Ketika Hujan Datang

820 820 Armin Bell

Kau jengkel, sebab setelah seluruh kerepotan yang harus kau lalui dalam tiga puluh menit harus segera siap, hujan turun deras sekali. Kau tak jadi berangkat dan berarti kau telah dua kali tak memenuhi janji—kesempatanmu hanya tinggal sekali lagi. Kau rutuki semua: jaringan seluler yang buruk sepanjang hari dan baru beres sejam yang lalu, air PDAM yang macet, kebiasaanmu menghabiskan sebatang rokok di toilet sebelum memulai seluruh pekerjaan membersihkan diri, doa yang tidak pernah dikabulkan segera.

Kau heran bahwa beberapa orang yang kau kenal mengagumi hujan. Mereka menulis puisi tentang hujan, merayu kekasih mereka dengan kalimat aneh: “jika kau berhasil menghitung tetes hujan yang kau lihat di luar jendela kamarmu maka kau akan tahu sebanyak itu rinduku padamu”. Mandi hujan, mengajakmu bersyukur karena hujan adalah anugerah yang dikirim Tuhan dari langit. Bagaimana mungkin? Pikirmu. Dan kau, kepalamu, isi kepalamu (tentu saja) dengan segera menjadi kacau: aku berdoa agar tidak turun hujan tetapi hujan adalah anugerah dari Tuhan?

Petir menyambar. Kau menutup kuping agar dirimu nyaman sebelum kemudian merasa bahwa itu sia-sia. Tak seorangpun dapat selamat dari sambaran petir hanya dengan menutup telinga. Telepon selulermu berdering. Dia memanggil. Kau abaikan saja, sebab sedang memikirkan alasan agar dia percaya bahwa kau tidak pernah sengaja tak datang. Karena hujan? Tidak. Kau tak akan memakai alasan itu. Siapakah yang rela kehilangan ciuman hanya karena tak berani menembus badai? Panggilan itu berakhir. Kau lega. Tetapi itu tak lama, karena dia memanggil lagi. Kau tak akan membiarkannya mencoba hingga kali ketiga sebab itu berarti kiamat.

“Hai…”
“Tidak jadi datang?”
“Banjir di kompleks. Aku harus selamatkan buku-buku ini.”

Kau bersyukur karena merasa Tuhan menempelkan jawaban itu di mulutmu sekaligus heran sebab tak pernah meminta itu dalam doa-doamu. Kau selalu merasa risih setiap kali mendengar seseorang berdoa agar dirinya (atau anak-anak mereka) dikaruniai kecerdasan. Tetapi, kau tahu itu jawaban yang cerdas. Dia mengagumi buku-bukumu dan berharap, kelak ketika kalian hidup bersama—setelah kau lulus dalam semua ujian yang dia siapkan—dan tinggal serumah, dia dapat merawat: mengusir debu-debu yang menempel sambil sesekali menyemprotkan cairan pengusir ngengat agar buku-buku itu panjang umur.

***

Kau dengar suaranya bergetar ketika mengucapkan “hai…”. Kau tanyakan kepadanya apakah dia akan datang. Dia jawab, dengan suara yang tetap terdengar gemetar, dengan kabar yang segera membuatmu gentar: nasib buku-bukunya terancam.

“Kalau begitu, nanti saja. Selamatkan buku-buku itu dahulu,” kau katakan itu sembari melihat langit-langit kamarmu. Rembesan hujan mulai terlihat.

***

Seorang lelaki bangkrut setelah pernikahannya gagal. Istrinya mengajukan cerai dan dia kehilangan banyak hal hanya dalam waktu yang singkat. Lebih singkat dari seorang lelaki paruh baya meyakinkan istrinya, bahwa masa lalunya adalah bagian yang telah dia lupakan sepenuh-penuhnya. Sudah pasti jauh lebih singkat. Lelaki itu mengasing, membawa seluruh buku dari perpustakaan pribadinya dan membangun rumah dari buku-buku itu.

Kau ceritakan itu padanya, ketika semangatnya sedang berapi-api. Saat itu, kau lihat matanya mengandung sesuatu yang kau sebut dengan cahaya surga. Ia mengagumi koleksi buku-bukumu dan menggumamkan sesuatu tentang bagaimana dia mencintai buku-buku, tetapi tak pernah mampu membeli buku-buku itu. Sebab bedak, pensil alis, dan hal-hal sejenisnya adalah kebutuhan utamanya. Apakah kau akan melakukan itu pada buku-bukumu? Dia tanyakan itu. Hujan telah tiba di ujung dan menyisakan gerimis, sebentar lagi selesai. Berarti kau harus segera mengantarnya pulang—kau tak bisa mengantarnya menerobos hujan karena akan merusak maskaranya. Kau tertawa saat itu, membayangkan kemungkinan kau menjadi Carlos Brauer—lelaki di novel tipis berjudul Rumah Kertas, tetapi memikirkannya sekarang: kau akan berakhir dengan buku-buku itu jika tak berhasil mendapatkannya.

Kau keluar, menerobos hujan, melupakan bahwa hujan sedang turun deras sekali. Kau pacu sepeda motormu. Kau ingin melamarnya segera, sebelum dia menjadi model yang lebih terkenal lagi. Kau daraskan doa. Dia mengangguk, lalu menciummu lama.

***

Kau tutup Sergius Mencari Bacchus, buku puisi yang kau pinjam dari perpustakaannya. Masih banyak buku yang hendak kau pinjam. Kau berharap tidak harus meminjam lagi sebab kau menginginkan, bahwa suatu saat, secepatnya, kalian akan hidup bersama. Kau lihat langit-langit kamarmu. Rembesan hujan itu. Kau rutuki semua. Jaringan seluler yang buruk sepanjang hari dan baru beres sejam yang lalu. Sedang kau, sejak pagi, ingin menciumnya tetapi tak tahu cara lain mengiriminya pesan. Dan kau telah lama percaya, bahwa doa tak akan dijawab sedetik setelah didaraskan. Kau merindukannya. Seseorang yang: ketika hujan datang/ dan ia sedang di rumah/ ia naik, dan memasuki kamar ini/ untuk memastikan tak ada rembesan pada langit-langit1.

Pintu diketuk. Keras sekali, sebab yang melakukannya sedang berjuang melawan gemuruh hujan.

“Buku-bukumu?”
“Aku bisa beli lagi. Nanti. Aku tak ingin membatalkan janji.”

Kau dengar itu dan merasa perih, sebab kau lihat matanya, dan tahu dia bersedih.

***

Kau semakin yakin: hujan buruk sekali. Dalam perjalanan, kau lihat pohon besar tumbang menimpa pipa PDAM. Kau basah kuyup. Rokok di kantongmu juga.

***

Kau segera mengerti, perlu waktu yang lama sekali agar dapat berdiri bersamanya di depan altar, berjanji sehidup-semati.[]

 1Puisi “Cinta” karya Norman Erikson Pasaribu (Sergius Mencari Bacchus, 2016)

Armin Bell

Armin Bell

Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng.. Kumpulan cerpennya berjudul “Perjalanan Mencari Ayam” (Dusun Flobamora, 2018).

All stories by:Armin Bell
Armin Bell

Armin Bell

Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng.. Kumpulan cerpennya berjudul “Perjalanan Mencari Ayam” (Dusun Flobamora, 2018).

All stories by:Armin Bell
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.