MENU

21 Mei 2017 Teater

Karma Sawah:  Teater Organik sebagai Terapi

KW2

Karya seni lahir atas singgungan pencipta dengan lingkungan atau realitas. Masalah-masalah yang terjadi di sekitar seniman menjadi tema dan persoalan dalam karyanya. Baik personal atau universal.

Tema bersifat abstrak. Seniman kemudian membentuk tema tersebut lewat karya agar sampai kepada penikmat. Bentuk tersebut jelas harus mewakili tema, tapi tiap seniman memiliki imajinasi dan kreatifitas berbeda. Ada karya yang sengaja menyembunyikan tema dalam bentuk yang rumit untuk dipahami, tapi ada pula yang membuat penikmatnya paham apa yang dimaksud seniman.

Bentuk yang menarik dalam menyampaikan satu tema dilakukan sangat apik dalam pementasan “Karma Sawah” (1/5/2017) di halaman Kantor Kecamatan Wanayasa. Pementasan ini diselenggarakan oleh Sanggar Sukmasarakan yang langsung disutradarai oleh Ayi Kurnia Iskandar sebagai pendiri sanggar tersebut.

“Karma Sawah” mengangkat tema krisis identitas masyarakat pedesaan lewat permasalahan penjualan sawah yang marak terjadi. Bahkan, di Wanayasa—desa tempat tinggal Ayi—sawah adalah hal yang mulai sulit ditemui.

Dalam pementasan, sawah jadi penyebab lahirnya peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Ketika sawah dijaga dan dipertahankan para tokoh mendapatkan berkah dari sawah. Sebaliknya, ketika sawah dijual para aktor menderita musibah.

Suasana sawah dan pedesaan begitu kuat sepanjang 45 menit pementasan berjalan. Para aktor yang bertelanjang dada menampilkan tarian dan gerak tubuh yang mencerminkan kegiatan petani ketika di sawah. Mulai dari menanam sampai memanen padi. Macam-macam adegan permainan tradisional juga muncul dalam pementasan ini. Selain itu, dialog yang menggunakan bahasa sunda semakin memperkuat suasana desa dalam pementasan.

Ayi Kurnia saat berdiskusi seusai pementasan menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan hasil kerja kreatif para aktor mencipta peristiwa. Peristiwa-peristiwa dalam pementasan tidak berasal dari naskah. Aktorlah yang menghadirkan adegan. Ayi sebagai sutradara hanya mengarahkan dan menentukan bagian-bagian dalam pementasan.

Para aktor yang dalam pementasan ini masih tergolong aktor baru dan kebanyakan remaja tidak jadi menjadi kendala. Justru kelebihan pementasan ini hadir dari mereka. Bahkan, para aktor tak mengalami kesulitan meski harus beraksi di instalasi bambu.

KW1

Peristiwa-peristiwa yang kemudian lahir adalah hal-hal yang memang terjadi. Hal ini membuat masalah jadi dekat bagi para penonton yang kebanyakan warga Wanayasa. Selain permasalahan yang memang dekat, para penonton juga seolah menjadi pelaku dalam adegan.

Perasaan yang kemudian timbul dalam pementasan ini selaras dengan keinginan Ayi. Ayi menamai bentuk dari pertunjukan Karma Sawah merupakan bentuk ‘Teater Organik”. Disebut begitu karena teater yang ia hadirkan sebisa mungkin tidak memusingkan dan mudah dicerna pikiran para penonton. Maka, ia menghadirkan unsur-unsur pementasan yang dekat dengan penonton.

Karma Sawah sebagai Terapi
Pembangunan atau modernisasi seolah jadi antagonis dalam kehidupan pedesaan. Wajar saja karena pembangunan kadang tidak melihat ekosistem. Lebih parah jika kemudian keuntungan pembangunan tersebut hanya untuk pihak bukan masyarakat desa sendiri. Khusus untuk ekosistem, ketika sawah mulai berganti dengan pabrik, vila, dan perumahan hal itu berdampak pada berubahnya fisik dan psikis orang-orang desa. Cepat atau lambat.

Karya seni yang memuat kritik atas pembangunan tersebut menjadi penting. Ia bisa memicu kesadaran atas pentingnya menjaga keseimbangan antar pembangunan dan lingkungan khususnya di pedesaan. Bahkan untuk memantik kesadaran perlawanan atas segala bentuk kesenjangan sekalipun, karya seni mampu melakukan itu.

Itulah yang kemudian terjadi dalam pementasan “Karma Sawah”. Pementasan tersebut semacam terapi untuk menyadarkan masyarakat. Lewat pertunjukan itu, Ayi berupaya mengingatkan pada penonton agar menyadari lingkungan di sekitar mereka.

“Karma Sawah” sebagai terapi juga berlaku bagi para aktor pementasan. Usia mereka yang sedang dalam masa perkembangan dapat terarah dengan hadirnya kegiatan seni disekitar mereka.

Ayi Kurnia berkeinginan untuk terus menghadirkan pertunjukan-pertunjukan yang melibatkan warga. Khusus untuk “Karma Sawah”, Ayi berharap dapat mementaskan ini secara keliling. Tentu dengan permasalahan-permasalahan yang sesuai dengan tempat pementasan ini digelar agar “Karma Sawah” mampu terus hadir sebagai terapi.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>