Lomba Baca Puisi Ayam Cup ASAS UPI

671 504 Zulkifli Songyanan

Ada banyak cara untuk membuat apresiasi terhadap karya sastra—dalam hal ini puisi—terasa lebih gembira. Arena Studi Apresiasi Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (ASAS UPI) melakukannya dengan menggelar kejuaraan Ayam Cup.

Penonton Lomba Baca Puisi Ayam Cup ASAS UPI. (Foto: Karin Tania)

Penonton Lomba Baca Puisi Ayam Cup ASAS UPI. (Foto: Karin Tania)

Ayam Cup adalah lomba baca puisi yang digelar ASAS UPI setiap tahun. Dibanding kegiatan sejenis pada umumnya, Ayam Cup terbilang cukup unik karena mengharuskan setiap peserta yang mengikuti acara ini untuk membacakan puisi yang mereka tulis sendiri.

Faktor juri pun memberi warna tersendiri dalam Ayam Cup. Juri yang menilai dan memutuskan juara Ayam Cup haruslah orang yang sama sekali merasa awam terhadap karya ataupun pergaulan sastra. Hal ini dilakukan demi mengukur sejauh mana sebuah karya—baik dalam bentuk tulisan maupun pembacaan—dapat dinikmati dan dianggap menarik oleh orang-orang di luar lingkungan sastra.

Tahun ini Ayam Cup digelar pada 18 Oktober lalu di halaman Sekretariat Kompor dan Teater Lakon UPI. Acara yang diikuti oleh 40 peserta ini untuk pertama kalinya dimenangkan oleh dua orang sekaligus, Fajar R. Ramadan (15) dan Windaningsih (19). Kedua pemenang sama-sama mendapatkan nilai 90 dari juri. Adapun yang bertindak sebagai juri pada turnamen Ayam Cup kali ini adalah Ade Junali, ketua UKM silat Tajimalela UPI.

Windaningsih (kiri) dan Fajar R. Ramadan (kanan).  (Foto: Karin Tania)

Windaningsih (kiri) dan Fajar R. Ramadan (kanan). (Foto: Karin Tania)

Pemenang Ayam Cup mendapatkan seekor anak ayam dari panitia plus uang pemeliharaan ayam dari Bapak Ramdan Saleh (pengajar di SD Al Azhar, Bandung). Dengan hadiah demikian, pemenang Ayam Cup mendapat kewajiban untuk memelihara ayam yang mereka dapat sampai ayam tersebut tumbuh besar dan siap disajikan sebagai hidangan pada gelaran Ayam Cup berikutnya.

Tahun lalu, Ayam Cup dimenangkan oleh Yussak Anugrah. Juri Ayam Cup saat itu adalah Deden M. Sahid (waktu itu masih menjabat sebagai Presiden Republik The Panasdalam Serikat) dan Dinda Putra Gemilang, seorang pedagang biji kopi dari Banjaran.

Ayam Cup pertama kali digagas oleh Dian Hardiana sebagai wadah silaturahmi dan ruang kreatif bagi seluruh anggota ASAS UPI. Dalam perkembangannya, acara ini dibuka untuk kalangan yang lebih luas. Sang juara sendiri, Fajar R. Ramadan, bahkan masih tercatat sebagai siswa kelas XI SMA I Lembang. Sementara Windaningsih adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI angkatan 2014. Keduanya belum tercatat sebagai anggota ASAS. Selamat!

Puisi Pemenang Ayam Cup ASAS UPI

Fajar R. Ramadan
PAYA

Di tempat ini
Yang terlihat hanya masa silam.
Bau busuk, bau mayat, dan bau ketek naga
Masih tercium dan terbayang.

Di tempat ini
Yang terlihat hanya masa silam.
2 tahun lalu
Kabut pekat muncul
Kabut dari dada yang membara.
Sedang di langit
200 awan turun menunggang kuda
Lalu menyergap manusia
Dan menggantung leher mereka.

Tapi Tuhan hanya diam saja
Meski menurunkan 20 malaekat
Untuk mensucikan manusia.

(Di langit
Turun sekelompok naga
Menyeret awan berkuda
Memakan seluruh bangkai manusia).

Angin bertiup ribut sekali
Menggelindingkan setiap kepala yang mati.
Sementara aku hanya melihat
Danau darah
Pegunungan mayat-mayat.

Inilah masa silam yang tampak
Dalam pikiranku.
Tempat ini adalah Paya
Nama seekor naga
Yang menghabisi seluruh awan berkuda.

2014

Windaningsih
MIRIS

Kulihat televisi
Banyak pemimpi tak mendengarkan petisi
Sibuk dengan kesenangan sendiri
Meraup keegoisan yang harus dihabisi.

Saat petani tak dihargai
Buruh tak disapa
Anak jalanan berkeliling kota
Mencari nikmat hidup.

Apa arti dunia ini
Jika untuk berlomba mencari harta
Tanpa memikirkan saudaranya
Tanpa melihat sekitarnya.

2014
***

Sumber foto: Karin Tania (ASAS UPI)

 

 

 

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.