Melirik Louise Glück

820 820 Rafqi Sadikin

Mungkin sebuah kejutan dari Akademi Swedia dengan menganugerahkan Nobel Sastra 2020 kepada Louise Glück. Bagi pembaca di Indonesia khususnya, nama Glück tak begitu populer. Bahkan, nyaris tak pernah dibicarakan kiprahnya.

Louise Glück lahir di New York tahun 1943, namun dibesarkan di Long Island. Ketika remaja, Glück pernah mengidap anorexia. Glück kuliah di Columbia University.

Glück dikenal sebagai salah satu penyair kontemporer Amerika Serikat terbaik. Puisi-puisinya dianggap memiliki teknik yang presisi, sensitivitas, perhatiannya kepada wacana kesepian, hubungan keluarga, perceraian, dan kematian.

Penyair Robert Hass menyebut Glück sebagai, “salah satu penyair liris yang penuh pencapaian dan paling murni  yang masih hidup” (Poetry Foundation).  Pada tahun 2020 ini, Glück mendapat catatan, bahwa puisinya yang murni menyuarakan keindahan mampu menempatkan universalitas individu.

Glück merupakan penyair perempuan pertama era 2000-an yang memenangkan penghargaan bergengsi itu. Wislawa Szymborska, penyair berkebangsaan Polandia, merupakan penyair perempuan terakhir yang meraihnya pada 1996. Ketua Komite Nobel, Anders Olsson, memuji karya Glück sebagai puisi yang suaranya, “Jujur dan tanpa kompromi, yang humornya cerdas dan menggigit.”

Glück sudah menulis duabelas buku. Buku perdananya adalah Firstborn (1968). Pada karya-karya awalnya, Glück menyoroti perselingkuhan yang gagal, keluarga yang toxic, dan masalah-masalah kehilangan jati diri. Sedangkan pada karya-karya terbarunya, Glück lebih menyoroti penderitaan-penderitaan yang mendalam.

Selain karya Firstborn tadi, Karya-karyanya meliputi buku-buku puisi The House on Marshland (1975), The Garden (1976), Descending Figure (1980), The Triumph of Achilles (1985), Ararat (1990), The Wild Iris (1992), Meadowlands (1996), Vita Nova (1999), The Seven Ages (2001), October (2004), Averno (2006), A Village Life (2009), Faithful and Virtuous Night (2014) dan dua buku esai tentang puisi juga Proofs and Theories (1994) dan American Originality (2017).

Meski Robert Hass menyebut bahwa Glück merupakan penyair liris terbaik, namun pada awal kariernya, justru puisi-puisinya itu naratif dan beralegori. Khususnya pada buku Firstborn dan The House of Marshland.

Puisi-puisi Glück digadang-gadang punya napas yang sama dengan Sylvia Plath atau Emily Dickinson, sebagai puisi yang punya nuansa suram atau gelap. Mengutip Wendy Lesser dari Washington Post, “Bahasa Glück itu luas sekali, pengetahuannya akan bahasa membuat puisinya seperti kata-kata yang sering kita dengar setiap hari. Pemilihan diksinya cermat dalam pengoptimalan tempo dan repetisi. Namun karena yang biasa dieksekusi dengan pengetahuan dan keterampilan yang ciamik itulah membuat puisinya terasa beda.”

Selain ciri khas puisi yang terkesan gelap-gelap, pengetahuan serta keterampilannya mengolah bahasa, Glück juga mengolah penafsiran ulang mitologi Romawi dan Yunani. Rasanya seperti Dickinson, bukan? Tapi rasanya beda, mungkin bisa dicoba dengan membaca The Triumph Of Achilles, Ararat, Averno dan Meadowlands. Glück sendiri mengatakan, kalau pembaca yang baru kenal dengan dirinya, sebaiknya mulai dengan membaca Averno dan Faithful and Virtuois Night.

Khusus untuk Averno, buku ini memuat kumpulan puisi yang merupakan interpretasi Glück atas mitos Persephone yang harus menjalani hukuman di neraka milik Hades, sang dewa kematian. Judul buku ini pun diambil dari nama danau di sebelah barat Napoli yang dianggap orang Romawi Kuno sebagai pintu gerbang menuju neraka.

