MENU

9 Mei 2017 Catatan

Kebun Baca Sarerea: Tempat Bukan Halangan Melakukan Perubahan

Kebun-Baca-Sararea

Tidak ada ruang besar yang cukup menampung 100 pengunjung. Tidak ada lemari atau rak. Buku-buku tertata dalam etalase. Pohon-pohon pun belum tinggi untuk menahan terik matahari. Bahkan pagar pun masih ditembok oleh tukang bangunan.

Itulah sedikit gambaran Kebun Baca Sarerea yang bertempat di Kampung Pangadegan Hilir RT 03 RW 02, Desa Pagelaran, Kecamata Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Untuk bisa sampai ke sana, kita masih harus menempuh tiga jam perjalanan dari alun-alun kota Cianjur.

Ruang terbatas dan letak yang jauh tak menyurutkan niat Usep Hamzah (Pendiri Kebun Baca Sararea) untuk menggelar kegiatan Sastra 2 Malam di Cianjur. Kegiatan tersebut diadakan pada Sabtu-Minggu lalu (6-7 Mei 2017).

Sastra 2 Malam di Cianjur mendatangkan beberapa pegiat literasi untuk membantu anak-anak mengenal buku. Hadirnya beberapa pegiat literasi tersebut untuk membagi keahliannya masing-masing bagi masyarakat setempat khususnya anak-anak. Pegiat literasi tersebut yaitu F. Rahardi, Sigit Susanto, Den Aslam, Ujianto Sadewa, Ubaidilah Muchtar, Ayi, Alex Atmadikara, Eddi Koben, Didin Tulus, dan Komunitas Perpustakaan Jalanan Karawang.

Anak-anak setempat begitu antusias ketika para pegiat literasi mengajarkan cara menulis puisi dan menggantungkannya bak jemuran. Gelak tawa pun pecah ketika para beberapa pegiat literasi menghibur mereka dengan sulap dan monolog novel metamorfosis karya Franz Kafka.

Diskusi Malam Hari
Sabtu malam, para pegiat literasi yang datang juga terlibat diskusi. Dimoderatori oleh ubaidilah Muchtar, diskusi berjalan menarik meski perbincangan yang bermula dari puisi mbeling melebar ke arah pariwisata yang berasal dari literasi.

pegiat

Kehadiran Sigit Susanto alias Kang Bondet yang tinggal di Swiss membuat diskusi semakin menarik. Beberapa kali pegiat literasi lain bertanya tentang perbedaan antara kondisi di Indonesia dan luar negeri. Sesekali Kang Bondet juga menceritakan tentang pengalamannya mengunjungi beberapa tempat di Eropa.

Ubaidilah yang menjadi moderator kadang juga mengubah ruang diskusi jadi ruang bagi pegiat literasi saling mengenal.

Tempat Bukan Halangan
Saya teringat Pramoedya Ananta Toer ketika berada di pulau buru. Dalam masa penahannya, Pram masih bisa menghasilkan karya. Atau ungkapan Dea Anugerah bahwa tidak ada hubungan kausal antara keberpihakan politis dan mutu karya dalam wawancaranya dengan Buruan.co oleh Zulkifli Songyanan (“Dea Anugrah: Jakarta Tidak Buruk-buruk Amat”) beberapa waktu lalu.

Dua hal tersebut tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Usep. Ia mendirikan Kebun Baca Sarerea agar anak-anak di lingkungan kampung halamannya memiliki wawasan yang luas. Meski, kebun baca tersebut hanya bisa ia tengok satu tahun sekali karena harus kembali ke Swiss.

Mengamati kondisi Kebun Baca Sarerea hari ini, menunjukkan bahwa tempat bukan halangan untuk melakukan sesuatu perubahan.[]

Foto: Ubai Muchtar

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>