Membaca Arsip Gelap Afrizal Malna

820 510 Yopi Setia Umbara

Puisi tercipta dari amatan, penghayatan, dan percakapan yang tak pernah selesai. Apakah itu percakapan dengan diri sendiri, semesta, atau bahkan benda-benda mati. Puisi diciptakan bukan sekadar untuk menyiratkan apa yang ditangkap secara indrawi, akan tetapi dapat pula mengungkapkan pelbagai pertanyaan yang mendekam di balik dada.

Pada satu akhir pekan (Sabtu, 13 Januari 2018) terbit enam sajak karya Afrizal Malna di harian Kompas, yaitu “seseorang yang mengapung di atas tubuhku”, “arsip kegelapan”,  “sebuah pintu di depan pintu”, “(hamlet)”, “di jendela pesawat”, dan “sudah malam, kau tidak lelah?”.1

Membaca sajak Afrizal adalah seperti membaca arsip gelap. Karya-karya Afrizal yang dikenal gelap membuat kita tidak dapat segera memahami maksudnya jika hanya sekali dibaca. Perlu berkali-kali membaca agar mampu menangkap impresi yang tersirat dalam sajak-sajaknya. Kolase2 karyanya tak jarang membuat pembaca mesti menyusun ulang setiap kata yang dituliskan dalam sajaknya agar dapat menemukan alur kisah (jika kita mencari kisah dalam sajaknya). Ditambah dengan defamiliarisasi dan distansi tekstual3 yang sering ia terapkan dalam sajaknya, membuat kerja membaca terkesan sukar.

Eksistensi Manusia
Menarik saat saya membaca pembuka sajak “seseorang yang mengapung di atas tubuhku” dengan larik-larik yang cukup imajis seperti ini dia membuat sore dari sebuah rancangan busana/jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup/guntingan pada bahu. kulit tropis di musim semi. Saya pikir, kita dapat mewujudkan imaji yang dituturkan akulirik pada larik-larik tersebut, yaitu wujud sesosok manusia yang mengenakan singlet/tanktop, lantaran kita dapat melihat (membayangkan) bagian bahu yang merupakan bagian anatomi tubuh manusia dari sosok tersebut.

Secara utuh di bait pertama imaji saya diberi sketsa akulirik yang memerhatikan seseorang mengenakan singlet/tanktop di sebuah sore, dan ia cukup tergoda oleh kulit tropis dari sosok tubuh yang dilihatnya itu, seperti tertulis begini dalam sajaknya kulit tropis di musim semi/buatlah aku dari air liur burung gereja/yang memberi minum anaknya, dan sebuah kamus/yang tak punya ancaman.

Saat saya coba cermati larik demi larik, bait demi bait, sajak “seseorang yang mengapung di atas tubuhku”, akulirik menerima kehadiran sosok yang dituturkan pada bait pertama sebagai makna dunia. Mari kita lihat kesadaran akulirik akan dunia yang terdapat pada bait-bait dalam sajak ini, di antaranya: jangan bercerita, ketika kupu-kupu terbang dalam suaramu; bulan yang tergenang dalam cahayanya; atau, sebuah kafe, belum tutup untuk seorang tamu/yang masih menyanyikan cinta. Kupu-kupu, bulan, dan kafe, merupakan citraan dunia yang disadari dan diintrepretasi oleh Afrizal sebagai fenomena.

Di bait ketiga, untuk menguatkan suasana dalam sajaknya, Afrizal dengan enaknya memasukkan sebuah tautan video dari Youtube, lagu dari Elvis Presley berjudul “Fever”, seperti ia tulis …sebuah lagu elvis presley, fever, https://youtu.be/dNsU5edolvk/seperti suara bibir dalam anggur merah. Sebuah upaya yang cukup interaktif saya kira, membuat pembaca jaman now yang begitu reaktif dengan kode-kode digital akan segera melakukan copy-paste-search tautan tersebut di aplikasi Youtube di gawainya. Tautan itu juga dapat berfungsi sebagai pengingat atau semacam alusi.

Di bait terakhir atau di bait keempat, citraan sosok yang dituturkan dari awal sampai bait ketiga seakan-akan dilenyapkan, ketika akulirik mengatakan buatlah aku dari sebuah sudut malam/seolah-olah aku sedang menunggumu/di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian/hingga aku tak tahu: sedang memeluk mayatku sendiri. Melalui akuliriknya, Afrizal seperti sedang menceritakan biografi lain dari dirinya sendiri. Di sinilah, saya merasakan sebuah renungan eksistensialisme yang secara simbolik dihadapi akulirik, dimana akulirik (manusia) bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, setelah mencermati serta bercakap-cakap dengan semesta dan dirinya sendiri.

