MENU
badrul-mustafa

21 Agustus 2017 Catatan

Ketika Badrul Mustafa Singgah di Toco

Dengan ciamik, Faisal Syahreza -novelis cum selebgram- membacakan puisi berjudul “Menunggu Pendekar Masuk Gelanggang” karya Heru Joni Putra (HJP) dalam kumpulan puisi Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa (Nuansa Cendikia, 2017). Pembacaan puisi dengan cara didendangkan yang disajikan oleh Faisal ini, berhasil menyihir pengunjung yang hadir pada diskusi buku toco.buruan.co edisi ke #7 di pelataran Kebun Seni Bandung (sabtu, 19/08/2017).

Sore itu, setelah dibuka dengan pembacaan puisi acara dilanjutkan dengan diskusi buku yang dipandu mahasiswa UPI (penyair cum vespoets newbie) Adhimas Prasetyo, dengan menghadirkan dua pembicara; Ahda Imran (penyair yang “mengaku” sebagai duta kebudayaan minang luar biasa untuk Jawa Barat) dan Ahmad Faisal Imron (penyair sekaligus pelukis dari Bandung selatan).

Ahda Imran mulai membuka pembicaraan dengan menyorongkan hipotesa atas pembacaan kitab puisi Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa, bahwa HJP hendak menggunakan petatah petitih minang justru sebagai alat untuk melakukan perlawanan kaum muda terhadap yang tua. Apa dan siapa Badrul Mustafa juga salah satu hal yang dipertanyakan Ahda Imran, mengingat Badrul Mustafa selalu hadir dari 41 puisi yang terhimpun dalam kumpulan puisi HJP ini.

Sementara Ahmad Faisal Imron mencoba menelusuri siapa Badrul Mustafa dari silsilah nama. Menurutnya, nama menjadi salah satu pintu masuk untuk mempermudah memahami pembacaan kumpulan puisi pertama HJP ini. Meski dalam penelusurannya, Ahmad Faisal Imran kerap kesulitan karena ia kurang mengenal kebudayaan minangkabau.

Diskusi sore itu, yang didukung juga oleh Studiohanafi, semakin berwarna saat sesi tanya jawab mulai dibuka. Ari Jogaiswara mengawali sesi ini dengan mempertanyakan posisi penyair dalam menggugat kebudayaan minang dalam kumpulan puisi Badrul Mustafa. Lain lagi dengan Hasta Indrayana, ia berpendapat meski puisi HJP kental dengan petatah petitih minang tapi lebih mudah dimengerti karena cenderung tidak melakukan pemakaian kosakata ‘lokal’ minang yang berlebihan.

Pembahasan kitab puisi Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa kemudian terus berpusar pada kebudayaan minangkabau. Siapa sesungguhnya Badrul Mustafa serta bagaimana posisinya dalam kumpulan puisi HJP, terus mengemuka dan semakin intens digali untuk menemukan jawabannya oleh kedua pembicara.

Suasana diskusi semakin hangat meski langit perlahan mulai beranjak gelap. Pertanyaan maupun tanggapan dari pengunjung, disisipi candaan terus mengalir hingga maghrib benar-benar datang. Diskusi ini kemudian ditutup oleh Heru Joni Putra sebagai testimoni atas kelahiran puisi pertamanya. Acara benar-benar selesai ketika Deska Mahardika (ketua Lakon teater UPI) membacakan salah satu puisi dalam kitab puisi Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa diiringi oleh petikan gitar dari personil Indonesian Guitar Comunnity.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>