak oleh penulisnya sendiri.

Terlepas dari kekurangan dalam hal-hal teknis tersebut, Darwin melalui sajaknya itu menyikapi dan memandang alam sebagai objek puitik. Di satu sisi tidak hanya bisa dimaksimalkan pesona keindahannya saja (seperti halnya yang terdapat dalam sajak-sajak pastoral), tetapi juga bisa diserap tenaga kegetirannya untuk lebih mengekspresikan kegelisahan penyair yang kompleks, meskipun itu dibangun dari ruang lingkup pengalaman penyair yang personal.

Lain halnya dengan sajak karya Jalaludin yang berjudul “Temaram” dan “Renjana”. Sajak ini cenderung mencoba memandang serta memahami alam sebagai suatu bagian kosmos manusia, yang mengandung keberlimpahan cinta dan nilai-nilai religius, serta menjadi ruang eksistensial bagi pencarian manusia akan berbagai nilai. Sajak berjudul “Temaram” sangat mewakili hal tersebut:

Temaram
Dan pada senja yang temaram,
aku berlindung dibalik bayang-bayang hujan.
Rintiknya serupa terali jendela kamarku yang buram.
Tak bisa kuterawang orang yang lalu lalang di seberang sana.
Mataku tertuju pada lelaki tua yang setia menunggu hujan,
entah sejak kapan ia berdiri termangu memagut sepi.
Mungkin sudah banyak butiran hujan yang ia rangkai menjadi butiran-butiran
tasbih.
Betapa besar cintanya,
hingga ia rela ditelan gerimis
dan larut bersamanya ke selokan.

Viaduct, 21 November 2017

Meskipun aku lirik pada empat larik awal cenderung menarik diri dari peristiwa alam saat hujan dengan berlindung pada senja yang temaram, hal itu tetap membuat aku lirik memiliki empati pada peristiwa di sekitar dirinya. Pada larik-larik selanjutnya, justru aku lirik secara implisit memperlihatkan empatinya pada sosok lelaki tua yang justru terlihat begitu setia menunggu hujan, begitu memiliki rasa cinta yang besar kepada hujan, yang menurut terkaan aku lirik seperti menganggap butiran hujan sebagai rangkaian butiran-butiran tasbih.

Di sinilah aku lirik terlihat mencoba menawarkan intensitas penghayatannya pada peristiwa alam, sebagai sesuatu yang memiliki secercah nilai religius melalui sosok lelaki tua itu. Dan lagi, yang cukup mengejutkan dari sajak ini adalah tiga larik terakhirnya: Betapa besar cintanya,/hingga ia rela ditelan gerimis/dan larut bersamanya ke selokan. Meskipun secara sekilas larik-larik tersebut dibangun oleh pemilihan kata-kata yang biasa dan lumrah kita jumpai, tetapi sebenarnya di sana ada kedalaman makna yang diwakili oleh frasa metaforis ditelan gerimis dan larut bersamanya ke selokan. Kata larut menjadi ganda maknanya, bisa diartikan secara denotatif (bahwa lelaki tua itu terseret ke dalam arus selokan) maupun diartikan secara konotatif (bahwa lelaki itu sedang menyerahkan diri pada arus cintanya). Selain itu larik ini juga memiliki efek satir yang ditegaskan oleh kata selokan. Dan seandainya tiga larik akhir ini tidak ada, barangkali sajak ini akan jadi biasa-biasa saja.

Sama halnya dengan satu sajak pendek Jalaludin yang berjumlah dua larik berjudul “Renjana”. Kita masih menjumpai tema yang sama yakni tentang cinta. Cinta dalam sajak tersebut dimanifestasikan melalui pengibaratan aku lirik sebagai hujan demi belajar mencintai senja yang basah.

Renjana
Aku ingin menjadi hujan
dan belajar mencintai senja yang basah.

Viaduct, 26 Oktober 2016

Barangkali, pemilihan kata renjana (atau suatu perasaan kuat) yang dipakai sebagai judul menjadi puitik karena renjana yang abstrak itu coba dikonkretkan melalui imaji yang mudah tergambar bagi pembaca, sehingga kata hujan dan senja mendapatkan dimensi maknanya yang lain, tidak artifisial. Meskipun begitu, gambaran-gambaran (imaji) yang coba dihadirkan dalam sajak ini dirasa masih terlalu biasa dan aus penggunaannya, misal, senja yang basah. Padahal sebetulnya penyair masih bisa menggali gambaran-gambaran lain dari senja, yang lebih bisa memperkuat makna renjana atau perasaan yang kuat itu, selain halnya kata basah itu.

Dari sajak-sajak kedua penyair di atas, kita bisa melihat cara pendekatan, penghayatan, dan pengolahan yang berbeda terhadap alam. Darwin lebih mencoba merepresentasikan alam yang penuh gejolak dan kegetiran, sedangkan Jalaludin lebih memilih merepresentasikan alam yang penuh cinta dan kelembutan. Alam memanglah masih menjadi hal yang menarik untuk terus diolah oleh para penyair. Setidaknya, diakui atau tidak, kita tidak bisa tidak untuk bergantung pada alam. Setidak-tidaknya juga alam masih menjadi ruang yang cukup reflektif di tengah kesibukan sehari-hari kita yang mekanistik dan penuh ketegangan.

Tapi, untuk penyairnya sendiri, ada satu hal yang mungkin harus direnungkan kembali. Salah satunya adalah ketika berada dalam konteks historis khazanah perpuisian Indonesia modern, dimana telah begitu banyak penyair yang membangun sajaknya melalui alam. Adakah visi segar dan otentik dari seorang penyair untuk sekadar menjadi penanda penting bagi pencapaian estetik perpuisian seorang penyair, untuk kemudian membedakannya dengan penyair lainnya? Itu memang pertanyaan yang cukup berlebihan. Tapi setidaknya, pertanyaan tersebut bisa menjadi pertimbangan seorang penyair ketika menciptakan karya selanjutnya.[]

Willy Fahmy Agiska

Willy Fahmy Agiska

Willy Fahmy Agiska, kepala Toco (toco.buruan.co). Aktif menulis puisi. Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Masih single.

All stories by:Willy Fahmy Agiska

Leave a Reply

Willy Fahmy Agiska

Willy Fahmy Agiska

Willy Fahmy Agiska, kepala Toco (toco.buruan.co). Aktif menulis puisi. Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Masih single.

All stories by:Willy Fahmy Agiska