Mata Permata

820 820 Evi Sri Rezeki

Pertalian Permata dengan matanya persis seperti ia dan Lewi. Sejenis hubungan pelik yang menggairahkan sekaligus menyakitkan. Keduanya sama-sama cerdas, berprestasi, memiliki wajah yang sedap dipandang, dan terutama pancaran cinta dari mata mereka sungguh menerbitkan iri setiap orang. Seperti apel merah yang digerogoti ulat buah dari dalam.

Permata mengasihi Lewi sebagaimana ia menyayangi matanya sendiri. Ia punya ribuan alasan buat mencintai kekasihnya, begitu pula dengan sepasang bola yang mengisi rongga di wajahnya. Matanya memikat: besar, bersinar, jernih, dan hidup. Namun ia punya dalih besar untuk membenci matanya sebegitu rupa terutama saat tertekan seperti sekarang.

“Siapa nama lelaki itu?” Tanya Lewi sembari meraih rokok dan korek gas di atas meja. Sebentar kemudian terdengar bunyi keletak-keletik tembakau terbakar.

Tanpa perlu mengangkat wajah, Permata dapat memastikan mata kekasihnya berubah menjadi dua buah peluru yang diarahkan kepadanya. Siap melesat ke mana pun ia pergi membuatnya seakan diancam maut. Tangannya dingin berkeringat.

“Arya,” cicit Permata ditengarai gumam pendek Lewi.

“Dan apa hubunganmu dengannya?”

“Kami hanya teman. Dia mengajakku mengerjakan sebuah proyek.”

Lewi bergumam agak panjang. Kali ini Permata memberanikan diri untuk menatapnya. Sorot mata lelaki itu sungguh tak tertanggungkan. Dari mata itu pula Permata dapat membaca dengan jelas ketidakpercayaan. Permata meneguk kopinya dengan frustrasi.

“Lalu mengapa kamu tidak mengajakku bertemu dengannya?”

“Lupa. Aku terlalu bersemangat dengan proyek itu.”

Permata membuang pandangannya ke gelas kopi yang telah kosong.

“Lihat mataku, Ta.”

Mau tak mau Permata mesti menuruti permintaan kekasihnya sembari berdoa matanya tak berkhianat. Apa yang ia temui dari tatapan Lewi tak ubahnya kelap-kelip sirine polisi saat mengejar buronan.

“Mataku tidak berkedip dari tadi. Artinya aku serius dan tidak menyimpan kebohongan. Sementara matamu…”

“Maksud kamu apa? Kamu tidak percaya padaku?”

Mata Lewi dan Permata saling menikam. Meski sikap Lewi tetap tenang, Permata dapat menangkap kilatan api yang segera berkobar melalapnya hidup-hidup.

“Percaya!”

Bohong! Baik mata Permata ataupun Lewi sama-sama berkhianat. Ketika dusta terkuak, yang dibaca maupun yang membaca sama-sama terluka. Mata manusia begitu jujur. Dari semua perangkat tubuh manusia hanya mata yang menolak dimanipulasi. Mengapa mata tidak mau berlaku selayaknya anggota tubuh lain seperti mulut, hidung, telinga, atau jerawat yang tumbuh di pipi Permata?

Kerap kali Permata berkhayal ia hidup di zaman ketika manusia sudah menyadari bahwa kejujuran mata adalah kesia-siaan belaka. Di dunia itu, bayi-bayi lahir dari kuncup-kuncup bunga, dibesarkan dalam air, disusui udara, diberi makan cahaya. Yang paling penting, manusia saling mempercayai satu sama lain. Mata, si pengkhianat itu enyah selamanya. Setiap orang boleh memilih bahan untuk matanya. Besi, kuningan, perak, platina, pladium, emas, atau permata. Tentu saja ia akan memilih permata sebagai matanya. Alangkah bahagia mempunyai mata yang dipotong secara presisi, dikikir sangat hati-hati sehingga menciptakan cahaya mengagumkan.

“Ta, kita ini sepasang kekasih,” ucap Lewi sembari meremas kedua tangan Permata. Perlakuan lembut itu merenggut paksa kesadaran Permata. “Tidak seharusnya kita punya rahasia. Kita mestinya saling menghormati. Aku percaya kamu tidak akan macam-macam dengan lelaki itu. Tapi bagaimana seandainya ada teman-teman kita yang lihat kamu bersama lelaki itu dan bilang padaku. Apakah aku harus berkilah pada mereka bahwa aku tahu?”

Mercusuar di mata Lewi memberi sinyal kebalikan dari mulutnya.

“Aku minta maaf.”

“Mengapa kamu tidak mau mengajakku bertemu lelaki itu?”

Pertanyaan itu lagi! Kejadian begini sudah terjadi berulang-ulang. Permata sudah fasih dengan perdebatan yang tiada habisnya. Seharusnya Lewi tahu alasan sesungguhnya mengapa ia malas melibatkannya dalam setiap pertemuan.

Karena aku letih dengan sikapmu yang dominan. Setiap kali bertemu kawan lelakiku, kamu akan berlaku sebagai jawara yang menantang kehebatan pesilat lain. Mau tak mau aku harus berperan sebagai wasit. Tentu saja ucapan itu hanya bergaung di kepala Permata. Bukan sekali dua kali ia berkata seperti itu. Dan Lewi tetap tidak puas.

“Karena aku benar-benar lupa.”

Permata menjaga kedip di matanya kendati pun sandi morse kebenaran tetap dikirimkan. Ah, mata celaka! Kapan mata akan bangun dari ilusi? Kejujuran mata seringkali disalahpahami karena manusia tak sungguh-sungguh ingin membaca hati sesamanya. Boleh dibilang kejujuran semacam racun yang mematikan. Manusia tidak pernah benar-benar menginginkan kejujuran. Bukankah manusia hanya ingin mengetahui dan mendengar apa yang ingin mereka dengar dan ketahui? Mata hanyalah penghalang dari dunia penuh kepercayaan.

Sinar mata Lewi berubah bak sirene ambulans yang mengangkut orang sekarat saat mengenali sandi morse dari mata Permata. Lelaki itu dengan cepat menyergah Permata. Sementara Permata sudah tak peduli dengan apa yang diucapkan kekasihnya. Pikirannya terbang ke dasar goa gelap rongga matanya. Berharap rongga itu berisi sesuatu yang keras, berkilau, dan presisi.[]

Evi Sri Rezeki

Evi Sri Rezeki

Blogger. Novel terbarunya Babad Kopi Parahiyangan akan segera terbit. Dapat ditemui di www.evisrirezeki.com.

All stories by:Evi Sri Rezeki
Leave a Reply

Evi Sri Rezeki

Evi Sri Rezeki

Blogger. Novel terbarunya Babad Kopi Parahiyangan akan segera terbit. Dapat ditemui di www.evisrirezeki.com.

All stories by:Evi Sri Rezeki
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.