Sementara pada Faithful and Virtuous Night, Glück menulis dalam esainya “Distruption Hesitation, Silence” (1994) bahwa, “Banyaknya informasi dalam puisi bukan berarti puisinya semakin kaya. Saya lebih tertarik menggunakan elipsis, sesuatu yang tak terucapkan, yang bisa dirasa dari sugesti saja, seperti keheningan yang disengaja tapi kita tahu apa artinya itu. Sesuatu yang tidak terucapkan adalah kekuatan besar bagi saya. Terkadang saya berpikir kalau seluruh puisi bisa dibuat dari satu kata ini (unsaid).”

Sebagian besar puisi lirik berbahasa Inggris mencari bahasa untuk akhiran atau kesan akhir, seperti; ratapan, berkabung, protes akan kematian, atau ketidakadilan. Sastra Amerika kontemporer menawarkan wacana-wacana yang lebih kuat daripada yang tadi; Gerakan Kaum Kulit Hitam dan efek-efek perubahan iklim kepada manusia dan juga alam. Dalam pijakan ini, puisi Glück memainkan peran untuk mengekspos dunia yang hancur berantakan, amburadul dan ambyar ini dengan memberikan semacam siluet. Misal, pada puisi berjudul  “Oktober” dari kumpulan puisi Averno ini:

Ini dia sinar dari musim gugur
Yang menghidupkan kita kembali
Sungguh sebuah kehormatan untuk melihat akhir semua ini
Dan aku di sini masih yakin saja
Pada yang tak yakin

Sang penulis terikat untuk percaya bahwa ada sesuatu yang baru, seperti ditakdirkan untuk selalu mempelajari kembali terkait kehancurannya sendiri.

Puisi-puisi Glück seakan bertanya: Mengapa bersama kalau nanti terpisah? Kenapa berharap pada sesuatu yang tambal sulam? Dan berharap pada kebun-kebun yang sering hilang hasilnya? Jadi, puisi Glück berawal dari optimisme, meskipun sudah tahu bahwa kesedihan akan datang. Seperti ingin “dikejutkan oleh ketidakpastian dunia ini”.

Di negaranya, Louise Glück telah meraih pelbagai penghargaan, di antaranya National Book Award, Pulitzer, National Book Critics Circle Award, Boston Globe Literary Press Award, Poetry Society of Americas Melville Kane Award. Selain menulis puisi, Glück juga menulis esai, Proofs and Theories Essays On Poetry (1994), bukunya ini memenangkan PEN/Martha Albrand Award.

Dalam sebuah wawancara singkat singkat kepada Komite Nobel di The Guardian, Glück menuturkan, “Pikiran pertama saya adalah, saya tak akan pernah punya teman karena kebanyakan di antara mereka itu penulis. Namun kemudian saya berpikir, ah, itu tidak mungkin. Ini terlalu dini, tahu. Sebuah kehormatan tentunya untuk dapat menerimanya.

“Ketika saya masih muda, dan menjalani hidup sebagaimana menjadi penulis, menantang dunia dan dengan angkuh memberikan semuanya untuk sastra. Saya baru saja duduk di Provincetown, di depan meja dan hal tersebut tentu mengerikan. Semakin lama saya duduk dan tidak menulis, semakin saya berpikir bahwa saya belum cukup menyerah kepada dunia. Selepas dua tahun di sana, saya sampai pada kesimpulan bahwa saya tak akan bisa menjadi seorang penulis. Jadi saya kerja, mengajar di Vermont, meskipun saya telah menghabiskan hidup untuk berpikir bahwa penyair itu tak perlu mengajar. Tapi saya mengambil kesempatan itu, dan begitu saya mulai mengajar, begitu juga saya mulai menulis lagi.”

Sumber:
Poetry Foundation
The Atlantic
Academy of American Poets
The Guardian

Rafqi Sadikin

Rafqi Sadikin

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, bergiat di ASAS UPI.

All stories by:Rafqi Sadikin
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.