Kisah Cinta yang Melampaui Batas Nalar

702 336 buruan

Catatan Tim Pustaka Buruan.co

jatuh-cinta-cover-depanJudul: Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 979-780-771-1
Cetakan: Pertama, 2014
Harga: Rp50.000,-

 

Membaca kumpulan cerpen Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (Gagas Media, 2014) karya Bernard Batubara dapat membuat kita semakin yakin bahwa cinta dapat mengakibatkan berbagai hal terjadi di luar batas nalar.

Bernard menyajikan lima belas cerpen yang bukan sekadar menuturkan cerpen bertema cinta, tetapi ia menuturkan setiap kisah—lantaran cinta—dalam beragam karakter dan situasi. Setiap tokoh dalam cerpen-cerpennya memiliki karakter yang unik. Tokoh-tokoh ceritanya diberi cara juga situasi yang melampaui batas nalar dalam kisah cinta mereka masing-masing.

Dalam kumpulan cerpen ini, Bernard tampak tidak ingin menyampaikan cerita hanya dengan tokoh manusia biasa saja. Ia mencoba lebih dari itu. Tokoh-tokoh tidak biasa itu bisa kita baca pada cerpen “Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah”, “Nyanyian Kuntilanak”, “Seorang Perempuan di Loftus Road”, “Hujan Sudah Berhenti”, “Seribu Matahari untuk Ariyani”, “Bayang-Bayang Masa Lalu”, “Nyctophilia”, dan “Jatuh Cinta Adalah cara Terbaik untuk Bunuh Diri”.

Pada delapan cerpen tersebut, Bernard menitipkan simbol-simbol yang menggelitik untuk ditafsirkan pada tokoh-tokohnya yang tidak biasa. Gadis dengan wajah tak sempurna pada cerpen “Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah”, kuntilanak pada “Nyanyian Kuntilanak”, pohon yang menjadi manusia pada “Seorang Perempuan di Loftus Road”, seorang anak yang mampu berbicara dengan hujan pada “Hujan Sudah Berhenti”.

Atau, seorang anak yang memiliki kelainan pada “Seribu Matahari untuk Ariyani”, manusia berusia panjang pada “Bayang-Bayang Masa Lalu”, seorang transgender pada “Nyctophilia”, serta dewa yang ingin bunuh diri demi menjadi manusia pada “Jatuh Cinta Adalah cara Terbaik untuk Bunuh Diri”.

Jika ada tokoh manusia normal dalam cerita, maka Bernard akan memberi situasi atau kejadian tidak wajar dalam kehidupan tokoh dalam cerpennya itu. Seperti dapat kita baca pada cerpen “Bayi di Tepi Sungai Kayu Are”, “Langkahan”, “Meriam Beranak”, “Lukisan Nyai Ontosoroh”, “Orang yang Paling Mencintaimu”, “Bulu Mata Seorang Perempuan”, serta “Menjelang Kematian Mustafa”.

Kejadian atau situasi tidak wajar yang dibangun Bernard itu bukan sekadar tempelan belaka. Tetapi menjalin sebuah alur yang menopang keutuhan cerita. Hadirnya bayi yang terlahir dari pohon pada cerpen ““Bayi di Tepi Sungai Kayu Are”, permintaan berlebihan yang menimbulkan penyesalan pada “Langkahan”, sugesti yang lahir dari sebuah lukisan pada “Lukisan Nyai Ontosoroh”.

Juga, hubungan cinta yang rumit pada “Orang yang Paling Mencintaimu”, pertemuan yang menarik ingatan pada masa lalu pada “Bulu Mata Seorang Perempuan”, serta seorang ayah yang hampir mati di tangan anaknya sendiri pada “Menjelang Kematian Mustafa”.

Meski, Bernard menyuguhkan cerpen-cerpennya dengan tokoh dan situasi di luar nalar, latar belakang penciptaan karyanya tampak tetap berakar pada realitas konvensional. Ia mampu menjalin intertekstualitas karyanya dengan teks lain yang telah ada sebelumnya secara telaten sebagai sebuah cerita baru.

Seperti pada cerpen “Nyanyian Kuntilanak” yang diangkat dari folklore sejarah kota Pontianak, lalu pada “Seribu Matahari untuk Ariyani” yang sangat besar kemungkinan diserapnya dari isu kekerasan seksual terhadap anak yang marak negeri ini, atau cerpen “Lukisan Nyai Ontosoroh” yang berangkat dari pengalamannya membaca tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Begitu pula dengan cerpen-cerpen lainnya yang pasti tidak begitu saja tercipta. Jika ditelusuri lebih jauh, cerpen-cerpennya berhubungan dengan teks yang berkelindan dalam kehidupan sehari-hari. Cerita-ceritanya mungkin menembus batas nalar, tapi pijakannya tetap mantap membumi—dari persoalan yang sangat mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia normal pada umumnya.

Walau memang, bisa saja tokoh dan situasi yang dihadirkan oleh Bernard tidak dapat diterima oleh akal sehat pembaca. Akan tetapi, anehnya kita akan sulit untuk menolaknya. Kepiawaian Bernard dalam bercerita mampu menepikan hal-hal tak masuk akal menjadi sebuah kisah yang utuh.

Bernard cukup lihai dalam menciptakan imaji bertaji bagi pembaca kumpulan cerpennya ini. Ia mampu mengontrol indera pembaca dengan kemampuan menuturkan setiap ceritanya. Ketika kita membaca cerpen-cerpen Bernard, gambaran kehidupan dalam kisah yang ditulisnya itu cukup sulit disangkal kehadirannya. Kelima belas cerpennya itu seolah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

Bernard Batubara lahir di Pontianak, 9 Juli 1989. Karya-karya lainnya yang sudah terbit antara lain: Angsa-Angsa Ketapang (2010), Radio Galau FM (2011), Kata Hati (2012), Milana (2013), Cinta (2013), serta Surat untuk Ruth (2014).[]

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
Leave a Reply

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.