Literasi: Dekat, Tapi Tak Tersentuh

820 820 M. Aden Ma'ruf

Literasi di Indonesia barangkali kata yang dekat, tapi sulit tersentuh. Seperti buku yang telah dibeli sejak lama dan belum akan dibaca—mungkin tidak pernah sama sekali. Sesering apapun pidato, seminar, dan diskusi tentang pentingnya literasi, sesering itu juga literasi berakhir.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik tahun 2018, sebanyak 3,29 juta orang atau 1,93 persen dari total populasi penduduk Indonesia masih buta aksara. Adapun beberapa daerah merupakan daerah padat buta aksara seperti Papua 22,88 persen, Sulawesi Selatan 4,63 persen, Sulawesi Barat 4,64 persen, Nusa Tenggara Barat 7,51 persen, Nusa Tenggara Timur 5,24 persen, dan Kalimantan Barat 4,21 persen. Hal ini menunjukkan minat baca di Indonesia masih belum merata.

Sedangkan, berdasarkan hasil Programme for International Student Assesment (PISA) 2018, program penilaian internasional siswa yang salah satunya melakukan asesmen terhadap kemampuan membaca siswa di negara peserta, skor rata-rata siswa Indonesia dalam membaca yakni 371. Angka ini masih rendah dari rerata kemampuan baca negara-negara peserta lain yaitu 487. Bahkan, skor terbaru yang diraih Indonesia masih menunjukkan penurunan sejak tahun 2009.

Apa yang salah? Banyak variabel yang menentukan. Tapi, buku tipis berjudul Literasi Episentrum Kemajuan, Kebudayaan, dan Peradaban karya Guru Besar Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono (Pelangi Sastra, 2019) bisa sedikit menggambarkan dan barangkali menggerakkan pentingnya memiliki kesadaran literasi.

Kesadaran memang diperlukan dalam literasi, meski pada praktiknya literasi adalah kerja baca-tulis agar tumbuh daya kreatif dan kritis. Kesadaran, sedikit sekali yang terjadi secara organik dari pembiasaan atau pembiaran. Ia lebih banyak sistemis atas kerja-kerja strategis yang konsisten. Baik organik maupun sistemis, keduanya sama-sama butuh waktu.

Inilah salah satu penyebab mandeknya proses literasi di Indonesia. Bukankah literasi selalu dipadupadankan dengan budaya? Sedang budaya sendiri berarti sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah.

Memberi penyadaran terkait apapun, apalagi terkait literasi, memang bukan pekerjaan mudah. Seperti seseorang yang paham seberapa penting cuci tangan untuk kesehatan, tidak mudah menyadarkan orang lain melakukan hal yang sama. Begitu juga literasi.

Hal ihwal pentingnya literasi harus digambarkan sebagai bentuk awal penyadaran. Ungkapan “Buku adalah jendela dunia” kini bisa diperdebatkan dengan hadirnya mesin pencari. Bahkan, ungkapan “Kalau nggak baca jadi polisi” yang viral beberapa waktu lalu, malah jadi guyon atau sumbu konflik baru, sedang “si” literasi tidak bergerak sama sekali.

Saryono dalam bukunya itu memberi gambaran umum tentang pentingnya literasi. Bahkan, digambarkannya posisi literasi yang berkait dengan kemajuan sebuah negara. Di Indonesia sendiri, literasi sebagai sebuah kerja intelektualitas pernah menemui masa jayanya kala perjuangan kemerdekaan—pada fase ini jadi penting adanya kata kritis dalam kerja literasi.

Kemerdekaan Indonesia, tidak hanya diraih dari kerja-kerja politik dan perang dengan penjajah. Para Founding Father kita juga melahirkan tulisan-tulisan yang mampu memantik kesadaran bergerak meraih kebebasan.

“Orang-orang seperti Soetomo, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, Ki Hajar Dewantara, dan sebagainya merupakan pengembang tradisi baca-tulis yang luar biasa dalam konteks negara-negara bangsa Indonesia. […] Literasi mereka gunakan sebagai jalur perjuangan. […] Bagi kaum kolonialis Belanda tulisan-tulisan mereka menyengat saraf para kolonialis sehingga membuat kolonialis murka,” (Saryono; 2019).

Dengan begitu, Indonesia sebenarnya tidak kosong-kosong amat terkait literasi. Literasi punya kisah cemerlang. Hanya saja, proses penyadaran bermodal keberhasilan hanya jatuh pada romantisme semata.

Saryono dalam satu bab khusus menelisik menurunnya proses literasi di Tanah Air. Dalam bab berjudul “Involusi Tradisi Baca-Tulis”, ia menandai periode 1960-an sebagai awal menurunnya literasi. Beberapa bahasan dalam bab tersebut, pertama, tingginya penerbitan buku yang tidak diimbangi dengan kreativitas dan kekayaan isi. Kedua, kerja media massa yang mendangkalkan pemberitaan dan hanya berorientasi pada kecepatan. Ketiga, peran teknologi yang menempatkan masyarakat pada budaya lisan dan visual. Keempat, bagaimana pemerintah dan masyarakat sendiri membatasi bacaan.

Saya ingin menekankan satu hal dalam buku Saryono yang menyebut Ujian Nasional salah satu penghambat literasi di sektor pendidikan. Bukunya ditulis tahun 2019, lalu setahun kemudian pemerintah mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum yang mana salah satu indikatornya adalah literasi. Ini momentum. Hanya saja masih harus dinantikan pelaksanaannya, mengingat program dan kebijakan pada tataran ide selalu terasa manis.

Menjadi menarik Saryono menempatkan sastra sebagai cara dalam membudayakan literasi. Bahkan, ia menyediakan bab khusus untuk ini. Bagaimana bisa? Pembaca bisa menemukannya sendiri pada bab terakhir buku dan menyebarkan apa yang didapat dari buku ini. Baik itu kelebihan dan kekurangan—salah satunya hal-hal teknis perihal penyuntingan.

Tentu dengan membaca buku Literasi Episentrum Kemajuan, Kebudayaan, dan Peradaban, literasi tak akan meningkat begitu saja. Saya sangat mengapresiasi gerakan-gerakan peningkatan literasi khususnya yang lahir atas keresahan masyarakat. Dalam satu kesempatan, saya pernah sekali mengunjungi satu dusun daerah di Sumbawa. Lokasinya di puncak sebuah bukit dengan fasilitas listrik yang minim. Di sana saya menyaksikan para orang tua kesulitan mengeja satu demi satu huruf. Mereka belajar dan mencoba di tengah nyala lilin.

Gerakan-gerakan semacam ini penting untuk bertahan dan tumbuh sebagai upaya melahirkan kesadaran. Tapi, kegiatan-kegiatan seperti ini butuh dukungan. Butuh keberpihakan. Sebab literasi di Indonesia barangkali kata yang dekat, tapi sulit tersentuh.

Identitas Buku
Judul           : Literasi Episentrum Kemajuan, Kebudayaan, dan Peradaban
Penulis        : Djoko Saryono
Penerbit     : Pelangi Sastra, 2019
Tebal           : 91 halaman
ISBN             : 9786025410130

M. Aden Ma'ruf

M. Aden Ma'ruf

Redaktur Umum buruan.co. Menulis puisi dan cerpen. Hobi menonton film.

All stories by:M. Aden Ma'ruf
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.