Tak hanya pada sajak di atas, pada sajak “arsip kegelapan” saya juga menangkap kegelisahan eksistensi manusia. Percakapan akan kenangan, kepercayaan, kepastiaan, dll. tumpah dalam sajak ini. Pencarian-pencarian yang tak kunjung “menemukan” dituturkan dengan demikian gawat dia meninggalkan kakinya di luar untuk berjalan ke dalam:/ginjal, empedu, jantung, sebuah ruang tamu dan seseorang/yang tak pernah ada. dia meninggalkan kepalanya di dalam/untuk berjalan ke luar: lemari, bantal dengan sisa rambut,/sabun mandi dan bau sperma dari tubuh yang tak pernah ada./bagaimanakah ruang bekerja antara batas dan objek-objek, dan/sebuah badai yang mencari di mana arsip sinar matahari/tersimpan.

Begitu pula pada bait berikutnya. masuk dan keluar lagi, pintunya tertinggal di tempat tukang/servis radio, gelombangnya mencari lagu-lagu kenangan. aku-lirik yang pingsan dalam sebuah buku kritik sastra tentang/seseorang yang tak pernah ada. kilometer-kilometer telah/berlalu, bangkai waktu dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas. Banyak hal terlupa, bahkan terkesan dilupakan begitu saja. Impresi akan kenangan juga ingatan terasa begitu kuat dalam sajak ini. Akulirik seolah sedang menuntut hak bagi kenangan atau peristiwa-peristiwa yang telah berlalu, yang begitu mudah dilupakan oleh siapa dan sistem apa saja.

Lantas di bait ketiga akulirik menggugat “beri aku bahasa/beri aku bahasa/untuk bernafas.” Bahwa kita terlalu “cerewet tentang kata-kata yang tak pernah ada”. Bait ini seakan menjadi ilustrasi hubungan sosial yang tegang di negeri ini, bahkan secara lebih luas di planet bumi ini, yang selalu begitu mudah meributkan hal-hal yang tak pernah ada. Hingga di bait keempat, akulirik memutuskan dia berjalan ke dalam melalui jalan ke luar:/ladang kuburan arsip dalam kegelapan. Dia masuk melalui jalan ke luar: adalah sebuah logika paradoks yang ditutup dengan ladang kuburan arsip kegelapan.

Arsip adalah dokumen tertulis atau gambar dari waktu yang lampau dan disimpan dalam beragam media. Sedangkan kegelapan merupakan situasi tak ada cahaya, tak ada terang, atau mengalami/tertimpa gelap. Kurang lebih begitulah kata ‘arsip’ dan ‘kegelapan’ secara harfiah jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia V4. Apakah “arsip kegelapan” memiliki makna dokumen yang tertimpa gelap, tanpa cahaya, atau dokumen yang tak terang? Atau, malah jika kita baca larik terakhir dari sajak ini secara lengkap, ladang kuburan arsip kegelapan bermakna sebuah situasi dimana segalanya telah benar-benar gelap terkubur tanpa harapan?

Tak dapat saya jawab dengan pasti. Ulasan untuk sebuah atau beberapa buah sajak bukanlah untuk menemukan sebuah jawaban, melainkan membuat pintu masuk ke dalam misteri puisi. Terlebih membaca sajak Afrizal yang dikenal gelap, kita bukan cuma perlu jalan masuk, tapi sekaligus membuat pintu agar dapat memasukinya. Meski dengan pintu yang kita buat, kita akan memasuki ruang anomali, dimana benda, tokoh, peristiwa ditempel sebagaimana karya instalasi dalam seni rupa5.

Meski demikian, dari dua sajak Afrizal, saya setidaknya dapat menghayati renungan eksistensialisme Afrizal. Akulirik dalam kedua sajak tersebut menghadapi persoalan-persoalan diri dan semesta di mana dia hidup. Ada penolakan akan segala yang terjadi, tapi sebagai manusia tak sanggup mengabaikan situasi yang terjadi di sekelilingnya. Persis seperti pernah dikatakan sartre, “the existential conception of the human is that we are a complex interplay of freedom and fact (konsepsi eksistensial manusia adalah bahwa kita merupakan interaksi kompleks antara kebebasan dan fakta)”.6 Jika diejawantahkan, manusia sebagai entitas paradoks senantiasa berada dalam situasi yang berlawanan.[]

  1. Dapat dilihat di rubrik Puisi Kompas, 16 Januari 2018
  2. Indriyana, Hasta. Seni Menulis Puisi. 2015. Yogyakarta: Penerbit Gambang. Halaman 110
  3. Setiadi, Tia. Petualangan yang Mustahil. 2015. Yogyakarta: Interlude. Halaman 60
  4. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (Luring). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  5. Indriyana, Hasta. Seni Menulis Puisi. 2015. Yogyakarta: Penerbit Gambang. Halaman 110
  6. Heter, T. Storm. Sastre’s Ethic of Engagement. 2006. New York: Bloomsbury. Halaman 3.
Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara

Leave a Reply

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
error: